Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
139 Lemak Yang Lumer (Live)


__ADS_3

Nuna tidak langsung menjawab, dia tahu orang tuanya lah yang paling sulit dihadapi. Melihat Nuna yang diam saja, Steve tersenyum. Dia tidak tersinggung apalagi sakit hati. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dia pun pasti akan begitu, jika nanti memiliki anak, menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Orang tua angkatnya saja, yang bukan orang tua kandung, selalu memberikan yang terbaik untuk dia.


"Aku akan memberikan pengertian kepada mereka ...."


"Jangan Nuna, aku cukup sadar diri siapa diriku. Pria seperti diriku tidak pantas bersanding dengan kamu."


"Apa ... apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" Steve tidak menjawab, membuat Nuna merasa ditolak meski tanpa kata.


"Apa dokter perempuan itu orang yang kamu cintai saat ini?" Bari saja Steve ingin menjawab, tapi Nuna sudah menyelanya lebih dulu.


"Aku tahu, akulah yang sebenarnya tidak pantas untuk kamu, kan? Kalian pasti sudah tahu latar belakang keluargaku. Tidak perlu mencari banyak alasan untuk menolak aku, karena aku juga cukup sadar diri. Aku hanya anak broken home yang bahkan pernah gagal menikah. Dika dan kelurganya sudah sangat menegaskan itu kepadaku."


"Nuna, bukan begitu maksudku ...."


"Kamu pasti sudah mendengar dari teman-teman satu sekolah, kalau aku ditinggalkan oleh calon suamiku, kan? Itu menambah daftar hitam dalam hidupku." Nuna menghela nafas berat.


"Aku doakan semoga kamu dan dokter itu bahagia, Steve."

__ADS_1


"Nuna ...."


"Aku pulang sendiri saja, sudah dekat ini dari apartemen. Kamu istirahat saja yang cukup." Nuna beranjak dari duduknya, tidak ingin melihat Steve dsn menunjukkan kelemahannya.


Di depan pintu masuk kafe, dia berpapasan dengan dengan Dika dan istrinya.


"Wah wah wah, siapa ini? Si perempuan gagal nikah ternyata ada di sini? Sepertinya kamu sendiri, tidak bersama pengawal-pengawal kamu itu? Masih belum move on dari Dika?"


Nuna memandang sinis pasangan itu, merasa jijik dengan keduanya.


"Wah wah wah, pasangan laknat sudah keluar dari penjara? Kangen sama jeruji besi, sampai-sampai mau cari masalah lagi?" balas Nuna. Jangan mereka kira kalau tidak ada sahabat-sahabatnya maka Nuna akan menjadi cewek lemah. Berteman dengan Freya berarti harus kuat. Freya sudah menjadikan mereka perempuan yang tidak akan mudah ditindas.


"Eh, mantan napi, kenapa enggak pakai masker? Mau eksis lagi, ya? Udah jarang muncul di tv, ya? Udah enggak laku, ya? Kekurangan uang, ya?" Semakin pedas mulutnya bicara. Kalau saja ada Freya cs, pasti mereka akan bersorak gembira akan mulut gadis itu yang sudah lancar membalas orang.


"Kamu!" Evelyn ingin menampar Nuna, tapi seseorang langsung menahan tangannya.


"Jangan coba-coba menyentuh calon istriku!" Nuna, Dika dan Evelyn menoleh pada seseorang.

__ADS_1


"Steve?"


"Sayang, maaf ya aku lama. Kamu enggak apa-apa?"


"I ... iya." Nuna jadi gugup sendiri saat Steve memanggilnya sayang. Steve lalu memandang sinis pasangan itu. Tangannya terkepal saat menatap Dika, pria yang sudah menyakiti hati Nuna.


"Kamu calon suaminya? Kok mau? Dia itu perempuan enggak benar, loh!"


"Memangnya kamu perempuan benar? Baju kok bolong-bolong kaya jala ikan." Nuna langsung tertawa.


"Kamu memang pantas berteman dengan Arby cs, Steve," puji Nuna. Dika tiba-tiba saja merasa iri. Masuk ke kelompok Arby itu tidak mudah. Bukan karena tampan dan kaya, maka akan diakui.


"Dasar kampungan, ini tuh modelnya memang begini."


"Aku tahu modelnya memang begitu. Ya kalau enggak ada lemak di mana-mana sih, masih enak dilihat. Lah ini, lemaknya kok lumer?" Nuna semakin keras tertawa. Rasa sedihnya yang tadi dia rasakan, mendadak hilang.


Tidak ada yang tahu, kalau sejak tadi ada yang merekam mereka dan mempostingnya di sosial media.

__ADS_1


Live


__ADS_2