
"Mon, aku serius sama kamu. Nanti saat kita kembali ke Indonesia, ayo kita menikah."
Steve sekarang memanggil Nuna dengan nama Monic, sesuai permintaan gadis itu, meskipun Steve tidak tahu apa alasannya.
Monic tentu saja diam, kaget mendengar perkataan Steve tentang pernikahan. Jujur saja, Monic sendiri merasa heran, kenapa Steve yang berkuliah di Jepang, bisa sering mengunjungi mereka yang ada di benua yang berbeda. Apa tidak berat di ongkos? Melihat dari situ saja, seharusnya Monic sudah tahu keseriusan Steve.
Mau menolak, tapi dia juga harus menggunakan kata-kata yang tepat, kan?
Monic menghela nafas, memandang wajah tampan Steve yang menatapnya penuh harap.
"Aku belum memikirkan tentang pernikahan. Apalagi saat ini, aku masih kuliah kedokteran."
"Setidaknya, kita bisa bertunangan dulu, agar kita terikat. Jujur saja, setiap kali kita jauh, aku takut ada pria lain yang mendekati kamu, dan itu memang benar, kan?"
Tentu saja itu benar. Bukan hanya Monic, sahabat-sahabatnya juga banyak yang mendekati.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang. Oya, dua hari lagi aku akan kembali ke Jepang."
__ADS_1
🌺🌺🌺
"Kita tidak bisa menutup mata, kalau banyak pengorbanan yang Steve lakukan untuk kamu kan, Mon?"
Mereka mengobrol di apartemen sambil mengerjakan tugas kuliah. Buku-buku tebal menumpuk di hadapan mereka.
Bungkus cemilan dan minuman berantakan di lantai.
"Aku tidak akan memikirkan tentang pria."
"Memangnya kamu mau menjadi perawan tua?"
Naya dan Rei diam saja, tidak memberikan saran apa pun, karena kehidupan percintaan mereka pun lebih kacau dari pada Zilda dan Letta.
"Nanti juga kalau sudah ketemu jodohnya, dia akan menikah," ucap Naya akhirnya, menutup buku, juga menghentikan perdebatan Monic dan Zilda.
"Selagi masih single, nikmati saja dulu. Nanti kalau sudah punya suami, apalagi anak, belum tentu kita bisa sebebas ini." Naya menghela nafas berat, dan mereka tahu apa yang Naya pikirkan saat ini, pasti masa lalunya.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Monic berbaring di kasurnya. Memikirkan tentang masa depan, lebih tepatnya tentang pernikahan. Yang dia bayangkan, adalah pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi.
Monic menggelengkan kepalanya, merasa takut duluan. Orang-orang di sekitarnya menunjukkan kalau pernikahan itu buruk. Lihat saja bagaimana dengan kedua orang tuanya, yang akhirnya membuat dia terlantar.
Lihat saja bagaimana menderitanya Naya dan Rei.
Lihat saja bagaimana Zilda dan Letta, yang meskipun status mereka dulu hanya sempat dekat dengan Marcell dan Vian, tapi juga tetap merasakan sakit hati.
Luka fisik bisa disembuhkan, tapi luka hati akan sangat sulit. Monic tidak ingin menikah, takut nanti akan membuat dirinya kecewa, dan akhirnya membuat anaknya menderita. Monic sangat tahu bagaimana perasaan anak yang menderita karena hubungan kedua orang tuanya yang tidak baik.
Dia jadi teringat Arby dan Ikmal, kedua pria itu, sebagai sahabat memang baik, entah bagaimana sikap mereka sebagai suami. Entah Arby itu suami yang baik atau tidak sebenarnya.
Sedangkan Ikmal? Memang dia juga sahabat yang baik, tapi mana Monic tahu nanti jika pria itu sudah memiliki pasangan, jangan-jangan sama seperti Arby juga.
Marcell dan Vian?
__ADS_1
Monic mendengkus kesal. Memang pantas si Marcell itu dibenci oleh mereka. Dasar playboy sialan!