
"Nuna, kamu sudah pulang?"
Wajah Nuna semakin ditekuk setelah melihat Elvira ada di dalam rumahnya. Matanya kembali melotot melihat cincin yang ada di tangan Elvira.
"Kenapa cincin ini ada padamu?" tanya Nuba dengan kasar.
"Oh, ini cincin yang papa kamu berikan pada tante."
"Berikan cincin itu padaku, sekarang!"
"Tapi ...."
"Berikan!"
"Nuna, kamu ini apa-apaan? Kalau kamu mau cincin, papa akan memberikan kamu yang baru."
"Gara-gara cincin ini, Freya jadi memusuhiku. Kenapa tante Julia menyuruhku mengambilkan cincin ini, tapi justru cincin ini perempuan ini yang memakainya?"
"Berikan cincin itu padaku, dasar perempuan murahan!"
"Jaga bicara kamu, Nuna!"
"Lihat, papa sekarang membentakku. Dulu saat masih bersama mama, papa selalu mengabaikan aku, dan sekarang karena perempuan ini papa membentakku."
"Nuna, papa ...."
"Kalau perempuan ini tahu malu, seharusnya dia tidak lagi menemui papa. Aku tidak suka dengannya, dia pembawa sial!"
__ADS_1
Elvira merasa sesak di hatinya. Anak dari pria yang dicintainya sangat membencinya.
"Berikan cincin itu!"
"Nuna, jangan seperti itu."
"Diam kamu Ikmal!"
"Nuna ...."
"Kamu juga diam Arby. Kamu itu juga menyebalkan, pantas saja Freya membenci kamu. Tidak lama lagi dia juga pasti akan meninggalkan kamu!"
"Nuna!"
"Ini semua gara-gara perempuan ini."
Elvira menghela nafas berat, tadi sebelum Nuna pulang, keadaan masih baik-baik saja.
"Ya, dan aku akan segera pergi dari rumah ini. Jangan harap kalian akan menemukan aku jika bukan aku sendiri yang menampakkan diri."
Nuna lalu merebut paksa cincin di jari Elvira.
☘️☘️☘️
Hari-hari Nuna berjalan dengan sangat hampa. Pertama kali dia bertemu lagi dengan mamanya, saat kepala sekolah menghubungi orang tuanya karena terlibat perkelahian.
Mamanya datang dengan suami barunya. Suami yang ke berapa? Nuna tidak mau menghitungnya. Tapi yang jelas, wajah mamanya terlihat lebih bahagia. Nuna tidak berharap mamanya akan datang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu, Nuna? Kenapa kamu bertengkar dengan teman sekolah kamu?"
Nuna diam saja, sedangkan suami mamanya hanya melihat Nuna dengan tatapan datar.
"Nuna, kalau apa apa-apa kamu bisa menghubungi mama kamu dan ayah. Ini nomor ponsel ayah."
Nuna memalingkan wajahnya saat suami mamanya itu bicara. Dia melirik Freya, yang juga sedang meliriknya. Terlihat jelas kalau Freya juga sedang kesal karena kedua orang tuanya.
Ruang kepala sekolah itu penuh dengan orang tua murid yang terlibat perkelahian.
"Mereka ini biasanya akur, tapi kenapa sekarang malah bertengkar?" jelas kepala sekolah.
Tidak ada yang menjawab. Semua ini karena Arby. Arby dan Nuna saling lirik, dan itu tidak lepas dari penglihatan Freya.
"Keluarkan saja mereka dari sekolah ini!" Freya menunjuk Arby dan Nuna.
"Cukup Freya! Kamu ini murid berprestasi, jangan sampai beasiswa kamu dicopot dan kamu dikeluarkan dari sekolah ini."
"Kalau begitu keluarkan saja aku, memangnya sekolah hanya ini saja!"
"Tenang saja Freya, kalau kamu ke luar, aku juga ikut pindah bersama kamu," ucap Nania.
Nuna melirik Freya, sebelum gadis yang penampilannya berantakan ini bicara, kepala sekolah langsung memotong.
"Jadi kenapa kalian bertengkar?"
"Mamanya pelakor, tukang kawin cerai kawin cerai ...."
__ADS_1
Wajah Nadia (mamanya Nuna) memerah mendengar perkataan Freya.
"Kamu anak kecil jangan ikut campur!" geram Nadia.