Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
124 Doa Dari Ikmal


__ADS_3

Kalau yang perempuan sibuk mengikuti sang istri, maka yang pria sibuk mengikuti sang suami.


Mereka sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh orang yang mereka ikuti. Mungkin karena ini secara tidak langsung ada hubungannya dengan Nuna.


"Aku tunggu di loby saja, lah," ucap Freya. Kakinya sudah sangat pegal, dia lebih suka memeriksa CCTV saja, karena baginya itu lebih aman, karena tidak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun.


Sementara Freya duduk di loby hotel, yang lain malah mengikuti perempuan itu. Freya memandang sekitarnya, dsn matanya melebar saat melihat para pria itu yang memasuki hotel, dengan Steven yang Sidah lebih dulu masuk dengan seorang perempuan.


Freya menghampiri mereka.


"Pasti mau menguntit, ya? Kan aku sudah bilang, kami mau bersenang-senang tanpa kalian!"


"Freya?


"Kamu ngapain di sini?"


Mereka lalu melihat ke sekeliling, mencari keberadaan yang lainnya, tapi tentu saja tidak ada. Arby tentu saja tidak akan menaruh curiga apa-apa pada Freya, karena dia sangat tahu bagai watak Freya.


"Sayang, kamu tega banget ninggalin aku sama Chiro berdua saja, kami kan kangen."


Yang lain mendengus, pria itu langsung lupa dengan tujuan utama mereka ke hotel ini. Mereka akhirnya duduk di loby, menunggu Nuna dan yang lain kembali.


Nuna akhirnya datang juga sepuluh menit kemudian. Ekspresi mereka sangat aneh. Antara mau ketawa, kesal, dan penasaran. Begitu melihat para pria itu, mereka langsung mendengus juga. Bisa-bisa gagal rencana mereka yang ingin bersenang-senang. Para pria itu terlalu protektif, sehingga mereka jadi merasa tidak bebas.

__ADS_1


"Bisa gak sih, sehari saja tidak ada kalian di antara kami. Berikan kami waktu bersama tanpa kalian."


"Mana bisa aku membiarkan Freya tanpa aku." Arby mendengus mendengar perkataan Nania.


"Dah, jangan pada berantem. Kita pesan kamar saja dulu di sini."


Arby langsung melotot mendengar perkataan Freya.


Pesan kamar?


Berarti mereka akan tidur di sini?


Lalu dirinya?


Ikmal melihat wajah Nuna yang sedikit lebih ceria. Ada apa dengan gadis itu? LAA terjadi sesuatu yang bagus?


Ikmal membuka laptopnya, di sana banyak folder-folder yang berisikan fotonya, Arby, Freya dan Nuna saat masih kecil.


Ikmal tersenyum saat melihat foto-foto itu. Ternyata waktu sudah berlalu begitu lama. Keempat bocah itu kini sudah dewasa, bahkan dua di antaranya sudah menikah dan memiliki anak.


Aku harap kamu juga akan segera bahagia, Nuna. Kalau kamu bahagia, maka aku juga akan bahagia. Arby dan Freya juga akan ikut senang. Aku tahu hati kamu begitu terluka karena Dika dan Steve, tapi tidak semua pria seperti mereka. Pasti akan ada satu pria yang akan menerima kamu apa adanya, begitu juga dengan keluarganya, hanya saja jodoh kalian masih tertunda.


Ikmal mengusap foto-foto itu dengan jarinya, kembali tersenyum saat mengingat masa kecil mereka yang bisa dikatakan tidak terlalu indah juga, karena Nuna yang sering di-bully dan kejadian buruk yang menimpa Freya.

__ADS_1


Pria itu menghela nafas berkali-kali. Merasa ada yang berat yang mengganjal hatinya. Ikmal merasa bersalah karena telah lalai menjaga Nuna. Mungkin seharusnya dia tidak membiarkan Nuna dekat dengan Dika saat itu, karena Nuna semakin menutupi diri, ditambah Steve yang tidak seperti diharapkan oleh yang lainnya.


Nuna, apa pun yang terjadi di masa lalu kamu, percayalah akan tiba waktunya kamu untuk bahagia.


Karena jodoh yang sesungguhnya, akan datang di saat yang tepat ....


.


.


.


.


Oya, baca dong cerita aku yang lain.


Dia, Yang Tak Diakui


Ceritanya juga enggak kalah seru, kok.


Perasaan yang aku lihat, dia lagi, dia lagi yang komen dan like🥺


__ADS_1


Dukung semua karyaku ya, Kak.


Ngomong-ngomong, cerita Dia, Yang Tak Diakui ini ikutan lomba, ya. Doakan yang terbaik, ya🤗


__ADS_2