Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
118 Ivanka


__ADS_3

Iya seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Nuna, tapi terlihat kalau pria itu masih menahan diri.


"Apa ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Nuna pada akhirnya, karena dia sadar sejak tadi Yuta terus saja melirik padanya.


"Apa kamu tidak merindukan Steve?"


"Kangen," jawab Nuna tanpa pikir panjang.


Mereka mulai melihat gadis itu.


"Bagaimana pun juga dulu Steve sering datang mengunjungi kami. Dia juga sering menghibur kami dan mengajak kami jalan. Apalagi saat kami liburan ke Jepang. Dia satu-satunya pria yang paling dekat dengan kami saat itu, meskipun jarak dan waktu memisahkan. Harus aku akui, saat itu dia rela mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, biaya."


"Iya juga ,ya. Bahkan Dika tidak seperti itu."


Aruna langsung mengikuti lengan Nania.


"Tapi memang benar, kan? Dika 'kan tidak pernah berkorban waktu dan biaya untuk bolak-balik mengunjungi Nuna di negara yang berbeda.


Mereka jadi membandingkan Dika dengan Steve.


"Bagaimana keadaan Steve saat ini?"


Yuta diam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Nuna.


"Ck, tadi nanya dan bicara tentang Steve, sekarang giliran ditanya malah diam saja," sindir Nania


"Dia baik-baik saja. Steve pasti akan senang kalau bertemu dengan kamu."


"Dia ada di negara ini?"

__ADS_1


"Iya, belum lama."


...🌸🌸🌸...


"Aku bertemu dengan Nuna dan yang lainnya," ucap Yuta memberi tahu.


Steve mengangguk, dia juga diceritakan oleh teman sekolahnya kalau mereka bertemu di acara pernikahan teman sekolah mereka dulu.


"Kamu tidak mau bertemu dengan Nuna?"


"Enggak!" jawab Steve dengan cepat.


"Tapi sepertinya Nuna ingin bertemu dengan kamu, dan merindukan kamu."


Steve hanya melirik Yuta, lalu kembali membaca bukunya.


"Nuna tembak cantik." Masih saja Yuta berbicara tentang Nuna, mungkin saja Steve langsung pergi menemui Nuna.


Yuta menghela nafas, lalu memilih diam daripada Steve akan marah padanya.


...🌼🌼🌼...


Ikmal melihat siapa yang sudah membuka pintu ruang kerjanya tanpa mengetuk lebih dulu. Dia adalah Ivanka, gadis manis yang selama ini menyukai Ikmal. Dia adalah keponakan kakak iparnya Elvira.


"Ikmal ayo kita makan siang bersama."


"Tidak bisa, aku sudah memesan makanan, lagi pula aku sangat sibuk."


Memang benar Ikmal sangat sibuk. Di depannya ini banyak berkas-berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.

__ADS_1


Saudara-saudaranya itu memang mengesalkan. Mereka sepakat membuat bisnis bersama, tapi giliran mereka sibuk dengan perusahaan mereka, dia yang harus mengurus perusahaan bersama ini sendirian.


Ikmal kembali melanjutkan pekerjaannya, langsung lupa dengan kehadiran Ivanka.


Satu jam kemudian


"Loh, Ivan, kamu masih ada di sini?"


"Ivan, Ivan. Vanka, Ikmalll!"


"Kenapa kamu masih di sini?"


"Kan aku mau mengajak kamu makan bersama."


Ikmal menghela nafas, lalu akhirnya menemani gadis itu makan siang.


Ikmal memilih kafe depan rumah sakit. Memang sudah jadi kebiasaan saja, dia dan saudara-saudaranya akan ke kafe itu kalau tidak ada meeting di luar.


Di dalam kafe, para pelayan yang sudah sangat hapal dengan wajah Ikmal (termasuk Arby cs), langsung menghampiri pria itu.


"Mau pesan apa, Nona?"


Vanka yang ditanya lebih dulu, karena mereka sudah tahu apa yang biasanya dipesan oleh Ikmal.


"Capuccino, dan spaghetti."


Pelayan itu langsung pergi tanpa bertanya apa pesanan Ikmal, membuat Vanka merasa kalau pelayan itu tidak sopan.


"Mereka sudah tak apa yang mau aku pesan," ucap Ikmal saat melihat ekspresi Vanka.

__ADS_1


"Kok bisa, memangnya kamu sering ke sini?"


"Bukannya sering lagi! Kan di rumah sakit ini yang lain bekerja. Marcell, Freya, Nuna, Nania, Aruna, Rei dan Agam."


__ADS_2