
Nuna menggigit bibirnya saat sahabatnya itu harus kehilangan rambutnya. Meskipun mereka menangis, tapi wajah Freya selalu tersenyum. Tidakkah Freya tahu kalau itu semakin menghancurkan hati mereka?
"Rambutku masih bisa tumbuh lagi. Lagi pula, nanti aku tidak perlu repot-repot menyisirnya, kan? Juga tidak akan menghabiskan banyak sampo." Freya mengatakan semua itu sambil tertawa.
Nuna menepuk dadanya, mencoba menahan sesak meski sangat susah dia lakukan. Bayangan tentang peri kecil berkuncir kuda itu hadir. Bagaimana bisa si peri itu kini harus kehilangan rambutnya? Si gadis kecil berpita merah.
Nuna sangat ingat, aroma sampo apa yang menjadi favorit Freya.
Dulu waktu mereka masih kecil, mereka suka membentuk rambut mereka menjadi model-model yang lucu-lucu. Berjanji akan memanjangkan rambut mereka agar bisa dibentuk sesuka hati.
"Terasa lebih sejuk di kepalaku," lagi, Freya berkata tanpa ada yang menjawab.
Nuna mengatur nafasnya berkali-kali.
Kini rambutnya juga tak sepanjang dulu. Bukan hanya dia, tapi yang lainnya juga. Setelah rambutnya dipotong, Nuna memeluk Freya.
__ADS_1
"Kamu harus kembali untukku. Kalau kamu tidak bisa kembali untukku, kembalilah untuk Arby dan Chiro. Kamu harus tahu, bahwa kamu adalah yang terbaik dalam hidupku hingga saat ini. Terima kasih telah menjadi sahabatku. Kalau suatu saat nanti kamu melupakan aku, aku tidak akan marah," bisik Nuna di telinga Freya.
Nuna kembali mengusap air matanya. Dia, Nania, Aruna dan Rei bergandengan tangan. Meski mere tidak ingin menangis di depan Freya, namun air mata itu tak dapat ditahan.
Sebagai seorang dokter, mereka sudah biasa melihat sanak keluarga yang bersedih mengenai keadaan keluarga mereka yang sakit. Dan kini mereka merasakan apa yang orang lain rasakan.
Rasanya, kata-kata penghiburan dari dokter atau apa pun itu, tiada artinya. Kini mereka paham apa yang dirasakan oleh keluarga pasien. Sedih, bahkan takut kehilangan.
Mereka juga sudah cukup sering melihat keluarga yang menangis di sisi brangkar saat mendapati orang yang dicintai meninggal. Membayangkan semua itu, membuat hati dan kepala mereka berdenyut.
Tetap bertahan hidup, atau pergi ke tempat yang tidak akan lagi ada rasa sakit.
Nafas mereka tercekat.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Pagi ini, hawa terasa dingin. Mata mereka berembun dan jantung berdetak tak karuan. Satu persatu mereka menggenggam tangan Freya.
Tanpa kata, hanya dari pandangan mata, mereka seolah saling memahami.
Chiro memeluk Freya dengan erat. Mengecup seluruh area wajah Freya.
"Jaga diri kalian semua baik-baik." Kata yang diucapkan Freya itu adalah kata terakhir sebelum pintu ruang oper ditutup.
Jangan menangis, Freya tidak suka dengan perempuan yang lemah dan cengeng. Freya tidak suka dengan perempuan yang mudah ditindas. Sejak kecil, Freya sudah mengajarkan Nuna untuk menjadi perempuan yang tegar, apa pun yang terjadi.
Tapi, bolehkan kali ini Nuna melanggarnya? Kalau Freya pergi, lalu bagaimana dengan Chiro?
Nuna mengigit bibir dalamnya hingga berdarah. Rasanya tidak sakit, karena ada hal lain yang lebih menyakitkan.
Rei pun membekap mulutnya sendiri. Dia tahu, Rei juga sangat menyayangi Freya. Sama seperti Nuna, bagi Rei, Freya juga adalah sahabat pertamanya. Saudara bagi Rei, dan sang penolong di saat Rei selaku mendapatkan masalah.
__ADS_1
Tubuh Nuna sudah tidak kuat lagi, akhir ya dia luruh juga dalam dekapan seseorang.