
"Nuna, kamu serius mau menikah sama dia? Coba dipikir baik-baik sebelum semuanya terlambat."
"Ya ampun Ikmal, kenapa masih membahas ini, sih? Jangan sampai Dika berdebar kamu bicara begini, loh. Nanti dia bisa salah paham sama kamu."
"Sebagai sahabat seharusnya kamu mendoakan aku. Apa jangan-jangan kamu mau aku melajang seumur hidup, ya? Enggak pengen aku menikah, ya?"
"Ya enggak begitu, Nuna."
"Dah jangan khawatir, kamu doakan saja aku. Aku juga berharap kamu segera mendapatkan jodoh untukmu." Ikmal melihat Nuna yang tersenyum.
Benar kata Nuna, sebagai sahabat sudah pasti dia akan mendoakannya. Dia hanya khawatir saja dengan gadis itu.
...🌼🌼🌼...
Undangan pernikahan dan gedung sudah dipersiapkan oleh Dika. Kini Dika dan Nuna akan ke butik untuk melihat baju pernikahan mereka.
"Bagaimana?" tanya Nuna.
__ADS_1
"Kamu cantik banget. Bagaimana kalau kita ke penghulu saja sekarang?"
Nuna hanya tertawa saja. Dia sebenarnya sedikit sedih, karena tidak didampingi oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Dika saja yang seorang pria, mamanya malah ikut. Tapi sebagai gantinya, para sahabatnya itu, pria dan wanita, ikut datang.
"Nuna, kamu cantik banget sih. Duj, aku juga jadi pengen pakai baju pengantin," ucap Nania yang diangguki Aruna.
"Ayo Yang, kamu pilih saja baju pengantin yang kamu mau," ucap Marcell. Nanti kalau Nania sudah memakai baju pengantin itu, tinggal dia seret ke KUA, hehehe.
Nania dan Aruna menghela nafas, mereka benar-benar ingin segera mendapatkan pasangan hidup juga.
"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kalau mereka menyerah, kalian juga yang menyesal," nasihat Freya.
"Kalau mereka macam-macam, ada aku dan Arby yang akan menghajar mereka," Freya kembali melanjutkan perkataannya.
"Kenapa aku?" tanya Arby.
"Oh, jadi kamu mau membela mereka meski mereka sudah menyakiti hati sahabat-sahabat aku?" Freya menatap tajam Arby.
__ADS_1
"Enggak kok, kan aku hanya nanya. My Bebeb jangan marah."
Marcell dan Vian mendengkus. Dulu mereka saling bela, tapi kalau sudah ada Freya yang berkata, Arby langsung mingkem.
Vian mendekati Aruna, dan pelan-pelan menggenggam tangan gadis itu. Dia juga tidak tahu kenapa sampai sekarang masih bertahan berharap pada Nuna. Mungkin sama seperti Marcell yang menunggu Nanai, sama seperti Dika yang terus mengejar Nuna. Jadi Vian cukup paham bagaimana perasaan Dika saat ini.
Semoga saja hati Aruna juga akan melembut dan menerimaku, sama seperti Nuna yang menerima Dika.
Marcell dan Vian juga ingin segera menikah dan punya anak. Bukan hanya melihat Arby yang memiliki anak begitu juga dengan Marva.
Oh tidak, masih ada dua jomblo yang patut dikhawatirkan.
Mico dan Agam.
Bukan karena mereka iba dengan dua pria jomblo itu, tapi karena takut Nania atau Aruna akan menyukai salah satu dari keduanya. Bisa perang saudara mereka, memperebutkan perempuan yang sama.
Ikmal menatap Nuna yang terlihat sangat cantik. Wajah gadis itu selalu saja tersenyum. Melihatnya membuat Ikmal ikut senang. Setelah nanti Nuna menikah, Ikmal akan merasa senang, karena sudah melihat kedua sahabat perempuannya menemukan pria yang tepat.
__ADS_1
Berbahagialah, aku akan selalu mendoakan dan mendukung kamu.