
Mereka menangis hari saat melihat Freya yang sudah membuka matanya. Meski kebahagiaan itu tidak sempurna, karena kini Freya benar-benar tidak mengingat sedikit pun tentang mereka. Tapi itu masih jauh lebih baik, dari pada mata indah itu tidak pernah terbuka lagi.
Dokter juga sudah mengatakan agar tidak membebani pikiran Freya tentang apa pun, tidak boleh memaksa perempuan itu untuk mengingat semuanya. Jadi, Nuna akan mengikhlaskan jika Freya tidak lagi mengingat tentang masa lalu mereka yang penuh warna.
Dika senang melihat Nuna yang kini terlihat lebih cerah. Pria itu tidak henti-hentinya memandang wajah Nuna.
"Kenapa melihat aku seperti itu?"
"Enggak apa. Kamu semakin cantik kalau tersenyum seperti itu. Jangan lagi bersedih Nuna, ada aku yang akan selalu menjaga kamu sampai kapan pun."
Nuna hanya mengangguk. Dia bukan tipe perempuan yang akan klepek-klepek saat seorang pria mengatakan hal itu.
"Ck, dia hampir sama seperti Ikmal, datar!" bisik Nania pada Rei dan Aruna.
"Apa mungkin karena itu dia dan Ikmal hanya bersahabat saja?" tanya Rei.
"Aku rasa bukan karena Nuna datar. Hanya saja dia masih takut untuk mengekspresikan dirinya. Takut kecewa atau patah hati," terang Aruna.
"Lihat saja kalau si Dika itu menyakiti hati Nuna, akan aku balas berkali lipat!" Nania memandang Dika.
__ADS_1
"Iya, kita sudah berjanji akan saling menjaga sampai kakek nenek. Sampai maut memisahkan kita."
Para pria yang juga diam-diam menguping obrolan para perempuan itu, bergidik geli mendengarnya, bukannya terharu.
"Ucapan mereka kenapa terdengar aneh, ya?" tanya Marcell.
"Iya, tapi apanya yang salah, ya?" tanya Vian.
"Aku akan menjaga kalian sampai kakek-kakek, sampai maut memisahkan kita." Mico berkata sambil menggenggam tangan Vian dan Marcell. Pria itu memberikan puppy eyes pada dua pria di hadapannya.
"Anjir!"
Ikmal yang melihat kelakuan mereka hanya menggelengkan kepala. Dia kembali melirik Dika dan Nuna yang duduk memisahkan diri. Setelah Dika pergi, Nuna lalu menghampiri mereka dan kembali duduk di sana.
Perempuan muda itu meminum minuman yang ada di hadapannya, tidak tahu itu milik siapa.
"Itu punya Ikmal, berarti secara tidak langsung kalian berciuman," ucap Nania menggoda.
"Masa sih?"
__ADS_1
Lalu Nuna menyentuhkan setiap bibir gelas itu ke mulutnya.
"Nih Mal, balas ciuman aku."
Ikmal langsung meminum sisa air di gelas itu.
"Sialan!" teriak Marcell. Enggak tahu iri atau kesal. Andai Nania juga mau seperti itu.
Ikmal dan Nuna hanya tertawa saja. Bagi mereka minum satu gelas yang sama sudah biasa. Bahkan sejak kecil mereka berempat suka suap-suapan untuk mencicipi makanan masing-masing. Arby yang menggendong Freya, dan Ikmal yang menggendong Nuna, atau bergandengan tangan saat bermain. Tidak ada yang salah bagi mereka, meskipun mereka berempat sekarang telah dewasa dan status Arby dan Freya yang berubah. Bagi Nuna dan Ikmal, mereka tetap sama.
Tapi mungkin nanti setelah Nuna benar-benar bersama Dika, maka keadaan akan berubah. Bagi Ikmal, Dika hanya orang asing yang tiba-tiba saja hadir. Jadi bukan hanya dia yang harus menjaga perasaan Dika agar tidak cemburu, tapi Dika juga harus memahami mereka semua yang hubungannya cukup unik antara tim perempuan dan tim laki-laki.
Dibilang musuh tapi akrab
Dibilang sahabat tapi sering berantem
Dibilang cinta tapi gengsi
Dibilang benci tapi saling menjaga
__ADS_1
Ya, seperti itulah mereka semua dari dulu sampai sekarang.