Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
26 Harapan Masing-masing


__ADS_3

Waktu berlalu, yang dicari tidak pernah bertemu, meski terkadang ada di negara yang sama untuk berlibur.


Chiro menangis gelisah dalam pelukan Arby.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Suara tangisan anak itu menyayat hati. Mereka saat ini ada di sebuah kafe kecil bernama D'Cafe.


"Apa Chiro sakit?" tanya Ikmal. Dia menyentuh kening Chiro, yang hangat karena terlalu banyak menangis hingga suaranya serak. Perasaan Arby juga menjadi tidak menentu, dia sangat gelisah. Setiap sesuatu terjadi pada Chiro, dia akan selalu seperti ini. Tapi kali ini lebih lagi.


Tidak mau semakin cemas, Arby dan yang lain segera keluar dari kafe itu, menuju rumah sakit. Bukannya mereda, tangisan Chiro semakin menjadi saat Arby mulai melangkah ke luar kafe.


Sepuluh menit setelah mereka pergi, lima orang perempuan muda datang ke kafe itu. Mereka duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sesuai. Kursi yang tadi diduduki oleh Ikmal, diduduki oleh Monic, begitu juga dengan yang lain.

__ADS_1


"Botol susu siapa, ini?" tanya Zilda. Freya memegang botol susu itu, yang isinya masih penuh.


Mereka memesan makanan ringan. Membicarakan tentang kuliah, pekerjaan, juga pria. Banyak yang mendekati kelima perempuan muda itu. Wajah cantik dengan karakter yang berbeda.


Yang paling pendiam dan paling pemalu tentu saja Rei.


Zilda yang paling centil, tapi bukan berarti dia sering berganti pria. Dia memang sangat menyukai pria tampan, tapi untuk dijadikan kekasih, apalagi suami, tentu saja dia sangat selektif.


Letta yang ceplas-ceplos, tapi yang paling netral.


Monic, yang hanya bisa banyak bicara hanya dengan mereka saja. Tapi jika dengan orang lain, dia sangat cuek dan tidak akan peduli. Tentu saja itu juga pengaruh dari masa lalunya. Orang lain saja tidak peduli dengannya, untuk apa dia peduli dengan orang lain? Tapi dia sangat menyukai anak kecil. Tapi untuk menjadi seorang ibu, dia tidak mau. Tidak mau menikah, memiliki anak, dan menderita akibat pernikahan.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Mon? Tidak semua pria itu jahat, dan tidak semua pernikahan itu akan berakhir dengan penderitaan dan perpisahan," ucap Letta.

__ADS_1


"Tapi lihat saja Naya dan Rei. Begitu juga dengan Zilda, yang dulu selalu dikecewakan oleh Marcell. Kamu juga kan, dikecewakan oleh Vian."


Mereka menghela nafas dengan kompak. Kenapa nasib mereka berlima harus seperti ini? Dikecewakan oleh lima pria yang sebenarnya juga memiliki hubungan keluarga.


"Karena itulah, jangan sampai kita berlima terjebak dan kembali pada mereka. Ingat, jangan kembali pada mereka!" ucap Zilda.


"Iya, jangan sampai kita kembali pada mereka, " ucap Naya mengangguk-angguk.


Monic melirik Naya, ingin mengucap sesuatu tapi dia sendiri tidak yakin, dan juga sebenarnya takut.


Apa aku harus berdoa agar Freya kembali pada Arby, atau jangan? Pokoknya, apa pun yang terbaik untuk kamu, Freya.


"Mereka itu memang para pria menyebalkan. Ingin sekali aku menonjok mereka saat bertemu nanti, apalagi pada Marva sialan itu!" ucap Freya yang sifat barbarnya muncul.

__ADS_1


Di tempat yang sama, jika sebelumnya para pria itu berharap dan berdoa untuk dipertemukan kembali dengan para perempuan itu, diisi dengan pelukan dan kata cinta ... maka para perempuan itu berharap tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi. Kalau pun bertemu, keroyok saja mereka ramai-ramai sampai puas!


__ADS_2