Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
150 Kamu Seperti Bidadari


__ADS_3

Nuna tertunduk semakin dalam saat penghulu mulai berdiri.


"Tunggu!"


Seluruh perhatian kini terpusat pada suara seseorang yang terdengar ngos-ngosan.


"Maafkan saya terlambat."


Tangis Nuna semakin kuat. Bukan hanya karena merasa lega, tapi juga bercampur kesal dan takut.


"Maaf, aku terlambat. Jangan menangis lagi."


Steve mengusap air mata Nuna, ingin memeluk dan mengecup kening gadis itu, tapi tidak enak karena banyak yang melihat.


Mereka melihat Steve yang penampilannya sedikit berantakan. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat, kemejanya keluar dan basah di bagian badan. Jasnya bahkan hanya teronggok di lengannya.


"Rapihkan dulu penampilan kamu," ucap papa Steve.


Kakak dan kakak iparnya Steve bahkan baru masuk ke dalam ruangan, terlihat sama lelahnya.


Freya segera menyusul Steve, mengajak serta dokter spesialis jantung.


"Periksa dia!" ucap Freya.


"Freya, aku baik-baik saja."


"Jangan ngeyel! Turuti saja apa kataku!"


Memang terdengar sok mengatur, tapi mereka sangat tahu apa yang dilakukan Freya sebagai bentuk pedulinya. Bukan hanya untuk Nuna, tapi juga untuk Steve.


"Kamu sudah sarapan?" tanya dokter.


"Dia hanya makan sedikit saja tadi," jawab mamanya.


"Makan dulu sedikit, setelah itu minum vitamin."


Steve tidak bisa membantah di bawah tatapan orang-orang. Setelah memastikan kondisi pria itu, Freya lalu kembali ke ruangan acara.


"Ada apa, Beb? Semua baik-baik saja, kan?"


"Ya, kita doakan saja semua berjalan dengan lancar."

__ADS_1


Steve akhirnya kembali ke ruangan. Penampilannya sudah lebih rapih. Pria itu mengatur nafasnya.


"Siap semuanya?"


"Siap."


"Kalau begitu kita mulai, ya."


Jantung itu mulai berdebar kencang. Kalau semuanya lancar, akan ada status yang mulai berubah.


Ikmal menatap lekat Nuna yang hari terlihat sangat cantik.


Kamu seperti bidadari, batin pria itu.


Freya memejamkan matanya, air matanya perlahan menetes.


Arby tanpa sadar menahan nafasnya, melirik Ikmal yang terus memandangi Nuna tanpa berkedip.


Mereka bertiga, dengan Freya yang ada di tengah-tengah, tanpa sadar menahan nafas.


Arby dan Ikmal sama-sama teringat masa-masa yang telah mereka lewati bersama.


Freya dan Nuna yang sedang berlari, terjatuh bersama. Arby membantu Freya berdiri.


"Tenang saja, ada Ikmal yang akan menggendongnya."


"Kenapa Ikmal?"


"Karena aku aku hanya untukmu," ucap Arby pada Freya.


"Ikmal, Nuna jatuh, tuh."


Ikmal lalu membantu Nuna berdiri, membersihkan lutut gadis itu.


"Ayo, aku gendong."


Arby lalu menggendong Freya di punggungnya, sedangkan Ikmal menggendong Nuna.


"Aby, ayo lari." Freya meminta Arby menggendongnya sambil berlari.


"Jangan, nanti jatuh."

__ADS_1


"Kan ada kalian. Katanya kalau aku jatuh, ada Aby. Kalau Nuna jatuh, ada Ikmal."


"Mal, kamu akan tetap jagain Nuna, kan?" tanya Freya.


"Iya."


"Memangnya kamu mau terus jagain aku?" kali ini Nuna yang bertanya.


"Iya?"


"Sampai kapan?"


"Hm, sampai kapan pun kamu mau. Sampai ada anak laki-laki lain yang bisa menjaga kamu."


"Benar, ya?"


"Iya."


"Janji?"


"Iya."


"Iya, iya, mulu nih."


"Kalau bukan iya, masa mau aku jawab enggak, nanti kamu ngambek."


Nuna hanya tertawa saja dalam gendongan Ikmal. Semakin mempererat pelukannya di punggung pria itu.


Kedua pria itu akhirnya berlari sambil menggendong dua gadis kecil. Berteriak dan tertawa bersama.


Aku akan puas-puasin gendong kamu, Nuna, sebelum ada anak laki-laki lain yang marah.


Mereka tersadar dari lamunan mereka, saat mendengar suara seseorang.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ...."


.


.


.

__ADS_1


Lanjut gak, nih?


🤭🤣🤣🤣


__ADS_2