Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
128 Penjelasan Steve


__ADS_3

Nania langsung bersikap ramah pada Steve, bahkan mempersilahkan pria itu duduk di sebelah Nuna.


Nuna yang memperhatikan Steve yang menggendong dan terlihat sangat menyayangi adiknya itu, merasa senang di hatinya. Padahal hari-hari sebelumnya dia merasa merana, seolah dunia runtuh di atas kepalanya.


Makanan yang Nuna makan terasa lebih nikmat dalam hitungan detik saja.


Ya, seperti itulah yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta. Apa saja terasa nikmat.


...🌼🌼🌼...


"Steve, kenapa kamu menghilang saat itu?"


Steve tidak langsung menjawab, membuat Nuna menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ... apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi? Kalau memang benar begitu, kenapa mesti menjauh? Kita menjadi teman baik. Seperti kami dengan mereka (tim perempuan dan tim laki-laki)."


"Bukan, bukan itu."


"Jadi?" Nuna tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud 'Bukan itu' oleh Steve.

__ADS_1


"Aku ...."


"Katakan saja, tidak masalah."


"Aku hanya terlalu sibuk saja, Nuna. Kuliah di luar negeri tentu saja berbeda dengan kuliah di negara sendiri. Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk kamu."


Steve memandang wajah Nuna, wajah yang semakin terlihat cantik dan tentu saja dewasa.


"Aku pikir, kalau aku selalu mengunjungi kamu atau menghubungi kamu, itu akan merusak konsentrasi kamu. Aku tahu kamu ingin segera lulus, menjadi koas, mendapatkan ijin praktek dan melanjutkan ke spesialis. Aku tahu itu tidak mudah, jadi aku memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi kamu dan menghubungi kamu, meski aku sendiri harus menahan rindu."


Nuna mencari kejujuran di mata Steve. Steve mengatakan yang sebenarnya, tapi seperti ada yang gadis tahan juga.


"Tidak, aku mana punya waktu. Aku kan juga ingin lulus dengan cepat, membanggakan dan membahagiakan keluargaku."


Sekali lagi Nuna melihat kejujuran di mata pria itu.


Dari jauh, Ikmal melihat mereka.


"Tuan Ikmal?"

__ADS_1


"Ya? Oh, maaf. Mari kita lanjutkan." Konsentrasi pria itu terganggu karena melihat Nuna dan Steve. Meksi dari jarak jauh, Ikmal bisa melihat harapan di mata Nuna untuk Steve.


Sebagai seseorang yang sudah bersama Nuna sejak masih sekolah dasar, dia bisa memahami bahasa tubuh gadis itu. Ikmal menghela nafas, bukannya dia tidak suka pada Steve, hanya saja dia tidak mau sahabatnya itu kembali terluka karena pria, apalagi sepertinya Steve ini lebih kuat pengaruhnya pada Nuna daripada Dika.


Ikmal masih sangat ingat bagaimana Nuna membakar gaun pengantinnya, menghancurkan ponselnya yang banyak foto Dika, dan depresi dalam waktu yang cukup lama.


Jika dengan Dika saja seperti itu, lalu bagaimana dengan Steve kalau pria itu juga menyakiti hati Nuna?


Ikmal kembali melihat Steve yang sedang membersihkan sudut bibir Nuna, dan pria itu menghela nafas panjang dan berat.


"Anda baik-baik saja, Tuan Ikmal?"


"Ya."


Asisten Ikmal melirik bosnya itu, lalu melirik gadis yang sejak tadi diperhatikan oleh Ikmal. Dia tentu saja sangat tahu siapa itu, salah satu orang yang sangat dekat dengan Ikmal.


Rekan bisnis Ikmal kembali menjelaskan proposalnya, sedangkan asisten Ikmal sibuk mencatat dan memeriksa data. Ikmal langsung meminum kopinya hingga tandas, membuat asisten itu meringis dalam hati.


Tidak biasanya bosnya itu seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2