Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
90 Banyak Pria Baik


__ADS_3

Dika yang mendapatkan kabar dari Nuna kalau gadis itu sedang pergi bersama sahabat-sahabatnya ke pantai, segera menyusul mereka. Dia juga ingin semakin mendekatkan diri pada yang lainnya. Terkadang dia merasa iri pada gadis itu, karena bisa memiliki sahabat sejak kecil dan masih awet saja sampai saat ini. Dika memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, dan segera mencari kekasihnya itu.


"Sayang," sapa Dika pada Nuna. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan Dika. Ros itu telah memakai baju santainya dan terlihat tampan. Dika melihat teman-teman Nuna yang bermain pasir, melupakan usia mereka yang tidak lagi anak-anak.


"Kalau begini, aku jadi ingat Steve. Bagaimana dia kabarnya, ya? Jangan-jangan sudah punya anak, Nun?" celetuk Nania.


Aruna langsung mencolek pinggang Nania, yang kalau bicara kadang suka enggak mikir dulu.


"Steve siapa, Nuna?"


"Steve itu dulu teman satu sekolah kami. Duku pernah bertemu saat kami kuliah," jawab Nuna jujur, meski tidak cerita sepenuhnya, yang penting kan dia juga tidak bohong.


"Steve itu dulu suka banget loh, sama Nuna. Saking sukanya, dia bela-belain setiap liburan semester ke London, padahal saat itu dia kuliah di Jepang. Coba kalau aku yang disukai Steve, sudah aku terima, tuh!" Kali ini Rei yang mencubit Nania, kenapa gadis itu tidak peka juga.

__ADS_1


Suasana mendadak hening, mereka melihat ekspresi Dika yang terlihat sangat cemburu. Bagaimana tidak cemburu, coba, jika ada pria lain yang menyukai gadis pujaannya dan dia merelakan waktu dan biaya untuk menemui gadis itu.


"Kamu enggak perlu cemburu sama Steve, dia sekarang enggak ada kabarnya lagi. Yang mesti kamu waspadai itu ya para pria ini, terutama Ikmal. Tapi dokter Agam juga tampan, Mico juga pengacara keren."


"Kami enggak disebut?" tanya Marcell dan Vian.


"Heleh, kalian mah apa atuh?"


"Naniaaaa!" Nania hanya cengar-cengir saja. Bukannya dia mau mengompor-ngompori Dika, tapi dia secara tidak langsung ingin mengatakan, kalau Dika menyakiti Nuna, masih banyak pria lain yang jauh lebih baik dari Dika.


Nuna meringis mendengar perkataan Nania. Dia mengusap lengan Dika agar pria itu tidak marah pada Nania. Dia juga tidak bisa marah pada Nania, mungkin saja Nania lebih suka Steve dibandingkan Dika. Nuna saja tidak suka pada Marva, dan tidak ad yang bisa melarangnya, jadi dia juga maklum kalau tidak semua temannya akan menyukai Dika juga.


"Yang penting aku yang akan menikahi Nuna, bukan pria lain," ucap Dika dengan bijak.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan bermain di pantai. Chiro sibuk main pasir dengan Radhi dan Raine.


"Kita nginap di mana, ini?"


"Nyari hotel saja yang dekat sini. Cari yang view-nya bagus."


"Kamu lihatin apa sih, Nania?"


"Nyari bule, dong. Kurang rasanya kalau ke pantai tapi enggak bertemu dengan bule."


Marcell mendengkus.


"Nanti aku cat rambut aku biar kaya bule." Kali ini Nania yang mendengkus.

__ADS_1


Pasangan mantan terus musuh itu pelotot-pelototan. Aruna dan Vian juga terus saja berdebat. Kedua pasangan itu memang tidak jelas sampai sekarang.


__ADS_2