Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
80 Menguping


__ADS_3

"Apa?"


"Nuna, jangan menikah dengan Dika."


"Ikmal! Kamu ini kenapa, sih?"


"Nuna, kamu pikirkan dulu baik-baik ...."


"Kamu ini sahabat aku, seharusnya kamu ikut senang dan mendukung aku."


"Justru karena kamu sahabat aku, makanya aku melarang kamu menikah dengan pria itu. Nuna, jangan hanya karena Dika terlihat baik, Maia kamu menerima dia begitu saja."


"Kenapa kamu bicara begitu? Dika itu memang baik. Dia juga bisa menerima kekurangan aku, dan menerima masa lalu aku. Semua keluarganya juga baik padaku. Kamu lihat sendiri kan, saat Freya masih di rumah sakit, mamanya dan adiknya suka membesuk dan membawakan aku makanan. Ibu kandungku saja tidak pernah bersikap seperti itu padaku apalagi pada sahabat-sahabatku."


"Nuna, coba kamu pikirkan baik-baik ...."

__ADS_1


"Aku sudah mempertimbangkan ini baik-baik, Mal. Bukan hanya sehari dua hari, seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan, tapi lebih dari itu."


"Aku tidak mau kamu menyesal nantinya."


"Justru aku akan menyesal kalau menolak laki-laki sebaik Dika. Dia sudah sangat sabar menunggu aku selama ini. Di mana lagi aku bisa menemukan pria sebaik dia? Belum tentu pria lain bisa menerima kekurangan aku dan masa lalu aku." Ikmal menghela nafas.


Aku yakin masih banyak pria baik lainnya, Nuna.


"Ikmal, kamu itu benar-benar menyebalkan. Seharusnya kamu itu mendukung aku. Kamu kan tahu sendiri bagaimana aku selama ini."


Nuna mengangguk, dia tentu saja masih sangat ingat. Saat-saat mereka dulu berempat lah saat-saat yang paling indah bagi Nuna. Masa kanak-kanak yang tidak ada konflik remaja di dalamnya.


"Maafkan aku kalau perkataan aku menyakiti hati kamu." Ikmal mengusap rambut Nuna, lalu memeluknya. Pelukan seorang sahabat, yang mungkin tidak bisa lagi dia lakukan setelah Nuna menikah dengan Dika.


Freya diam-diam berdecak kesal. Dia membalik tubuhnya dan melotot saat ada Arby di belakangnya. Bahkan bukan hanya Arby, tapi juga ada Nania, Aruna, Rei, Marcell, Vian, Mico, Marva, Agam, Anya dan Vanya.

__ADS_1


"Dasar tukang nguping kalian!" ucap Freya.


"Terus kamu apa?" tanya mereka pada Freya.


"Aku? Aku ini mata-mata."


Arby terkekeh mendengar perkataan Freya yang tidak mau disalahkan, dan sangat menggemaskan.


"My Bebeb gemesin banget, sih." Arby menoel-noel pipi Freya dengan gemas.


Mereka langsung kabur saat mendengar langkah kaki mendekat, kembali ke posisi masing-masing dan bersikap pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


Arby mencebikkan bibirnya. Dia pikir tadi Ikmal akan mengatakan cinta pada Nuna. Kan kalau Nuna menolak Ikmal, dia bisa menertawakan Ikmal, karena selama ini Ikmal itu selalu menegaskan kalau dia dan Nuna hanya bersahabat saja, tidak lebih. Ikmal juga selalu sesumbar kalau dia lebih beruntung daripada yang lainnya, karena tidak perlu merasakan patah hati dan gagal move on.


Ish, Arby jadi gemas sendiri. Arby melirik Ikmal yang duduk di sebelahnya. Pria itu mengingat-ingat siapa saja perempuan yang dekat dengan Ikmal selain yang ada dalam lingkaran pertemanan mereka?

__ADS_1


Ada, ada satu perempuan yang memang mengejar-ngejar Ikmal selama ini.


__ADS_2