
Mengobrol dengan Dika, seperti membaca buku tapi dengan cara yang menyenangkan. Dika memiliki pengetahuan yang luas.
"Aku selalu ingat, dulu kamu selalu saja bersama Freya, Arby dan Ikmal, dan ternyata masih sampai sekarang. Aku jadi iri."
Nuna langsung tersenyum karena itu. Dika iri, tapi tidak tahun saja dia apa yang sudah terjadi pada mereka selama ini. Mempertahankan hubungan persahabatan mereka sudah seperti mempertahankan rumah tangga. Banyak masalah yang terjadi, dan itu berat.
Senyum di wajahnya langsung hilang, saat teringat kalau orang tuanya, yang pengalaman hidupnya jauh dari dia, tapi tidak bisa atau sudah lelah mempertahankan hubungan rumah tangga mereka.
Mereka sudah ada di jalan hidup masing-masing, dan itu tanpa dia.
"Kamu juga pasti masih sangat ingat kalau begitu, kalau dulu aku sering ... bukan, bukan sering, tapi selalu dibully."
Dika mengangguk, tidak ada niat untuk menghindar atau mengelak, karena memang itu kenyataannya.
Nuna, si gadis bullyan!
Itulah julukan yang dulu Nuna miliki.
__ADS_1
"Tapi sekarang kamu lebih baik. Kamu dan Freya sudah mewujudkan impian kalian, menjadi dokter." Dika tersenyum lembut, sambil menatap dalam gadis di hadapannya.
"Ya, tentu saja kami harus mewujudkan impian kami."
"Tadinya aku kira kamu pacaran dengan Arby atau Ikmal."
"Ya enggak, lah. Mana mungkin, mereka kan sahabat-sahabat aku."
"Tapi yang namanya sahabat kan, bukan berarti tidak bisa jatuh cinta."
"Siapa, Arby dan Freya?"
Nuna hanya tersenyum. Arby adalah bukti dari perkataan dari sahabat jadi cinta ... atau mungkin awalnya cinta berkedok persahabatan?
"Dulu kamu sombong banget sama aku. Diajak kenalan malah diam saja. Terusss aja jalan sama Freya, Arby dan Ikmal. Freya juga begitu, galak banget. Sampai sekarang juga masih suka judes kan, dia?" Dika tertawa. Itu bukan ejekan, tapi protes akan sikap kedua perempuan itu yang selalu menjadi kenangan bagi Dika.
Nuna kembali tersenyum. Wajahnya berbinar saat Dika menceritakan tentang masa kecil mereka (yang bukan tentang bullyan). Nuna, Arby dan Ikmal jarang membicarakan tentang saat-saat mereka di Singapura dulu, karena ujung-ujungnya, mereka akan bersedih karena Freya tak lagi sama.
__ADS_1
Sekarang, berkat Dika, dia bisa mengenang saat itu dari sudut pandang orang yang berbeda. Mendengar kisah mereka buka dari Ikmal atau Arby.
"Sebenarnya dulu itu banyak yang iri sama kamu."
"Aku? Iri sama aku? Kenapa begitu?"
"Ya, mungkin karena kamu bisa dekat dengan Freya, Arby dan Ikmal. Kamu tahu sendiri kan, dari keluarga mana Freya berasal, ditambah Arby dan Ikmal. Mereka iri ... kenapa, maaf ya Nun, tapi kenapa orang yang mereka rendahkan seperti kamu, bisa dekat dengan mereka bertiga. Mengingat kondisi keluarga kamu, kamu dianggap tidak layak dekat dengan ketiganya."
Nuna sama sekali tidak tersinggung. Dia mengangguk paham. Jangankan orang lain, dia sendiri saja bingung. Kenapa dia, yang selalu dibully, dikucilkan dan tidak pernah dianggap ada, malah bisa menjadi sahabat Freya. Si gadis kecil berotak cerdas.
"Nuna, kamu tahu? Sejak mengenal dan melihat kamu, aku jadi ingin menjadi guru."
"Kenapa begitu?"
"Aku ingin menjaga murid-murid aku, tidak membedakan mereka bagaimana pun keadaan keluarga mereka. Mungkin dulu aku todak sempat melindungi kamu, jadi aku tidak ingin ada yang bernasib sama seperti kamu."
"Dan ijinkan mulai sekarang, aku menjaga kamu selamanya!"
__ADS_1