
Bi Sinta mengusap kepala Nuna saat gadis itu telah tertidur, lalu dia keluar dari kamar Nuna.
"Non Nuna sudah tidur, Tuan."
☘️☘️☘️
Waktu terus berjalan. Di sekolah, Nuna tetap menjadi anak yang terlihat baik-baik saja.
"Hai, Nuna. Kenalkan namaku Enrick."
Nuna melihat pria yang berdiri di hadapannya itu mengulurkan tangannya. Nuna diam saja, dan pergi meninggalkan Enrick.
Memang ada beberapa murid pria yang mengajak Nuna berkenalan, tapi Nuna tidak peduli.
Setelah mereka tahu bagaimana mamaku, mereka pasti akan memandang jijik padaku. Jangankan mengajak kenalan, menyebut namaku saja mereka tidak sudi!
Arby dan Ikmal yang melihat itu dari kejauhan diam saja.
"Seharusnya kita juga mundur kelas saja, Mal. Biar bisa satu kelas sama mereka."
"Terus Marcell dan Vian bakalan ketawa, bilang kita bego?"
Arby dan Ikmal terus saja memperhatikan empat cewek galak yang tidak jauh dari mereka itu.
"Kalian lagi lihatin siapa, sih?" tanya Vian.
"Enggak ada!" jawab Arby dan Ikmal.
__ADS_1
"Gimana caranya biar aku bisa baikan pada Nania?"
Marcell lalu melihat Arby, Ikmal dan Vian yang diam saja tidak menjawab pertanyaannya. Mereka bertiga terlihat tidak fokus, melihat ke satu arah yang sama.
"Dengar, terserah siapa yang kalian suka dari mereka, tapi jangan Nania!"
"Jangan Nuna dan Freya," ucap Ikmal. Arby lalu melirik Ikmal.
"Kamu jangan serakah Mal, masa mau sama dua-duanya. Marcell saja yang playboy cuma pilih satu!"
"Yee, bukan itu. Nuna itu kan sebentar lagi akan jadi keluarga kita juga."
"Iya, kalau tante kamu jadi menikah dengan papanya Nuna. Kali saja batal, kan."
"Kalau batal, kamu dan Nuna saja yang menggantikan mereka."
"Maksudnya?"
"Iya tuh, kalau Nuna jadi keluarga kita, nanti aku bisa mendekati Nania."
"Dasar kalian!" Ikmal melempar ketiga pria itu dengan kulit kacang. Marcell yang sedang minum tersedak dan tidak sengaja mengotori baju Freya yang sedang lewat.
"Woy, lihat nih baju aku jadi kotor!"
Teriakan Freya itu langsung membuat ketiga sahabatnya menghampiri.
Lagi-lagi terjadi pertengkaran di antara mereka.
__ADS_1
"Jangan galak-galak, Freya!" ucap Arby. Freya mendelik kesal pada Arby. Dia melihat Arby, dan mereka saling pandang.
"Heh, pasukan jelek dan biang onar ...."
"Ada apa lagi sih ini? Kenapa kalian berdelapan ini selalu saja cari masalah. Ini lagi kalian berempat, kalian ini perempuan, tapi kenapa suka bertengkar dengan laki-laki? Ayo, ikut ibu ke ruang guru!"
Di ruang guru, mereka berdelapan diceramahi habis-habisan.
"Pada teman itu harus rukun ... bla bla bla ...."
"Yang senior harus bisa membimbing juniornya, harus sayang. Yang Junior juga harus bisa menghormati seniornya."
Sementara guru mereka sibuk memberikan petuah, mata mereka merem melek karena mengantuk.
"Sebenarnya, apa sih yang kalian ributkan?"
Guru itu sangat penasaran, sebenarnya ada perselisihan apa antara tim cewek yang menjadi junior dengan tim cowok yang menjadi senior?
"Masalah anak muda, Pak!"
Pak Guru yang bernama Rangga itu geleng-geleng kepala.
"Bapak doakan kalian berdelapan berjodoh!"
"Aamiin," ucap Arby, Marcell dan Vian. Marcell laku menepuk punggung Ikmal dengan kencang, dan Ikmal reflek berkata, "Aamiin."
"Ayo, sekarang kalian bersalaman dan saling meminta maaf! Atau bapak hukum kalian membersihkan mobil semua guru."
__ADS_1
"Ingat, kalian senior itu harus bisa membimbing junior kalian!"
"Iya deh Pak, saya bimbing dia ke pelaminan."