
Sejauh mata memandang, banyak pria bule berbadan kekar dan tentu saja berwajah tampan. Itu menjadi vitamin mata untuk kelima perempuan muda yang setiap harinya harus berkutat dengan buku-buku tebal.
Lima perempuan calon dokter, yang sama-sama kabur dari masa lalu meninggalkan mereka yang sekarang merana.
"Ayo teman-teman, kita buat mereka menyesal karena sudah menyakiti kita," ucap Zilda.
"Kita? Kalian saja, kali."
"Kamu juga, Monic. Buat orang tua kamu menyesal karena sudah menelantarkan kamu sejak kecil."
"Berarti, banyak yang harus aku buat menyesal karena menyakiti aku di masa lalu?" tanya Nanya.
Zilda diam saja, kalau urusan Naya, dia takut berkomentar.
"Ayo kita dapatkan pria bule, dan bawa pulang."
Mereka mendengkus mendengar perkataan Zilda. Sejauh apa pun dia pergi tetap saja hobinya adalah pria tampan.
"Ingat, jangan ada salah satu dari kita kembali ke mantan!" ucapnya lagi. Sepertinya Zilda memang punya dendam kesumat pada Marcell, dan mengajak yang lain ke dalam permasalahannya.
Kalau santet itu legal, mungkin sudah disantet tuh si Marcell sejak SMP.
"Kenapa topik yang dibahas setiap hari adalah mantan?" tanya Letta.
Mereka diam, apa itu artinya mereka belum bisa move on?
"Maaf saja ya, aku enggak punya mantan."
"Ikmal?"
__ADS_1
"Bukan mantan."
"Tapi calon?"
Monic mendengkus mendengar perkataan itu. Dari sekian banyak pria, kenapa selalu Ikmal yang mereka sebut dan dihubungkan padanya.
Itu tentu saja karena hanya Ikmal pria yang tersisa yang belum ... hmmm, apa ya, yang tidak ada permasalahan pribadi dengan para perempuan itu.
Arby dengan Freya
Marva dengan Rei
Marcell dengan Nania
Vian dengan Aruna
Nuna menggelangkan kepalanya, tak habis pikir. Selama bertahun-tahun bersahabat dengan Ikmal, bahkan sejak mereka masih kecil, tidak pernah ada perasaan spesial untuk pria itu.
"Kamu beruntung Mon, jika bersama Ikmal."
"Kenapa begitu?"
"Karena di antara para pria itu, Ikmal yang terlihat paling normal, dan paling benar," jawab Zilda.
"Tapi bisa saja pria seperti itu yang paling menghanyutkan," sahut Naya bijak.
"Tapi iya juga, sih. Dulu aku juga akan lebih memilih Ikmal, jika terpaksa harus memilih," lanjut Naya.
Monic melirik Naya, sambil kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan sampai Arby mendengar ini, bisa ngamuk Arby pada Ikmal," ucap Monic.
Mereka tertawa, mengingat kejadian saat masih SMA dulu.
Mereka ingat kalau Naya dulu sempat dekat dengan Ikmal, tapi akhirnya perempuan muda itu malah lebih dekat dengan Mico. Apa jadinya dulu kalau Freya bersama Ikmal.
Jangan dibayangkan!
Akan pecah perang saudara!
Monic juga sadar, sangat sadar, kalau di antara para pria itu, memang hanya Ikmal yang tidak memiliki masalah pribadi dengan mereka.
Tapi ....
Monic langsung mencelos, Ikmal adalah keponakan dari perempuan yang dicintai ayahnya. Mengingat itu, rasa kesal Monic pada Ikmal hadir.
Egois memang, tapi tetap saja Monic kesal pada Ikmal, pada semua yang memiliki hubungan dengan perempuan itu.
Pada Arby, Marcell, Vian dan Marva, yang hubungan kekerabatannya seperti apa, Monic juga tidak tahu.
"Setidaknya, selama di sini, kita jangan hanya sibuk belajar. Ayo kita berkencan dengan beberapa pria," ajak si centil Zilda.
"Benar, Zilda. Puaskan saja dirimu berkencan dengan beberapa pria, sebelum akhir nya kamu kembali dan menikah dengan Marcell.
"Sialan. Aku akan lebih memilih Ikmal, daripada Marcell si kutu kupret tukang selingkuh itu."
"Apa pria itu sadar, bahwa di antara mereka ada musuh dalam selimut?" tanya Naya.
Mereka tertawa, merasa lucu dengan pembicaraan seputar mantan ini.
__ADS_1