
Nuna menemui bi Sinta. Saat baru kembali ke Jakarta dulu, orang pertama yang dia temui diam-diam juga bi Sinta. Tentu saja dia tidak akan melupakan pengasuhnya itu. Orang yang selalu memberikan kasih sayang yang tulus padanya, yang merawat dia saat dia sakit.
"Non enggak mau kembali ke rumah?"
"Enggak, Bi. Aku tidak mau kembali ke rumah itu."
Bi Sinta mengangguk, dia sangat tahu kenapa Nuna tidak mau ke sana, dan tidak mau memaksa. Kebahagiaan nona mudanya itu yang terpenting baginya.
"Nona sudah memiliki calon suami?"
"Apaan sih, Bi. Aku tidak berencana untuk menikah, dan menjalani pernikahan yang berantakan seperti papa dan mama, dan membuat anak aku nanti menderita."
Bi Sinta kembali menghela nafas. Anak yang sejak dulu dia rawat ini, terlalu dalam memendam kekecewaan.
Di ujung kafe itu, Elvira melihat interaksi Nuna dan bi Sinta. Dia ingin menghampiri bi Sinta, tapi tahu Nuna tidak akan senang, malah mungkin akan menyebabkan keributan.
☘️☘️☘️
Kelima perempuan itu akhirnya kembali ke London. Kembali melakukan aktivitas mereka di sana yang sangat padat. Semua kembali meninggalkan masa lalu mereka yang ada di sana.
"Monica," panggil seorang pria.
Dia adalah Heun, seniornya saat di kampus dulu.
__ADS_1
"Hai, Heun. Bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik. Aku kangen banget sama kamu."
Heun langsung memeluk Monic. Mereka lalu jalan beriringan.
"Gimana pekerjaan kamu, lancar?"
"Ya begitulah. Lelah, tapi memang seperti ini kan, pekerjaan kita. Minggu lalu ada salah satu pasien yang meminta foto bersamaku, baru dia mau melakukan operasi. Ya ampun, dia pikir aku artis?"
Nuna tertawa, memang ada saja kadang tingkah pasien yang unik. Heun cukup tampan, dan ramah.
"Kamu tidak berencana ke Korea?"
"Mana oleh-ikeh untuk aku?" tagih Heun.
"Nanti ya. Aku sudah membawanya untuk kalian."
"Aku pikir kamu tidak akan kembali ke sini."
"Kenapa begitu?"
"Bisa saja kamu tiba-tiba menikah di sana. Mon, kamu boleh membagi-bagikan oleh-oleh pada banyak orang, tapi tidak dengan hati kamu. Kan hati kamu hanya untuk aku."
__ADS_1
Monic menggelengkan kepalanya. Untung saja dia sudah terbiasa mendengar perkataan Heun yang selalu percaya diri itu, meskipun selalu ditolak oleh Monic.
Kadang Nuna berpikir, apakah ada salah satu dari pria yang mendekatinya itu, akan menjadi pasangan hidupnya?
Hari-hari semakin berlalu, mereka semakin sibuk dan tidak ada waktu untuk bersantai. Kalau tidak sedang belajar, ya bekerja. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tentu saja menguras banyak waktu dan pikiran.
"Aku sakit kepala," keluh Zilda. Wajahnya sudah pucat. Marcell mendekati Zilda dan memijat pelan kening gadis itu tanpa Zilda sadari.
Ya, para pria itu langsung mengikuti mereka ke negara ini. Benar-benar pantang menyerah, ya.
Monic dan Ikmal hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka. Keduanya hanya menjadi penonton akan perjuangan para pria itu.
Tapi yang paling Monic harapkan, adalah Freya dan Arby. Seperti kata Ikmal, "Aku mau kita berempat seperti dulu lagi. Kasihan Chiro."
Bukan berarti Monic tidak mendukung Marva. Marc kan sudah ada Vio, jadi untuk apa lagi mendekati Rei?
Ikmal tahu, Nuna tidak suka pada Marva. Nuna selalu mendengkus saat Marva berusaha mendekati Rei. Kalau Rei itu bukan sahabat Nuna, dan dia tidak tahu apa masalahnya, sudah pasti Rei akan sangat dibenci oleh Nuna, karena dianggap sebagai pihak ketiga, perusak rumah tangga orang, perempuan ganjen, tidak punya harga diri, murahan, dan sebagainya. Mungkin dalam hatinya, ada pikiran agar Marva tidak bersama dengan Rei, karena kasihan dengan Vio, pikir Ikmal.
Bukan berarti juga Rei tidak kasihan pada Radhi dan Raine. Tentu saja Monic yang paling kasihan dengan anak-anak yang menjadi korban keegoisan para orang tua, karena dia sudah lebih dulu merasakan itu.
Sejak mengenal Rei dan tahu apa permasalahan perempuan itu, membuat dia semakin ketakutan. Bagaimana kalau apa yang terjadi pada Vio, juga menimpanya? Ujung-ujungnya, tetap dia juga kan yang tersakiti. Banyak permasalahan dalam rumah tangga, dan Monic tidak tahu, apakah sanggup melewatinya dengan baik atau tidak.
Sudahlah, memang sudah pilihan yang tepat aku tidak menikah. Tidak perlu memikirkan ini dan itu. Sendiri itu jauh lebih baik, yang penting aku masih memiliki sahabat-sahabatku.
__ADS_1