Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
44 Bertemu Lagi Dengan Dia, Dan Dia


__ADS_3

Mereka sedang makan di restoran hotel. Dua kubu ini, meskipun tidak ada di meja yang sama, tapi bersebelahan. Nuna masih saja mendengkus dengan wajah cemberutnya. Dia sangat membenci para pria itu, kecuali Arby dan Ikmal, hanya karena mereka berdua sahabat masa kecilnya.


Kehebohan terjadi saat seseorang di masa lalu datang. Seorang yang juga berperan sangat penting dalam kehidupan Freya dan Arby.


Freya terlihat sangat bahagia bertemu kembali dengan Mico. Nuna memandang wajah Mico, yang dibalas Mico dengan kedipan mata.


Yang terlihat paling tidak suka di sini tentu saja Arby. Mico bahkan bisa langsung akrab dengan Chiro, Radhi dan Raine. Nuna tanpa sadar tersenyum, melihat Mico yang terlihat bisa cepat akrab dengan ketiganya.


Di meja yang lain, ada yang memperhatikan mereka. Dia melihat Freya yang pergi ke toilet, lalu mengikuti Freya. Menunggu di depan toilet perempuan.


"Kamu Freya, kan?" tanyanya.


Freya menatap orang itu dengan bingung, merasa tidak mengenal orang itu.


"Siapa, ya?"


"Aku Dika, mantan teman sekolah kamu."


"Iya. Kita dulu satu sekolah di Singapura." Freya terlihat bingung, dia lalu kembali ke tempat teman-temannya sambil berpikir.


Mereka melihat seorang pria yang mengikuti Freya di belakangnya. Pria itu lalu melihat Nuna.


"Kamu Nuna, kan? Kamu masih ingat aku?"

__ADS_1


"Siapa?"


"Ya ampun, kalian tega banget, enggak ada yang ingat sama aku. Aku Dika."


"Dika siapa?"


"Dika, teman satu sekolah saat di Singapura."


Kecuali Freya, Nuna, Ikmal dan Arby berpandangan, lalu melirik Freya.


"Aku kangen banget sama kamu, Nuna."


Mereka langsung melotot saat pria yang bernama Dika itu memeluk Nuna.


Freya terlihat bingung. Dia tahu dia dulu kecelakaan, tapi tidak ada yang pernah benar-benar menceritakan masa lalunya dulu.


Nuna, Ikmal dan Arby menatap Dika, mengingat-ngingat siapa pria ini. Nuna lalu teringat dengan seorang pria yang dulu sering menyapanya. Pria yang mengajaknya berkenalan, pria berkacamata yang dulu dia cuekin.


"Kamu cowok yang dulu berkacamata itu, kan? Yang dulu ngajak aku kenalan."


"Wah, akhirnya kamu ingat juga. Oya, aku enggak bisa lama-lama di sini, aku minta nomor ponsel kamu dan Freya, ya."


Freya dan Nuna lalu memberikan nomor ponselnya pada Dika, karena bujukan Nania yang katanya semakin banyak teman, semakin bagus, apalagi kalau ganteng.

__ADS_1


Arby mendengkus. Kenapa nomor ponselnya dan Ikmal tidak diminta.


"Saingan kita, Mal," bisiknya pada Ikmal.


"Kita? Kamu saja, kali."


"Ck, nanti kalau Nuna menikah sama orang lain, kamu nangis darah!"


"Kamu yang nangis racun, kalau Freya menikah sama orang lain."


Ingin sekali Arby menggaplok Ikmal, nyahutin mulu kalau dikasih tahu. Lah iya, Arby kan bukan orang tuanya Ikmal, ya enggak salah kalau disahutin mulu.


Melihat Ikmal dan Arby yang bisik-bisik, membuat Mico menyeringai jail.


"Kalian ngapain? Ciuman?"


Wajah Arby dan Ikmal langsung merah padam. Nuna melebarkan matanya, lalu menatap Ikmal dengan curiga. Matanya terpicing, dengan tatapan horor.


"Aku masih normal loh, Nun."


"Kok ngejelasinnya ke Nuna? Bukan ke Freya?"


"Cieee, takut ada yang salah paham."

__ADS_1


Arby dan Ikmal melihat Mico dengan ketus. Pria ini sejak dulu selalu saja bikin kesal.


__ADS_2