
Ikmal menghela nafas berat. Sudah beberapa tahun dia mencari Nuna, tapi belum juga ditemukan. Yang Ikmal dengar dari kedua orang tuanya, kalau kedua orang tua Nuna sering bertengkar.
Sudah berpisah pun, mereka selalu saja bertengkar.
Terbesit dalam pikiran Ikmal, apa di tempat itu Nuna sudah memiliki kekasih? Kalau iya, bagaimana pria itu? Apa dia baik? Apa dia penyayang? Ala dia setia?
Ikmal tidak ingin Nuna disakiti, karena tidak mau sahabatnya itu malah semakin membenci pria.
Kalau saja dulu hubungan kedua orang tua Nuna baik-baik saja. Boleh saja dulu mereka tidak akur, tapi bisakah tidak menunjukkannya secara terang-terangan di hadapan Nuna?
Tidak bisakah mereka bersikap seolah semuanya baik-baik saja?
Tidak bisakah mereka tetap memberikan perhatian dan kasih sayang yang layak untuk Nuna? Bagaimana pun juga mereka saling membenci, Nuna itu kan tetap anak mereka.
Memikirkan Nuna membuat Ikmal jadi sakit kepala. Dia jadi merindukan masa kecil mereka, di mana mereka berempat selalu main, belajar, dan makan bersama di sekolah. Saat-saat seperti itu tidak bisa terjadi lagi. Kalau pun nanti mereka berempat bertemu kembali, pasti akan sangat berbeda. Mereka sudah semakin dewasa, tapi tidak bisa menghilangkan masalah yang pernah terjadi di antara mereka berempat, bekasnya tidak akan pernah hilang.
__ADS_1
Hubungan Arby dan Freya, akan berbeda.
Hubungan dia dan Nuna, juga akan berbeda.
Lihat saja dulu bagaimana Freya yang sempat bermusuhan dengan Nuna.
Hubungan persahabatan mereka akhirnya berakhir.
Ikmal kadang berpikir, kalau saja dulu Freya tidak mengalami kecelakaan dan tidak hilang ingatan, apakah semua akan berbeda?
🌺🌺🌺
Ikmal masuk ke dalam rumahnya, melihat di sana sudah ada tante Elvira dan papanya Nuna (Edwan). Ikmal mendengar nama Nuna disebut, pasti mereka sedang membicarakan Nuna.
Mereka makan malam bersama. Sejak tadi yang terus menyebut nama Nuna adalah mamanya Ikmal, sedangkan Edgar tidak pernah.
__ADS_1
Ikmal menghela nafas, apa seperti ini sikap seorang ayah yang anak perempuan satu-satunya menghilang seperti ditelan bumi?
Kalau seperti itu, Ikmal semakin paham, kenapa Nuna memilih kabur.
Di lain tempat, para perempuan muda itu justru sedang berlibur ke Jepang. Zulfa tidak berhenti menatap pria-pria Jepang, mencari yang ganteng-ganteng. Mereka sedang bermain ke pantai, tempat favorit mereka.
Steve sangat senang mereka mau berlibur ke negara ini. Dia seperti tourgade yang siap mengantar ke mana saja mereka mau pergi, bahkan sering mentraktir mereka.
"Steve juga kaya, Mon. Kamu tidak akan sengsara kalau nanti menikah dengannya," ucap Zilda sambil nyengir.
Zilda memang yang paling antusias dengan jodoh untuk Nuna. Baginya, kecewa bukan berarti menutup mata dan hati akan orang lain yang bisa lebih baik.
"Lihat saja aku, aku juga sering dikecewakan ipeh Marcell, tapi tetap enjoy saja tuh, dengan para cowok. Jangan terpuruk dan membiarkan mereka senang melihat kita sengsara."
"Itu juga karena kamu ganjen, Zil!" ucap Letta.
__ADS_1
Mereka tertawa. Ya, bagi orang seperti Zilda, mati satu ya tumbuh seribu. Kecewanya pada Marcell, ya cukup di lampiaskan pada Marcell saja, bukan pada pria lain.
Tapi kan sifat dan pikiran orang berbeda-beda.