Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
85 Arby Yang Bijak


__ADS_3

🌼🌼🌼


Dia menatap orang-orang yang ada di sana. Nania dan yang menyusul belakangan merasa tidak enak. Nuna diam saja, menutup pintu itu dengan keras. Bahkan sebelum pintu tertutup, mereka masih sempat mendengar kedua orang tua Nuna yang masih saja melanjutkan pertengkaran dan saling menyalahkan.


"Maaf Nuna, kami tidak bermaksud terlalu ingin tahu urusan kamu." Nania merasa jadi tidak enak hati. Bagaimana pun juga, dia yang awalnya mengajak yang lain untuk menyusul Nuna. Tapi siapa yang sangka, kalau apa yang mereka dengar bukan hal yang menyenangkan.


Nuna menghempaskan dirinya di lantai. Dia ingin marah-marah, tapi mau melampiaskannya kepada siapa? Sahabat-sahabatnya tidak bersalah.


"Benar kan kataku, mereka memang tidak bisa diajak bicara baik-baik."


"Aku akan memesankan makanan, biar Ikmal yang mentraktir kita semua," ucap Arby.


Mereka hanya melirik Arby. Nuna menopang dagu. Dia tidak menangis, mungkin karena air matanya sudah malas untuk keluar karena kedua orang tuanya yang memang sejak dulu seperti itu.


Freya dan Rei memeluk Nuna dari samping.

__ADS_1


"Maaf Nuna, kalau saja aku tidak menganjurkan kamu untuk bertemu dengan kedua orang tua kamu, mungkin kamu tidak akan sedih seperti ini," ucap Freya.


"Bukan salah kamu Freya. Merekanya saja yang memang begitu. Seenaknya saja mau menjodohkan aku, menganggap pilihan mereka yang terbaik. Pernikahan mereka saja tidak sehat dan bercerai. Apa jadinya nasibku nanti kalau menikah dengan jodoh pilihan mereka?"


Ikmal menatap Nuna dengan sendu. Dia merasa iba dengan nasib sahabatnya itu.


"Aku akan bertemu dengan mereka lagi untuk mengenalkan Dika. Jangan sampai nanti mereka berpikir kalau Dika itu tidak punya sopan santun dan tidak mau meminta restu mereka. Sebenarnya Dika memang sejak lama mau bertemu dengan papa dan mama, hanya saja aku yang malas mengenalkan mereka. Bisa-bisa Dika illfeel dengan papa dan mama dan membuat aku semakin malu."


Mereka diam, sangat mengerti dengan apa yang Nuna rasakan. Rei semakin sadar kalau masalah hidup orang-orang memang berbeda. Dia yang dulunya miskin dan tidak punya kedua orang tua, harus melewati banyak ujian dan hinaan, tidak tahu apakah dia harus merasa lebih beruntung dari Nuna atau tidak. Menjalani hari-hari dengan cap pelakor bukan hal yang menyenangkan, tapi menjadi Nuna juga pasti sangat berat.


"Mungkin sekarang mereka belum menerima karena belum mengenal Dika," ucap Nania.


"Iya, kamu menikah dengan Dika juga tidak buru-buru, kan? Masih ada banyak waktu untuk mendekatkan Dika pada kedua orang tua kamu. Siapa tahu saja nanti hati mereka bisa menerima Dika. Ingat, api jangan dilawan dengan api."


Makanan yang dipesan Arby datang. Saat pintu ruangan itu terbuka, mereka bisa melihat kedua orang tua Nuna yang pergi, dan masih saja terdengar perdebatan mereka.

__ADS_1


Freya yang melihat kedua orang tua Nuna lewat itu terdiam.


"Sayang, ayo makan," ucap Arby.


Nuna hanya mengaduk-aduk makanannya. Dia sudah kehilangan selera makan karena kedua orang tuanya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Nuna. Ingat, jodoh tidak akan ke mana, dan tidak akan tertukar. Lihat saja bagaimana aku dan Freya, kan?"


"Tumben Ar, bijak?"


"Ya kali saja, pulang nanti aku bisa ajak Freya bikin dedek bayi beberapa ronde karena sudah berkata bijak pada sahabat kami hari ini."


"Dasar!"


"Memangnya bikin dedek bayi ada rondenya ya, Daddy?"

__ADS_1


__ADS_2