
Kalau dino anti asuhan, mungkin akan ada keluarga baik yang akan mengadopsi dirinya. Dia tidak akan dibully karena kedua orang tuanya.
Buat apa juga punya orang tua lengkap tapi tidak peduli dengan anaknya. Sibuk atau pura-pura sibuk. Nuna mengepalkan tangannya, kebencian dan rasa sakit hati itu kembali memenuhi dirinya.
Damian sering mengajak Nuna mengobrol, membuat gosip antara mereka berdua. Tapi Nuna tidak peduli, bagi dia, selama pria itu bukan pria beristri, dia tidak akan ambil pusing.
Damian sendiri juga cuek saja. Bagi dia, Nuna adalah dokter anaknya, yang baik dan enak diajak bicara. Tidak ada perasaan khusus, karena bagi dia, yang terbaik adalah istrinya, yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk memberikan dia keturunan
Ngomong-ngomong soal gosip dengan pria beristri, Nuna kembali teringat akan mamanya. Hal-hal seperti ini akan membuat dia ingat akan mamanya itu, juga masa lalunya, akan dirinya sendiri.
🍂🍂🍂
Hari ini Nuna dan yang lain akan mengunjungi Freya, karena tempat Freya bekerja lebih jauh. Di sana, mereka akan bermain ke pantai, tempat favorit mereka untuk berlibur.
Nania punya alasan khusus untuk menyukai pantai. Karena di pantai, dia bisa dengan bebas memberikan vitamin mata untuk matanya sendiri. Yaitu melihat badan-badan kekar para pria tampan tanpa larangan.
"Rencananya, seminar akan diadakan di Hawaii." Freya membagikan informasi yang dia dapat dari profesornya kepada teman-temannya itu.
"Asikkk ... Hawaii, aku datang. Lihat yang ganteng-ganteng, semoga menjadi jodoh di masa mendatangggg!"
Mereka menggelengkan kepala mendengar teriakan Nania.
__ADS_1
Dan setelah beberapa hari, kini mereka sudah berada di Hawaii, untuk mengikuti seminar keesokan harinya.
Tujuan utama mereka saat ini tentu saja pantai.
"Mommy!" suara yang terdengar familiar itu sayup-sayup didengar oleh mereka. Mereka langsung menoleh, dan melihat para pria itu.
Selain mereka, juga ada orang kepercayaan Arby dan seorang perempuan muda. Nuna melihat sinis perempuan itu, dia bisa langsung tahu kalau perempuan itu menyukai Arby.
Ikmal yang sadar akan tatapan sinis Nuna, langsung mengatakan sesuatu.
"Tenang saja, Arby tidak menyukai perempuan itu. Kalau iya, pasti sudah sejak lama mereka menikah."
"Lagian kenapa kamu yang repot, itu kan urusan Arby dan Freya. Mendingan kamu membuka hati kamu untuk seorang pria, menikah dan punya anak."
"Kenapa kamu yang repot, itu kan urusan aku. Mendingan kamu cari perempuan sana, menikah dan punya anak," jawab Nuna ketus.
Mereka terdiam, lalu tertawa. Memang seperti inilah mereka. Sok menasehati orang, lupa untuk menasehati diri sendiri. Sibuk dengan urusan orang, tidak ingat akan diri sendiri. Saling menjaga dan menyayangi, meski juga terkadang sangat kesal satu sama lain.
Nuna itu bagai penjaga Arby dan Freya, sedangkan Ikmal sebagai penengahnya, yang juga ikut menjaga Freya dan Nuna.
Nuna melirik Marva dengan sinis. Ikmal kembali menghela nafas. Dia sangat tahu kalau Nuna tidak menyukai Marva, tapi dia bisa berbuat apa? Itu adalah urusan Marva, Rei dan Vio. Meski Ikmal juga tahu, akan nada yang tersakiti, siapa dia, akan tahu jawabannya nanti.
__ADS_1
Marva juga tahu, sahabat-sahabat Rei itu membencinya.
Apa dia tidak sadar akan menyakiti banyak orang? Batin Nuna.
Kebencian Nuba pada Marva, melebihi kekesalannya pada Marcell dan Vian.
.
.
.
Tadi aku sudah selesai nulis bab ini, eh malah hilang 😭 terpaksa nulis ulang, dan gak hapal secara rinci isinya🤦♀️
**Khusus buat yang belum tahu, ya!
Untuk kisah Freya, baca AKIBAT PERNIKAHAN DINI dan JARAK.
Untuk kisah Rei, baca MOTHER.
Tapi baca Akibat Pernikahan Dini dulu ya, biar nyambung, karena cerita ini saling berhubungan😄**
__ADS_1