Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
6 Kue


__ADS_3

Tidak lama kemudian, datang lagi dia murid baru laki-laki. Yang Nuna lihat, kedua murid itu sejak tadi terus saja melihat ke arah Freya.


"Sekarang kalian duduk di bangku yang kosong itu, ya."


Salah satu dari murid baru itu mendekati Kendra, murid yang duduk di sebelah Freya.


"Aku mau duduk di sini."


"Arby, kamu duduk di salah satu bangku yang kosong itu, ya," ucap sang guru.


"Tapi aku mau duduk di sini."


Anak laki-laki yang dipanggil Arby itu terus saja berdiri di situ, tetap ingin duduk di sebelah Freya.


"Kendra, kamu duduk di sebelah Akiko, ya."


Kendra akhirnya mengalah. Sambil mendelik kesal pada Arby, dia pindah ke sebelah Akiko. Sedangkan Murid baru yang satu lagi duduk di sebelah Arby.


Jam istirahat di mulai, mereka membubarkan diri untuk pergi ke kantin. Freya membuka bekal makanannya, juga mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya.


"Nuna, ayo kita makan bersama. Aku bawa bekal dari rumah."


Freya dan Nuna akhirnya memakan bekal yang dibawa oleh Freya. Bukan makanan sederhana, tapi makanan mewah yang biasa ada di hotel-hotel.


"Aku juga mau," jawab Arby tersenyum pada Freya, lalu langsung berwajah datar saat melihat Nuna.

__ADS_1


Nuna kembali menunduk, tidak mau melihat Arby dan Ikmal.


"Jangan melihat Nuna seperti itu, aku tidak suka."


"Apa?"


"Jangan galak pada Nuna, aku tidak suka."


"Oke," jawabnya singkat. Lalu tanpa permisi mengambil makanan milik Freya. Bukan menyuapi ke dirinya sendiri, tapi ke mulut kecil Freya.


Nuna melihat itu dengan bingung, tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Kamu siapa?" tanya Freya pada Arby.


"Arby, kamu lupa sama aku?"


Arby menghela nafas saat mendengar perkataan Freya, dan wajahnya langsung cemberut kesal. Tapi langsung tersenyum lagi saat Freya melihatnya.


Sejak saat itu, mereka berempat jadi berteman baik. Nuna sadar, Arby dan Ikmal mau berteman dengannya karena ada Freya.


Freya yang pintar, dan cantik, tentu saja mengundang banyak perhatian dan minat orang.


"Nuna, ayo kamu juga harus belajar bela diri," ucap Freya.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Ya untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kamu. Kata opa dan oma, kita harus bisa menjaga diri sendiri, meskipun kita ini perempuan, tapi harus memiliki banyak kemampuan agar tidak diremehkan."


Dia selalu menyebut opa dan omanya, tapi tidak pernah menyebut orang tuanya, apa orang tuanya sudah meninggal?


Tapi orang tuaku juga masih ada, dan aku tidak pernah menyebut mereka.


Keesokan harinya, Arby membawa bekal untuk mereka. Makanan sederhana, tapi membuat wajah Freya langsung berbinar.


"Aku mau lagi," ucap Freya yang baru saja menghabiskan kue itu.


"Sudah tidak ada lagi."


"Ini apa sih, rasanya aneh, tapi enak."


"Ini namanya dodol, kalau yang itu lemper, kalau yang satu lagi namanya lepet."


Arby menunjuk sampah bungkus makanan itu.


"Oh. Ini beli di mana?"


"Yang dodol dapat kiriman, kalau yang dua lagi dibuat oleh koki di rumah."


Nuna yang melihat wajah ceria Freya saat makanan makanan sederhana itu, langsung memiliki pikiran untuk meminta bi Sinta juga membuatnya.


Freya adalah teman pertamanya, yang tidak mengucilkan dan memandang jijik padanya.

__ADS_1


"Kamu juga mau kue itu?" tanya Ikmal pada Nuna.


"Besok kami akan membawa lagi. Saudara-saudara kami baru saja datang ke sini, di rumah masih ada banyak," lanjut Ikmal.


__ADS_2