
Nuna melihat kesibukan yang terjadi di rumahnya. Sebentar lagi dia lulus sekolah, dan tidak lama setelahnya papanya akan menikah lagi.
"Kamu baru pulang, ayo makan dulu."
"Cih, lagaknya sudah seperti nyonya di rumah ini."
Elvira berusaha bersabar mendengar kata-kata Nuna yang selalu ketus padanya. Dia ingin menjadi ibu sambung yang baik untuk Nuna, dan istri yang baik untuk Edwan.
Nuna masuk ke kamarnya, membereskan barang-barangnya. Tidak banyak, karena dia memang tidak terlalu suka membeli banyak barang. Nuna membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Waktu berlalu, hari ini adalah hari kelulusan Nuna dan sahabat-sahabatnya. Nuna melihat Arby, Ikmal, dan keluarga mereka ada di sana, tapi dia memalingkan wajahnya. Wajah Arby yang terlihat sendu, melihat ke arah mereka.
"Jaga diri kalian baik-baik," ucap Nuna pada Arby dan Ikmal. Hanya Arby dan Ikmal saja yang dia tegur, tanpa peduli dengan yang lainnya.
☘️☘️☘️
Nuna menarik kopernya, berjalan pelan-pelan dan meletakkan surat di dapur. Hanya surat itu saja yang dia tinggalkan untuk bi Sinta. Pelayan sekaligus orang tua baginya.
Saatnya menyongsong masa depan.
Nuna sudah memesan taksi, mengelabui para penjaga agar dia bisa pergi dengan lancar.
🍃🍃🍃
__ADS_1
"Tuan, Tuan ...."
"Ada apa, Bi?"
"Tian, nona Nuna pergi."
"Kan dia memang biasa pergi."
"Bukan, Tuan. Non Nuna pergi dan tidak akan kembali ke rumah ini lagi."
"Apa?"
Bi Sinta lalu memberikan surat itu.
Bi Sinta,
Nuna sayang bi Sinta.
Berhari-hari dicari, tapi tetap tidak ditemukan juga.
"Apa dia pergi bersama Freya?"
"Tapi hubungan mereka belum membaik sepenuhnya."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Nania dan Aruna?"
"Mereka ada di negara yang berbeda."
Berminggu-minggu, sampai berbulan-bulan, tetap tidak ditemukan juga.
Edwan berdiam diri di kamarnya. Dia merenung, memikirkan anak semata wayangnya. Selama ini dia sadar, belum memberikan kasih sayang yang baik sebagai seorang ayah. Hubungan yang tidak baik dengan mantan istrinya, membuat dia jarang di rumah. Nuna kurang ... bukan kurang, bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Pantas saja dia lebih akrab dan sayang dengan bi Sinta, pengasuhnya sejak dia dilahirkan.
Di lain tempat
"Ayo, Mon!" ajak Freya menggandeng tangan Monic.
Monic adalah Nuna, nama yang dia pakai saat ini. Terserah, mau itu Nuna atau Monic, yang penting sekarang dia tetap bersama sahabat-sahabatnya.
Nania yang sekarang dipanggil Zilda
Aruna menjadi Letta
Dan tentu saja Freya menjadi Naya
Ditambah lagi Rei, yang kisah masa lalunya juga kelam.
Mereka berlima menjadi keluarga tanpa ikatan darah. Saling membantu dan menolong.
__ADS_1
Monic bergandengan tangan dengan Naya, mensiki berbagai wahana permainan, seperti janji masa kecil dulu, kalau di umur tujuh belas tahun, mereka akan berjalan-jalan ke taman bermain, meski memang sudah sedikit terlambat dari usia tujuh belas tahun Freya.
Monic tidak memikirkan apa-apa lagi. Dia semakin giat belajar, dan bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia tidak memikirkan papanya, apalagi mamanya. Toh mereka juga tidak akan memikirkan dirinya. Dulu saja mereka lupa kalau masih memiliki anak dan malah sibuk dengan diri sendiri. Apalagi setelah mereka memiliki kehidupan yang baru dengan pasangan mereka?