
"Bagaimana kabar kamu dan Freya, Nuna?"
"Baik-baik saja."
Nuna dan Ikmal sedang berada di kafe. Ikmal mengajak Nuna untuk bertemu, sekedar reuni antar sahabat.
Mata Nuna kini melihat pintu masuk, melihat kedatangan seorang pria dan wanita. Mereka juga melihat Nuna, lalu menghampirinya.
"Kamu sengaja mengajak aku ke sini, agar bisa bertemu dengan mereka, Mal?"
Nuna merasa sangat kesal melihat papanya dan Elvira. Tanpa menegur, apalagi menunggu jawaban Ikmal, dia langsung pergi meninggalkan mereka. Dia menghela nafas berat berkali-kali, bertahun-tahun sudah berlalu, tapi rasa sakit dan kecewa itu ternyata tidak pernah hilang sedikit pun.
Ikmal berusaha mengejar Nuna, tapi gadis itu sudah pergi dengan menggunakan ojek.
🍁🍁🍁
Kegiatan Nuna selama berada di negara ini sangat padat, begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Dia tidak ingin memusingkan orang-orang dari masa lalu yang tidak penting baginya.
"Apa Ikmal mendekati kamu?" tanya Freya.
"Maksudnya?"
"Mereka itu mendekati masing-masing dari kami. Hmmm ... kecuali Arby, sih."
"Memangnya Arby tidak berusaha bicara dengan kamu?"
__ADS_1
"Enggak, kan ada Chiro."
Nuna mengamati wajah Freya, mencari apakah di wajah itu ada kekecewaan atau tidak. Apakah Freya berharap kalau Arby akan mendekatinya kembali, dan marah saat pria itu cuek.
Sulit!
Sulit menemukan ekspresi itu di wajah Freya. Harus Nuna, bahkan yang lain akui, di antara mereka, Freya lah yang paling pintar menyembunyikan perasaannya, kecuali perasaan emosi tentu saja. Tapi, sejak mereka pergi dari Jakarta beberapa tahun lalu, Freya bisa bersikap lebih tenang. Mungkin jauh dari orang-orang di masa lalu itu memang baik bagi mereka berlima.
Yang paling terlihat emosi adalah Nania. Dia sejak pulang tadi terus saja mencerocos tentang Marcell, dan Aruna juga merasa kesal dengan Vian.
Nuna menghela nafas, ini juga salah satu alasan kenapa dia tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun.
Dia tidak mau dibikin ribet oleh siapa pun. Tidak mau, setelah berpisah masih saja dibikin pusing dan bertengkar.
Lihat saja bagaimana kedua orang tuanya. Nuna cukup tahu, kalau meski sudah berpisah, ada kalanya mereka juga masih bertengkar, meski hanya lewat sambungan telp.
Jelas para pria itu masih mengharap cinta mereka, meskipun dengan cara menyebalkan.
Deg
Jantung Nuna langsung berdetak cepat.
Masih cinta?
Terbesit dalam pikiran Nuna, apakah sebenarnya orang tuanya itu masih ada rasa cinta, meski mereka telah berpisah?
__ADS_1
Atau mungkin rasa cinta itu hadir setelah perpisahan?
Nuna menggelengkan kepalanya.
Itu tidak mungkin. Tapi sebenarnya apa sih yang mereka pertengkaran setelah perpisahan itu? Tidak bisakah mereka terlihat akur karena sudah terbebas satu sama lain? Mereka kan pada akhirnya akan bersama dengan orang yang mereka cintai.
Semakin banyak hal yang membuat Nuna enggan untuk menikah. Dan keluh kesah sahabat-sahabatnya itu, tanpa mereka sadari, membuat Nuna semakin berpikiran negatif tentang hubungan serius dengan pria.
Freya, yang pada dasarnya sudah mengenal Nuna jauh lebih lama, meski dia tidak ingat ... yang selalu mencegah yang lainnya terlalu banyak mengeluh di depan Nuna. Tapi yang namanya mulut, kalau sudah enak bergosip, terus saja bicara.
Di lain tempat
Para pria itu sedang meeting. Bukan meeting perusahaan, tapi ini lebih penting bagi mereka.
CARA JITU MENDAPATKAN SANG MANTAN
"Kenapa aku selalu dilibatkan dalam proyek ini? Memangnya mantan mana yang aku harus dapatkan kembali?"
"Nuna, lah."
"Ck, sudah aku hilang berkali-kali. Nuna itu bukan mantan aku."
"Dia kan mantan teman kamu."
"Mantan musuh kamu juga."
__ADS_1
Ikmal melirik sinis pada kertas yang berisi trik-trik khusus.
Ya ampun, CEO kok rapat beginian.