
Freya dan yang senang melihat perubahan dalam diri Nuna. Sekarang gadis itu lebih ceria, dan lebih bisa membuka hati pada seorang pria.
"Kamu serius sama dia?" tanya Ikmal saat mereka berdua sedang berbelanja di swalayan. Arby sedang menyingkirkan sahabat-sahabat Freya agar dirinya bisa merayu dengan leluasa perempuan itu.
"Dika?"
"Emang siapa lagi yang dekat dengan kamu sekarang?"
"Enggak ada, selain kamu dan Arby."
"Hati-hati Nuna, jangan sampai kamu patah hati."
"Ikmal, kamu apa-apaan, sih. Kenapa bicaranya begitu?"
"Aku bicara begini karena aku sayang sama kamu, Nuna!"
"Apa?"
Bukan Nuna yang bertanya, tapi orang lain. Nuna dan Ikmal memutar tubuh mereka, ternyata ada Dika juga mamanya.
"Mama, Dika? Kalian belanja juga?"
__ADS_1
"Nuna, dia siapa?" tanya mamanya Dika. Dia dan Dika sama-sama mendengar kalau Ikmal tadi mengatakan sayang pada Nuna, apa pria ini pacar Nuna? Sedangkan Dika dilanda cemburu.
"Oh, ini Ikmal. Dia salah satu sahabat aku sejak kecil. Dika juga kenal sama dia, duku kami satu sekolah saat di Singapura."
"Iya, Ma. Ikmal ini salah satu sahabat Nuna sejak kecil, selain Freya dan Arby. Dulu mereka berempat satu sekolah denganku di Singapura."
"Oh, jadi begitu."
"Kamu dan Ikmal sedang belanja berdua saja?" tanya Dika, yang sangat sulit menutupi rasa cemburunya.
"Iya. Arby lagi mau mendekati Freya, jadi kamu disingkirkan oleh dia."
Nuna tidak menyadari kalau Dika sedang cemburu. Nuna hanya berpikir, kalau saat ini dia hanya jalan bersama sahabatnya saja, jadi apanya yang salah?
"Hari ini mau masak sop iga sama perkedel kentang saja."
"Mama mau masak apa?"
"Wah, sama dong. Dika juga hari ini masih dimasakin itu sama mama."
Nuna tersenyum. Dia senang melihat Dika mau mengantar mamanya belanja. Biasanya anak laki-laki itu paling malas menemani mamanya belanja.
__ADS_1
Mereka berempat akhirnya belanja bersama. Dika berusaha menarik perhatian Nuna, agar tidak ada celah buat Ikmal untuk dekat dengan Nuna.
Mau seperti apa pun yang kamu lakukan, Nuna tetaplah sahabatku. Hubungan kami tidak bisa putus begitu saja karena ada Freya dan Arby. Siapa pun yang menjadi jodoh kamu, harus bisa menerima hubungan ini dan bisa dekat dengan yang lainnya, batin Ikmal.
Benar.
Siapa pun yang menjadi jodoh untuk Nuna, harus bisa dekat dengan Freya dan sahabatnya yang lain, juga harus bisa menerima kedekatan Nuna dengan dirinya dan Arby.
Begitu juga sebaliknya, siapa pun yang akan menjadi jodohnya, harus bisa dekat dengan para sepupunya, dan bisa menerima kedekatan Ikmal dengan Freya dan Nuna.
Termasuk yang akan menjadi jodoh Vian, Marcell dan Mico. Juga Aruna, Rei dan Nania.
"Mal, kamu sama yang lain masak buat makan malam, ya!" ucap Nuna cuek.
"Beres! Si Arby pasti girang benget bisa masak buat Freya." Mereka berdua tertawa, semakin membuat Dika ketar ketir.
"Nuna, kamu kapan mau ke rumah mama lagi?" tanya Dika.
Dia ingin menunjukkan pada Ikmal, kalau Nuna Sidah sangat dekat dengan keluarganya.
"Belum tahu, akhir-akhir ini banyak pasien, terutama di klinik. Kami harus berbagi tugas biar yang lain juga harus istirahat."
__ADS_1
"Kalau kamu mau ke klinik, biar aku antarin dan jemput. Aku lagi enggak terlalu sibuk, jadi punya banyak waktu untuk kamu."