Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
16 Tolong Jaga Nuna


__ADS_3

"Kenapa kita harus memata-matai mereka?" tanya Ikmal, yang tidak habis pikir dengan kelakuan yang lain.


Empat remaja SMA sedang sibuk mengamati dari jarak tertentu empat murid SMP.


"Jangan sampai ada pria yang mendekati mereka. Ingat, tugas kita adalah menjaga mereka."


"Kita? Mereka? Kamu yang sebenarnya ingin menguntit Nania."


Seperti itulah yang terus mereka lakukan secara diam-diam, tanpa diketahui oleh keempat gadis SMP itu.


"Nuna, mau pulang ya? Aku antar, yuk!"


"Enggak usah."


"Enggak apa, ini sudah sore loh."


Akhirnya Enrick berhasil mengantarkan Nuna pulang. Para pria itu masih berdiri di balik pohon, sambil tangan mereka sibuk garuk-garuk karena merasa gatal.


"Loh, si Ikmal mana?"


Tidak ada yang sadar kalau Ikmal juga sudah pulang sejak Nuna tadi diantar oleh Enrick. Arby juga begitu, setelah Freya pulang, dia juga ikut pulang.


"Nuna, kamu punya kakak atau adik?"

__ADS_1


"Enggak."


Enrick terus saja mengajak Nuna bicara. Tentu saja pria itu senang bisa mengajak gadis yang menjadi incarannya itu pulang bersama. Baginya, ini suatu kemajuan, karena mengajak Nuna berkenalan saja sudah susah. Di antara ke empat gadis itu, yang paling mudah diajak kenalan tentu saja Nania.


Mereka tiba tidak jauh dari rumah Nuna.


"Di sini saja."


"Loh, kenapa di sini, memangnya rumah kamu di mana?"


"Enggak jauh dari sini. Lagian papa aku galak banget."


"Aku enggak apa kok, nganterin kamu sampai rumah."


"Ya udah deh, tapi kapan-kapan aku antar sampai rumah ya."


Setelah Enrick pergi, Nuna memutar badannya. Rumahnya masih jauh dari sana. Dia kaget melihat Ikmal yang sudah ada di belakangnya.


"Ayo pulang, aku antar."


"Jangan jadi penguntit, deh!"


"Ayo, aku antar."

__ADS_1


Nuna menurut, baginya lebih baik pulang sama Ikmal atau Arby yang memang sudah dikenalnya sejak dulu. Sayang saja keadaan Freya membuat mereka berempat jadi seperti ini.


"Bilang tuh sama teman-teman kamu, jangan bikin kita kesel terus."


Ikmal diam saja mendengar Nuna yang sejak tadi terus marah karena mereka. Mereka akhirnya tiba di rumah Nuna. Di sana, sudah ada tante Elvira. Nuna melewati begitu saja pala dan tante Elvira, menganggap mereka tidak ada.


"Nuna ...."


Nuna diam saja mendengar panggilan itu. Dia masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu. Papanya menghela nafas, merasa tidak enak dengan Elvira karena sikap Nuna.


"Tidak apa, Mas. Nuna pasti membutuhkan waktu untuk bisa menerima aku." Elvira mengusap punggung Edwan.


🍂🍂🍂


Edwan terus berusaha mendekatkan Nuna dengan Elvira dan keluarganya. Salah satunya dengan cara kumpul keluarga di rumah Edwan, karena kalau di luar, sudah pasti Nuna tidak akan mau.


"Ikmal, om minta tolong kamu menjaga Nuna ya. Sebentar lagi Nuna masuk SMA, dan satu sekolah dengan kalian."


"Satu sekolah dengan kami lagi?"


Para cowok itu langsung girang, tapi tidak menunjukkannya, sedangkan Ikmal terlihat biasa-biasa saja.


"Kamu jaga Nuna ya, Mal," pinta tante Elvira. Ikmal menggaruk tengkuknya, kenapa dia yang diminta menjaga Nuna, apa karena waktu itu dia mengantar Nuna?

__ADS_1


Nuna sendiri sibuk di kamarnya, dan tidak lama kemudian terdengar suara musik rock yang sangat nyaring. Edwan langsung ke kamar Nuna, tapi anaknya itu mengunci pintu kamarnya. Elvira menghela nafas, dia merasa jalannya untuk bisa bersama dengan Edwan akan lebih sulit dari yang sebelumnya.


__ADS_2