
Banyak kejadian yang terjadi belakangan ini, dan itu bukan kejadian yang menyenangkan. Setelah Freya sakit, tidak berapa lama kemudian dia malah terkena masalah mengenai malpraktik, yang membuat Freya bekum bisa melakukan aktivitasnya dulu, sebelum dia dinyatakan tidak bersalah.
Mereka saling mendukung, tahu kalau Freya telah melakukan semua sesuai prosedur dan tidak melakukan kesalahan dalam mengobati pasien.
πππ
Mereka akhirnya kembali ke Jakarta. Kembali ke negara yang dulu mereka tinggalkan. Bukan untuk seminggu dua minggu, atau sebulan dua bulan. Freya sudah menyiapkan tempat untuk mereka tinggal di apartemen.
"Kalian kalau mau pulang ke rumah, pulang saja. Aku dan Rei akan tinggal di sini," ucap Freya.
"Mau pulang ke mana, aku? Sekarang kan ini rumahku," ucap Nuna.
"Aku juga akan tinggal di sini. Sesekali saja aku pulang untuk bertemu papa dan mama. Mereka juga sering ke luar negeri," ucap Nania, yang juga diangguki oleh Aruna.
"Ya sudah, gimana enaknya kalian saja."
Orang pertama yang Nuna hubungi, tentu saja bi Sinta. Dia mengajak bi Sinta bertemu di suatu tempat. Nuna sendiri heran, kenapa bi Sinta masih bekerja di rumah itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertemu. Bi Sinta membawakan Nuna makanan yang dia buat sendiri. Sungguh, Nuna merasa terharu. Dia langsung makan makanan itu, dan sangat menikmatinya.
Dulu, bagi seorang anak, masakan yang terenak adalah masakan orang mamanya. Tapi bagi Nuna, masakan terenak adalah masakan bi Sinta. Bagaimana dia mau bilang masakan mamanya yang terenak, mamanya saja tidak pernah memasak.
Nuna tiba-tiba merasakan sesak itu lagi.
Dulu, dia sangat iri dan ingin seperti anak yang lain. Sarapan dibuatkan oleh mamanya, membawa bekal makan dari mamanya. Teman-temannya dulu suka pamer. Bekal siapa yang paling enak, masakan mama siapa yang paling enak. Makanan siapa yang paling mewah. Kotak bekal siapa yang paling bagus.
Nuna makan sambil menahan air matanya. Sudah bertahun-tahun, tapi rasa sakit dan kecewa itu tidak pernah hilang.
Dika, yang tahun kalau Nuna akan menetap di Jakarta, langsung menyusul gadis itu. Kebetulan dia sendiri juga memang menetap di Jakarta sekarang, tapi saat ini sedang berada di Singapura.
"Iya Ma, doakan aku, semoga aku bisa segera membawakan calon menantu untuk mama."
"Hah? Calon menantu?"
"Iya. Sudah ya Ma, aku harus segera ke bandara."
__ADS_1
Dika menarik kopernya, dengan wajah berbinar dan pikiran yang optimis, dia yakin akan bisa bersama gadis yang dia sukai sejak dulu.
Pria itu membawa banyak coklat untuk Nuna.
πΈπΈπΈ
Dika mendatangi Nuna di rumah sakit, dan bertanya pada seorang perawat.
"Biasanya kalau jam istirahat, ada di kafe depan rumah sakit."
Maka Dika mendatangi kafe itu. Tentu saja bukan hanya ada Nuna dan sahabat-sahabatnya di sana, tapi juga ada para pria, yang sama dengan yang dulu Dika lihat di Hawaii, dengan satu tambahan orang baru, yaitu dokter Agam.
Dika menghela nafas, berpikir apakah satu dari pria itu adalah kekasih Nuna? Dika menghampiri mereka, membawa sebuket bunga dan paper bag penuh dengan coklat.
"Apa kabar, Nuna, Freya, Arby dan Ikmal?"
"Ini untuk kalian." Dika memberikan paper bag itu pada Nuna dan Freya, lalu memberikan buket bunga pada Nuna.
__ADS_1
"Aku enggak dikasih?" celetuk Nania, yang langsung mendapat dengkusan dari yang lain.
Kebiasaan deh, enggak bisa melihat pria tampan.