
Nuna menatap sendu sahabatnya yang kini berbaring di atas brankar dengan wajah pucat. Dia memegang tangan Freya yang dingin, mengusapnya dengan lembut agar tangan itu sedikit hangat.
Sudah beberapa hari ini Nuna tidak pulang ke apartemen. Dia tidak ingin meninggalkan Freya di rumah sakit, dan sangat takut mendengar kabar buruk.
Bangunlah Freya, buka matamu!
Sudah beberapa kali juga Nuna pingsan, dan membuat Ikmal merasa cemas.
"Makan, Nuna. Kalau kamu seperti ini, bagaimana bisa menjaga Freya? Freya juga pasti tidak mau kamu seperti ini."
Nuna diam saja, bagaimana bisa dia makan, kalau sahabatnya masih belum membuka mata. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Dika masuk dengan membawa beberapa tentengan.
"Nuna, mamaku membuatkan makanan untuk kalian."
__ADS_1
Dika tahu kabar tentang Freya saat dia datang ke rumah sakit, karena Nuna susah dihubungi, jadi dia pergi ke apartemen dan rumah sakit untuk mencari gadis itu. Memang tidak ada waktu bagi Nuna untuk membuka ponselnya.
Nuna masih diam saja, hingga Dika menyentuh tangan Nuna Menyadarkan Nuna dari lamunannya. Ikmal melihat perhatian yang Dika berikan untuk Nuna. Ikmal menghela nafas, tatapan gadis itu terlihat hampa. Ikmal sangat tahu bagaimana dekatnya Nuna dengan Freya.
Nuna kembali menangis saat melihat kesedihan Chiro dan kerapuhan Arby. Mendengar tentang kondisi Freya saat ini, yang tidak pernah selama ini Freya ceritakan pada siapa pun, membuat Nuna merasa bersalah. Seharusnya dia lebih memperhatikan sahabatnya itu.
Hari ini Nuna pulang ke apartemen. Dia, Nania, Aruna dan Rei memang bergantian pulang untuk membawa apa yang mereka butuhkan. Arby sudah menyiapkan apa saja yang mereka butuhkan selama di rumah sakit.
Nuna membuka lemarinya. Mengeluarkan kotak berwarna merah yang selama ini selalu dia simpan. Air matanya mengalir saat melihat isi kotak itu.
Bagi orang lain, memang bukan barang berharga dan sebagian barang itu akan mereka anggap sampah. Tali barang inilah, yang menjadi saksi bahwa masih ada orang yang peduli padanya, mes mereka tidak saling mengenal. Anggap saja Nuna berlebihan atau gila, dia tidak peduli.
Orang tuanya saja tidak pernah membelikan dia jajanan untuk dirinya saat mereka pulang kerja. Tidak ada yang datang menjemput dan memayungi dirinya. Dan tidak ada yang mengulurkan tangannya saat dia jatuh dan berkata, "Enggak apa, anak papa mama anak yang kuat. Jangan nangis ya, nanti cantiknya hilang."
__ADS_1
Benar, setelah Nuna ingat-ingat, orang tuanya memang tidak pernah mengatakan kalau dirinya cantik, sekedar untuk menyenangkan hati seorang anak dan berpikir bahwa dia adalah kesayangan kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya juga tidak pernah menanyakan nilai-nilainya.
"Nuna, berapa nilai kamu?"
"Enam."
"Enggak apa. Nanti juga lebih bagus lagi. Kita harus rajin belajar biar cita-cita kita tercapai. Nanti kalau nilai kamu bagus, aku akan membelikan permen untuk kamu."
"Permen?"
"Iya, permen. Kalau nilai-nilaiku bagus, opa dan Oma biasanya memberikan aku buku baru. Padahal aku ingin sekali dibelikan permen, es krim atau coklat. Jadi, biar aku saja yang memberikan kamu apa yang aku mau."
__ADS_1
Benar, lagi-lagi Nuna merasa sakit. Biasanya orang tua akan menjanjikan sesuatu agar nilai anaknya bagus dan mau rajin belajar, tapi dia ... tetap saja diacuhkan.