Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
86 Begah


__ADS_3

Hubungan Nuna dan Dika semakin dekat. Perempuan itu masih belum mengenalkan Dika pada kedua orang tuanya. Membayangkan mereka bertemu saja Nuna sudah merinding lebih dulu.


"Kamu kenapa melamun?" tanya Dika.


"Tidak apa-apa."


"Nuna, kapan kamu mau mengenakan aku kepada kedua orang tua kamu?"


"Nanti, ya."


"Huft, Nuna, hubungan kita ini tidak main-main. Kita bukan anak remaja yang hanya untuk berpacaran saja. Aku ingin melamar kamu resmi kepada kedua orang tua kamu."


"Tapi ...."


"Nuna, apa kamu masih belum yakin kepadaku? Apa kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu, Dika. Tapi aku hanya khawatir saja bagaimana sikap mereka pada kamu."


"Aku yakin mereka akan baik padaku."


Ck, kamu belum tahu saja apa yang terjadi saat aku bertemu dengan mereka. Mereka malah berniat akan menjodohkan aku dengan pria pilihan mereka.


"Aku mau pada kamu. Kamu kan tahu sendiri bagaimana keluarga aku."


"Aku menerima kamu apa adanya. Aku juga tidak akan malu dengan kedua orang tua kamu. Mereka nantinya akan menjadi kedua orang tua aku, yang harus aku sayangi dan hormati juga."


Mendengar itu tentu saja Nuna merasa senang. Dia saja yang menjadi anak kandung kedua orang tuanya tidak bisa seperti itu. Tidak ada sikap sopan santun yang Nuna berikan kepada mereka selain masih memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama saja.


Selain itu?


Tidak ada.

__ADS_1


Yang ada malah mereka selalu berdebat setiap kali bertemu.


"Pertemukan aku dengan mereka, Nuna." Dika mengusap punggung tangan Nuna, meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Baiklah, aku akan memberi tahu mereka dulu, setelah itu nanti aku akan memberi tahu kamu."


Dika tersenyum, merasa lega kalau gadis yang nanti akan menjadi istrinya itu mau melakukan apa yang dia inginkan.


...🌼🌼🌼...


"Mal!"


"Hm?"


"Kamu telp papa aku sana!"


"Buat apa?"


"Kenapa harus aku?" tanya Ikmal tidak mengerti.


"Masa harus aku?" Nuna malah balas bertanya.


"Ck. Kan kamu anaknya. Yang mau nikah kamu sama Dika."


"Telponin, Mal."


"Enggak. Sini kamu nikah sama aku, baru aku yang nelpon ke papa kamu sekalian minta doa restu."


"Cieee, kode!" celetuk Arby.


Ikmal dan Nuna melirik Arby dengan kesal, sedangkan bebebnya Arby sibuk makan apel.

__ADS_1


"Mal, bantuin."


"Malas!"


"Ikmal ganteng."


"Enggak, aku jelek."


"Ikmal jelek."


"Minta bantuin tapi malah menghina!"


Nuna yang kesal mendengar perkataan Ikmal langsung melempari pria itu dengan buah kesukaan Arby.


"Telponin, gak!"


"Telponin sana, Mal. Kali saja nanti papanya Nuna kena pelet sama suara kamu, terus nikahin kamu sama Nuna." Lagi-lagi si biang rusuh menceletuk, siapa lagi kalau bukan si bucinnya Freya yaitu Arby.


Ikmal menggelengkan kepalanya. Selain kesal dengan perkataan Arby, juga heran sama si Nuna, seolah Ikmal itu walinya dia.


"Mal!" Nuna sampai bergelayut di lengan Ikmal.


"Cium dulu, Nun. Nanti dikasih deh sama Ikmal. My Bebeb juga begitu, kalau ada maunya dia pasti langsung nyosor aku."


"Heh, jangan fitnah ya. Kamu tuh yang suka nyosor aku. Aku mah enggak perlu nyosor juga keinginan aku sudah pasti kamu turuti." Entah perkataan Freya itu mengandung kebanggaan, kesombongan, atau ke-uwuw-an.


"Ih, My Bebeb tahu banget deh. Jadi gemes, uluh uluh, Yayangnya siapa sih, ini?"


"Yayangnya Sweety Arby!"


Ikmal dan Nuna yang mendengar itu jadi gumuh. Kebegahan mereka gara-gara Arby dan Freya.

__ADS_1


__ADS_2