
Hubungan Nuna dan Dika semakin dekat. Saat tidak berkumpul dengan para sahabatnya, Nuna akan jalan-jalan bersama Dika. Dika adalah pengalihan yang paling baik bagi Nuna saat teman-temannya sibuk. Karena dengan kehadiran Dika, Nuna bisa sedikit melupakan kekesalan pada kedua orang tuanya.
Hari ini, Dika mengajak Nuna untuk bertemu dengan keluarganya yang sudah datang dari Singapura. Nuna membeli buah-buahan, padahal dia sudah membuat kue dengan tangannya sendiri.
"Ciee, yang mau bertemu dengan calon mertua," ledek Nania.
"Apaan, sih." Nuna hanya tersenyum malu. Doa memang belum memberikan kepastian untuk Dika, karena ingin mengenal pria itu lebih banyak, juga keluarganya. Kalau memang keluarganya tidak menyukai dia, maka dia akan mundur dan tidak akan merasakan sakit hati yang berlebihan. Mendapat penolakan dari kedua orang tuanya lah yang paling menyakitkan bagi gadis itu.
Freya hanya melihat Nuna yang sedang berdandan. Pandangan mata menyiratkan rasa kecewa. Tapi dia tidak mau mematahkan sayap gadis itu yang baru saja bisa mulai membuka hati untuk seorang pria.
Bel apartemen berbunyi, Nuna langsung membukanya dan Dika memberikan seikat bunga untuk gadis cantik itu.
"Aku pergi, ya. Doakan aku," ucap Nuna dengan tersenyum.
Selepas Nuna pergi, wajah Freya langsung manyun.
"Ck, rasanya aku belum puas kalau belum melampiaskan kekesalan aku."
Perempuan itu langsung beranjak dari duduknya.
"Eh, kamu mau ke mana Freya?"
"Kalau mau ikut, ikut saja. Tapi jangan halangi apa yang akan aku lakukan!"
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di tempat yang Freya tuju.
__ADS_1
Freya menekan bel itu dengan tidak sabaran.
"Sayang, kamu di sini?" tanya Arby sambil senyum GR. Pasti gadis pujaannya itu sangat merindukan rayuan maut dari dirinya.
"Mana si Ikmal!"
Wajah tampannya langsung manyun. Kenapa pria jelek itu yang dicari?
"Heh, Ikmal buruan ke sini!" teriak Freya.
"Freya? Kenapa?" tanya Ikmal.
"Gara-gara kamu tuh, Nuna jadi jalan sama cowok lain."
"Nuna jalan sama Dika ke rumah orang tua Dika."
"Terus apa salahku dan dosaku?"
"Seharusnya kamu itu menjaga Nuna, jangan sampai digaet cowok lain."
"Kenapa aku?"
Freya menghela nafas kesal. Dasar bego!
"Nanti kalau Nuna nikah sama Dika gimana?"
__ADS_1
"Ya mendingan Nuna yang nikah sama Dika, kalau kamu yang nikah sama Dika, baru aku yang pusing!"
Merasa gemas dengan jawaban Ikmal, Nania dan Aruna lalu mendekati pria itu dan menjambak rambutnya.
"Terusin!" semangat dari Arby.
"Rei, kenapa kamu diam saja? Kita ini paket komplit, tanpa kamu seperti kurang garam," ucap Nania.
Perempuan kalem itu bingung harus apa.
Vian dan Marva yang keluar dari kamar mereka, hanya melongo melihat Ikmal yang disiksa seperti itu.
"Sakit woy, kalian apa-apaan, sih?"
"Awas ya, kalau Nuna sampai patah hati, itu salah kamu!" ucap Freya ketus, lalu keluar dari apartemen itu.
"Kenapa Nuna selalu disangkut pautkan dengan aku?"
Arby hanya geleng-geleng kepala, bingung mau komentar apa.
"Kan itu emang tugas kamu buat menjaga Nuna. Kamu jaga Nuna, aku jaga Freya."
"Menjaga kan bukan berarti harus melarang. Kalau aku ngatur-ngatur dia enggak boleh jalan sama sese, yang ada nanti dia malah tambah benci sama aku. Kesal ya sama Tante saja, aku ikut-ikutan jadi korban."
"Nuna itu beda, Mal. Dia enggak seperti Nania, Aruna, Rei apalagi Freya."
__ADS_1