
Ikmal mengajak Nuna makan siang bersama. Dia tidak ingin selalu menjadi penonton saat sahabat-sahabatnya itu sedang melakukan pendekatan dengan perempuan incaran mereka. Ya, meskipun tidak lama lagi mereka juga akan bergabung di kafe ini.
"Monica!" seorang pria muda berpakaian dokter menghampiri mereka. Dka adalah Heun.
"Hai, darling. Kamu kenapa tidak mengajakku makan bersama?"
Ikmal melihat Heun, begitu juga dengan Heun. Tanpa dipersilahkan, Heun duduk di sebelah Monic, berhadapan dengan Ikmal.
Tidak lama kemudian, yang lain datang. Suasana menjadi sangat ribut. Itu adalah kafe depan rumah sakit, jadi tentu saja banyak dokter yang mengenali mereka. Melihat para perempuan itu dikerumuni oleh para pria tampan, membuat mereka bertanya-tanya.
Heun dengan cueknya mendekati Monic. Dia sudah terbiasa dengan para pria yang berbeda-beda, yang selama ini terus berusaha mendekati perempuan-perempuan yang ada di hadapannya itu. Namun, para pria yang ada di hadapannya itu, baru beberapa hari ini dia lihat, dulu saat masih kuliah, mereka tidak pernah ada.
Heun bisa menebak, kalau mereka berasal dari negara yang sama, dan terlihat memang sudah saling mengenal cukup lama.
Sedangkan para pdia, kecuali Ikmal tentunya, merasa kalau saingan mereka itu memang tidak sedikit. Tinggal di negara yang berbeda-beda selama bertahun-tahun tanpa ada komunikasi sedikit pun, tentu saja akan memberi banyak pengaruh, kan.
__ADS_1
Pada siapa kini hati mereka berlabuh?
Heun memperhatikan keadaan, jelas yang lain bukan mendekati Monic, hanya Ikmal lah yang harus dia khawatirkan. Ikmal yang sadar dari tadi Heun terus memperhatikan dirinya, hanya cuek saja.
Namun, ide jail terlintas di benaknya.
"Sayang, makan yang banyak. Apa kamu terlalu merindukan aku, sampai jadi kurus seperti ini?" ucap Ikmal pada Nuna.
Yang lain tersedak mendengar itu, apalagi Nuna, yang wajahnya langsung merah.
Ikmal langsung dilempar oleh sedotan, tak lain oleh Freya.
"Enggak cocok bangat, Mal. Nuna digombali sama kamu, bukannya senang malah merinding," ucap Freya sambil geleng-geleng kepala.
Ikmal hanya tertawa pelan.
__ADS_1
"Lagi berusaha, Freya."
"Usaha apaan? Jangan-jangan sekarang nyesal, sudah banyak yang mendekati Monic, dia baru kelabakan." Ikmal mendengkus, niat hatinya kan hanya ingin mengerjai Heun. Dia ingin tahu, pria seperti apa yang mendekati sahabatnya itu. Apakah pencemburu atau tidak, emosian atau tidak.
Dia dan Arby sudah terbiasa menjaga dan melindungi Freya dan Nuna. Namun jika Arby dulu lebih sering bersama Freya, maka Ikmal yang bersama Nuna. Kebiasaan itu, walaupun sempat berhenti karena mereka berpisah karena Freya kecelakaan, lalu tiba-tiba saja bertemu kembali dan menjadi musuh, lalu berpisah lagi, tetap saja berlanjut. Dan ternyata sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu.
Sebagai sahabat, tentu saja Ikmal menginginkan yang terbaik untuk Nuna, juga Freya dan Arby.
Heun merasa tidak senang. Dia merasa, para pria ini punya kedekatan khusus dengan para perempuan itu. Heun menebak-nebak dalam hati, hubungan seperti apa yang terjalin antara mereka di negaranya?
Melihat Monic yang biasa saja mendengar perkataan Ikmal. Tidak marah, tapi juga tidak merasa senang.
Heun menghela nafas, sampai kapan dia harus berjuang mendapatkan Monic? Dulu ada Steve di antara dia dan Monic. Ikmal melihat wajah Heun, dia tahu kalau pria itu sedang cemburu.
Antara Steve dengan Heun, siapa yang akan dia dukung menjadi pendamping Nuna?
__ADS_1
Tentu saja yang bisa menghilangkan ketakutan Nuna. Siapa pun dia, tidak boleh menyakiti Nuna.