Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
134 Membuat Melow


__ADS_3

"Waaahh, sudah lama ya kita tidak bersenang-senang seperti ini."


"Iya, biasanya liburan kita selalu saja direcoki oleh mereka—para pria itu."


Kalau biasanya mereka akan memilih pantai, kali ini mereka memilih daerah pegunungan, agar tidak mudah dilacak oleh Arby.


"Nuna, apa kamu menyukai Steve?"


Nuna tidak menjawab pertanyaan Freya, dan Freya bisa langsung menebak kalau sahabatnya itu sebenarnya menyimpan perasaan pada Steve.


"Aku ... aku tidak mau kamu terluka lagi, tapi keputusan apa pun yang kamu pilih, aku akan mendukungnya."


...🌼🌼🌼...


Masa liburan mereka telah usai. Nuna kini kembali terbiasa tanpa Steve. Dia fokus kepada pasien-pasiennya, sibuk di rumah sakit, klinik, dan yayasan sosial milik mereka. Desakan dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan pilihan mereka tidak Nuna hiraukan.


"Nuna!" Nuna menoleh ke belakang saat seseorang memanggil dirinya. Yuta berjalan. dengan cepat menghampiri gadis itu.


"Apa kabar?"

__ADS_1


"Baik. Kamu sedang apa di sini? Sakit?"


"Oh, enggak. Hmmm ...."


"Aku masih ada beberapa pasien. Kalau memang ada hal penting yang mau dibicarakan, kamu bisa menunggu di kafe depan rumah sakit."


Yuta tersenyum melihat kepekaan Nuna. Pria itu mengangguk, hanya kata-kata langsung pergi. Nuna menghela nafas, sepertinya menjauh dari masa lalu itu memang sangat sulit. Ada saja yang datang, meski tidak diundang, dan pergi kalau mereka sudah tidak butuh.


Dasar!


"Cepat sembuh ya, Pak," ucap Nuna pada pasien terakhirnya hari ini. Dokter muda itu kembali ke ruangannya setelah memeriksa kondisi pasien di ruangan VIP.


"Ada apa?" tanya Nuna pada Yuta.


"Lemon tea saja."


Lima menit mereka saling diam, Yuta terlihat seperti orang galau saja.


"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan?"

__ADS_1


"Hmm, bagaimana hubungan kamu dengan Steve?"


Gadis itu mengeryitkan keningnya.


"Biasa saja."


Yuta bisa melihat gurat kekecewaan dan lelah. Yuta sangat tahu bagaimana dulu Nuna dan Steve. Dia salah satu saksi bagaimana perjuangan pria itu. Yuta sendiri belum tentu bisa seperti Steve.


"Steve ... sangat mencintai kamu, Nuna ...."


Nuna menatap Yuta, mencoba meraba-raba apa maksud dari perkataan Yuta. Apa dirinya harus dilambungkan lagi setinggi langit, lalu dijatuhkan begitu saja?


Apa rasa sakit hatinya masih kurang untuk pria-pria ini? Apa hatinya sebegitu tidak berharganya hingga mereka tidak peduli bagaimana dia Haris menahan semua ini seorang diri? Apa dirinya hanya pantas dijadikan bahan olok-olok karena selalu gagal, dan gagal lagi?


"Aku ... kamu, apa kamu pernah mencintai Steve? Apa kamu pernah merasa kehilangan dia?" Wajah Nuna langsung menjadi sendu. Bicara tentang Steve selalu membuat dia melow, dia sendiri juga tidak tahu kenapa.


Mata Nuna melirik kiri kanan, seperti menahan agar air mata itu tidak jatuh. Yuta menahan nafas sesaat, merasa ikut sedih dengan keadaan gadis di hadapannya ini.


Pelayan kafe mencuri-curi pandang ke dokter muda itu, yang kali ini dikunjungi oleh pria lain.

__ADS_1


Yuta menghela nafas berat, berada di posisi ini sangat sulit baginya. Dia ragu, maju atau mundur. Tapi bukankah dia sudah ada di hadapan gadis itu? Dia sudah menyiapkan semuanya, menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Nuna. Tidak perduli kalau nanti dirinya akan dibenci oleh sahabatnya sendiri, Steve. Tapi ini harus dia lakukan, agar hatinya menjadi tenang.


"Nuna, sebenarnya aku ...."


__ADS_2