Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
133 Kenangan Abu-abu


__ADS_3

Steve terlihat gelisah, dia melirik Nuna dan perempuan itu secara bergantian. Gelagatnya itu tentu saja tidak terlepas dari penglihatan Ikmal.


"Bagaimana keadaan kamu, Steve?"


"Baik. Hm, kami permisi dulu, ya." Steve langsung menggandeng tangan Nuna dan membawanya ke salah satu kafe, padahal belum lama mereka makan siang bersama.


Ikmal semakin curiga saat melihat perempuan itu yang masih melihat Steve dari belakang. Nania, Rei, dan Aruna sendiri, merasa seperti pernah melihat perempuan itu, tapi entah di mana.


...🌼🌼🌼...


Nuna melihat Steve sedang bicara dengan seorang perempuan. Dia masih ingat, perempuan itu adalah perempuan yang bertemu dengannya di mall satu minggu yang lalu. Perempuan itu mengusap lemban Steve, membuat Steve tersenyum. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi itu membuat dia merasa panas di hatinya.


Sejak dulu, teori memang lebih mudah daripada praktek. Nuna selalu mengingatkan dirinya sendiri, agar hatinya tidak lagi jatuh pada seorang pria, tidak boleh lagi merasakan kecewa dan sakit hati. Tidak lagi baper atau menganggap serius perkataan pria yang seolah memujanya. Tidak lagi berharap bahkan menangis. Tapi kini? Hanya karena satu orang lagi dari masa lalunya yang kembali hadir dalam hidupnya, semua langsung buyar.


...🌼🌼🌼...


Belakangan ini banyak peristiwa yang terjadi. Bukan hanya pada Nuna, tapi juga pada Freya dan Rei. Nania dan Aruna juga sepertinya menyimpan masalah mereka sendiri, Bukannya tidak mau cerita, hanya saja melihat situasi yang tidak mendukung, membaut keduanya masih menahan diri.

__ADS_1


Sudah hampir satu bulan juga Steve tidak pernah lagi menemui Nuna . Tidak menelepon, juga tidak mengirim pesan. Pria itu kembali menghilang dengan tiba-tiba. Kembali memberikan kenangan abu-abu.


Wajah itu kembali miring meski berusaha dia tutupi. Tapi yang namanya sahabat, apalagi sudah bersama sejak kecil, tentu saja mereka sangat tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Ck, itulah kenapa aku tidak pernah mau menerima Marcell lagi. Cukup satu kali saj dikecewakan oleh orang yang sama," ucap Nania.


"Sama, aku juga. Kau juga enggak mau sama Vian lagi."


Rei melihat Nania dan Aruna, lalu berkata, "Bukannya dulu kamu sangat mendukung Steve, padahal kan, Steve dulu juga pernah menghilang tanpa jejak."


"Ck, iya sih. Aku hanya tidak menduga saja, kalau Steve akan melakukan hal yang sama untuk uang kedua kalinya. Kalau memang tidak suka, ya jangan PHP, kek!"


"Hampir sih, dibilang jadian ya jadian, dibilang enggak, ya enggak."


"Udah sih, kenapa jadi membahas aku dan Aruna?"


"Eh, Freya kirim chat, nih. katanya dia sama Chiro mau pergi ninggalin Arby."

__ADS_1


"Apa?" Mereka langsung membuka ponsel, melihat char Freya yang dikirimkan ke khusus grup perempuan.


"Aku mau ikut Freya," ucap Nuna dan Rei bersamaan.


"Terus kerjaan kita?"


"Kamu lupa siapa Freya? Apa yang mau doa lakukan, pasti dia lakukan, Meksi dia sekarang tidak mengingat apa-apa, tapi Freya tetaplah Freya yang sama."


"Ngomong-ngomong, kalian yakin Arby selingkuh?"


"Kayaknya gak mungkin."


"Iya, Arby tidak mungkin mengkhianati Freya," ucap Nuna sangat yakin.


"Tapi kenapa dia bisa bersama satu kamar dengan perempuan itu?"


"Mungkin ada yang menjebak dia."

__ADS_1


"Tapi Arby itu orangnya sangat teliti."


Keempatnya menghela nafas, kenapa mereka ino sangat kompak. Bahkan saat mendapat masalah, pun, mereka merasakannya bersama-sama.


__ADS_2