
Akhirnya pintu UGD itu terbuka, dokter keluar dari ruangan dan terbelalak melihat keramaian di sana, seperti akan ada hajatan tapi wajah babak belur.
"Gimana?" tanya mereka.
"Dokter Naya baik-baik saja, dia hanya stres, kelelahan dan syok. Jangan biarkan dia banyak pikiran, ya."
"Janinnya?"
"Janinnya juga baik-baik saja. Tidak ad shal yang serius."
Mereka bernafas lega. Setelah dipindahkan ke ruang VVIP, mereka semua masuk ke ruangan yang memang sangat besar besar seperti apartemen.
Wajah Freya sangat ketus. Bukan marah pada mereka, tapi pada orang-orang itu.
"Maafkan aku, Freya," ucap Nuna lirih.
__ADS_1
Freya diam saja, karena kalau sampai dia buka suara, maka makian hang akan keluar. Makian untuk orang-orang itu yang sudah berani berbuat jahat pada Nuna.
"Enggak usah ini, aku enggak akan membiarkan mereka begitu saja!" ucap Freya pada akhirnya.
Mereka hanya menatap Freya, yang emosinya lagi tinggi-tingginya.
Pintu lalu terbuka, kedua orang tua Nuna beserta Elvira datang.
"Tuh, apa mama bilang. Jangan bersama dengan pria itu. Kamu sih, dikasih tahu malah ngeyel. Lihat nih, akibat dari melawan keinginan orang tua! Durhaka, sih!"
"Kenapa salahku?"
"Ya jelas kamu yang salah. Makanya jadi perempuan itu jangan bodoh. Diobral janji saja sudah melayang tinggi. Sakit kan rasanya ditipu?" Lagi-lagi kata-kata dari mamanya itu menusuk hati Nuna yang paling dalam.
"Ini tuh salah papa dan mama!"
__ADS_1
"Berani-beraninya kamu menyalahkan mama!"
"Ini memang salah kalian! Mereka mencampakkan aku karena malu akan perbuatan kalian. Mereka bilang aku anak pelakor, anak perempuan tidak tahu malu, yang suka merusak pernikahan orang lain. Kenapa? Kenapa harus selalu aku yang menjadi korban? Kenapa setelah aku sebesar ini, kalian masih saja menyusahkan hidupku? Terus saja membuat aku malu dan tertekan? Lihat kan sekarang bagaimana? Tidak akan ada pria dari keluarga baik-baik yang bisa menerima aku dengan tulus! Ini semua karena papa dan mama. Kenapa? Kenapa harus aku yang mempunyai orang tua seperti kalian? Aaarrggghh!"
Nuna terduduk di lantai, tubuhnya bergetar dengan isak tangis yang begitu besar.
"Lihat bagaimana sekali lagi aku dipermalukan, dan ini lebih menyakitkan!"
"Makanya mama sudah menyiapkan pria yang baik untuk kamu. Kamu malah menolak dan memilih pria abal-abal itu, cih, apa bagusnya dia. Sudah, ngapain sih nangis, cengeng amat. Mendingan kamu instrospeksi diri dan menikah dengan pria pilihan mama."
"Tidak bisa, Nuna akan menikah dengan pria pilihan aku!" ucap Edwan.
"Kalian masih saja membicarakan pria pilihan kalian. Aku yakin pria-pria itu tidak lebih baik dari Dika. Mamaku seorang yang memalukan, begitu juga dengan papaku. Orang-orang di sekitar kalian pun pasti kelakuannya sama seperti kain berdua! Kau malu, aku malu memiliki sopan dan mama seperti kalian. Kenapa kalian tidak mati saja, hah?"
"Nuna, jaga bicara kamu! Kamu semakin durhaka saja sejak mengenal pria itu. Lihat jadi apa kamu sekarang? Orang yang kamu bela dulu, yang kamu bilang menerima kamu apa adanya dan setia, malah menyakiti hati kamu."
__ADS_1
"Apa kalian datang ke sini hanya untuk menertawakan aku? Ya, tertawai saja aku sepuas kalian seperti orang-orang brengsek itu!"