Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
55 Karena Jomblo


__ADS_3

Freya dan Rei diam saja, meskipun begitu, wajah mereka menunjukkan hal yang tidak biasa.


Selesai makan, mereka langsung pulang tanpa mau repot membersihkan kamar apalagi mencuci gelas dan piring kotor.


"Seharusnya kamu tidak bicara seperti itu," ucap Ikmal.


"Aku tidak bermaksud menyindir siapa pun."


Tapi kata-kata yang sudah terucap tidak bisa ditelan lagi.


Nuna membaringkan tubuhnya di kasur. Memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Ponselnya berdering, panggilan masuk dari Dika.


"Apa?" tanya Nuna malas-malasan.


"Jalan yuk, Nun."


"Ayo."


"Hah, benaran?"


"Iya, ke mana?"


"Nonton, yuk."


"Ya udah, tunggu di mall, ya."


"Aku jemput saja."


"Jemput di apartemen kalau begitu."


"Oke, aku jalan sekarang ya."


Dika merasa senang, akhirnya setelah selama ini dia berusaha, Nuna mulai mereposnnya.


Nuna mandi dan menggunakan banyak sabun dan sampo untuk menghilangkan bau alkohol. Dia menggunakan celana panjang dan kaos lengan pendek. Terlihat simple, tapi enak dilihat.


Dika menekan bell apartemen, dan Nania yang membukakan pintu.

__ADS_1


"Nuna ada?"


"Ada kok, ganteng."


Dika duduk di sofa. Tidak lama kemudian ada yang keluar kamar. Bukan Nuna, tapi Freya, Aruna dan Rei.


Keempat perempuan itu duduk di hadapan Dika, mengamati Dika dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Dika seperti seorang pria yang sedang berhadapan dengan ibu si gadis. Masalahnya sekarang ibu gadis itu ada empat orang, belum lagi bapak-bapaknya.


"Mau ajak Nuna ke mana?"


"Mau ngapain?"


"Naik apa?"


"Sama siapa saja?"


"Pulang jam berapa?"


Dika menggaruk tengkuknya.


"Jangan pulang malam-malam."


"Pulang sebelum Magrib."


"Jangan lupa bawa oleh-oleh."


Ketiga gadis lainnya melirik Nania, yang hanya senyum-senyum saja.


Nuna ke luar dengan tas slempangnya. Memakai sepatu kets dan menggerai rambutnya.


"Hati-hati ya Nuna."


"Kalau ada apa-apa langsung telp."


"Jangan mau dibawa ke tempat yang macam-macam."


Nuna hanya tertawa pelan.

__ADS_1


"Iya, mama-mamaku."


Mereka berdua keluar, bersamaan dengan para pria.


"Mau ke mana?"


"Sama siapa saja?"


"Ngapain?"


Kalau tadi Nuna tertawa, sekarang Nuna mendengkus.


"Kepo banget sama urusan aku."


"Kalian juga tinggal di sini?"


"Iya."


"Di mana ada mereka, di situ ada kami."


Apa salah satu dari mereka menyukai Nuna?


Dika memperhatikan mereka satu persatu. Kandidat yang paling dia curigai adalah Ikmal. Tapi Ikmal terlihat biasa saja.


"Kami jalan dulu, ya."


Nuna yang masih kesal dengan Marcell karena tadi menyindir sahabatnya, menyenggol lengan pria itu. Dan juga dengan sengaja menginjak kaki Marva dengan kencang. Nuna masih bisa memendam kebenciannya pada Marva di depan Rei, tapi sulit menyembunyikan jika temannya itu tidak ada.


Mereka melihat Nuna dan Dika yang memasuki lift.


"Enggak kamu susul?" tanya Arby.


"Buat apa?"


"Nuna, plis jangan pergi dengan pria lain. Apa kamu selama ini tidak mengerti perasaan aku? Aku mencintai kamu dalam diam ...."


Ikmal mendengkus mendengar perkataan Arby yang mengejeknya. Kenapa dia selalu dikait-kaitkan dengan Nuna. Apa karena dia menjomblo?


Nuna dan Dika tiba di mall. Mereka langsung menuju bioskop dan membeli cemilan lebih dulu. Nuna memilih film horor, karena kalau film romantis, dia akan menonton bersama sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Kan malu, kalau nanti nonton film romantis, lalu di sebelah atau di depannya juga ada yang enggak mau kalah. Apalagi yang nonton bersamanya adalah seorang pria. Nanti mupeng!


__ADS_2