
"Hai, kalian?" seorang pria yang sepantaran mereka datang mendekat.
"Kalian apa kabar?"
"Kamu Steve, kan?"
Steve mengangguk, sambil menatap kelima pria yang ada di hadapannya itu, yang satu di antaranya tidak dia kenal.
Sudah aku duga, mereka pasti ada di sini juga. Mereka benar-benar memiliki hubungan yang unik.
"Kalian masih saja ribut dengan para perempuan itu?" tanya Steve sambil tertawa pelan. Tentu saja Steve tahu kalau Freya dan sahabat-sahabatnya ada di London, dan berpikir Arby dan yang lain sedang berlibur ke Jepang.
Pembicaraan terus berlanjut.
"Mal, kamu suka pada Nuna?"
"Maksudnya?"
"Cinta, kamu cinta pada Nuna?"
"Enggak."
"Yakin?"
__ADS_1
"Aku dan dia hanya bersahabat saja."
Sahabat? Sejak kapan mereka bersahabat?
"Baguslah kalau begitu. Setelah kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Nuna lagi, aku akan mengejarnya. Sudah sejak lama aku menyukai Nuna."
Mereka diam, ini pembicaraan yang cukup aneh. Membicarakan salah satu dari perempuan itu dengan seorang pria yang hanya mereka kenal karena dulu satu sekolah.
"Nuna pasti semakin cantik ya, sekarang?" pikir Steve, membayangkan wajah Nuna saat dia bertemu di Inggris dulu.
Sedangkan yang lain, berpikir tentang Nuna saat masih di Indonesia dulu.
Pihak yang satu berpikir kalau orang asing ini tidak tahu apa-apa dan tidak tahu keberadaan Nuna dan yang lainnya, sedangkan pihak yang lain berpikir kalau pria-pria di hadapan mereka itu tahu di mana mereka, karena dulu dia pernah melihat mereka di bandara negara itu.
Kenapa wajahnya mirip seseorang, ya?
"Itu adik kamu?"
Bibir Arby mengerucut, tapi dia diam saja. Steve kembali melanjutkan pembicaraan tentang Nuna.
"Aku serius dengan Nuna, dan ingin menikahi dia. Andai saja aku tidak kuliah di sini, aku pasti sudah menemui dia setiap hari."
"Kenapa kamu menceritakan itu pada kami?" tanya Ikmal. Dia menelisik Steve, berpikir apakah pria ini cocok untuk Nuna atau tidak.
__ADS_1
"Ya ... mungkin karena dulu kalian memiliki hubungan yang unik dengan para gadis itu, sampai sekarang juga masih? Aku jadi iri pada kalian, sudah sejak lama aku ingin mendekati mereka, lebih tepatnya Nuna."
"Kenapa harus Nuna?" tanya Ikmal lagi.
"Terus kalau bukan Nuna siapa, Freya?"
Arby langsung menatap tajam pada Steve, dan Steve tahu itu.
"Tuh, lihat kan? Baru ngomong begini saja, sudah ada yang mau menyemburkan nafas apinya."
"Maksudnya, kenapa bukan perempuan lain, selain mereka berempat."
"Namanya juga suka. Pokoknya aku suka Nuna, sejak dulu. Jadi, tolong doa restu kalian, ya!"
Meminta restu pada orang yang menjadi musuh bebuyutan para perempuan itu, lucu memang. Tapi entah kenapa, Steve melakukan itu. Dia tidak mau nanti hubungannya dengan Nuna direcoki oleh pria-pria yang ada di hadapannya itu.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau dulu setiap ada yang mendekati salah satu dari mereka saja, maka Arby dan yang lain sudah langsung bertindak.
Dia milikku, bukan milikmu ... dia untukku, bukan untukmu ....
Begitulah kira-kira lagu yang cocok untuk menjadi backsound mereka saat itu.
Andai saja para perempuan itu tahu, sudah pasti kekesalan mereka pada para pria itu semakin besar.
__ADS_1
Calon jodoh orang orang kok, dihalang-halangi!