
Setiap hari, Dika selalu memperhatikan Nuna dan Freya. Memperhatikan mereka yang selalu dikawal oleh Arby dan Ikmal.
Orang tua Nuna sudah berpisah, dan tidak lama dari perceraian itu, mamanya telah menikah lagi dengan seorang duda yang berprofesi sebagai dokter.
Nuna belum pernah bertemu dengan suami baru mamanya, dan tidak peduli juga. Dia kini tinggal dengan ayahnya, yang kini lebih sering berada di mansion, namun jarang berbicara dengan Nuna.
Waktu semakin berlalu, kini Nuna sudah kelas enam. Dia kini menjadi salah satu murid yang berprestasi. Bully-an yang dia dapatkan masih ada, namun berkurang.
Selama beberapa tahun ini, sudah beberapa kali mamanya kawin cerai kawin cerai. Andai saja bisa, ingin sekali Nuna tidak mengakuinya sebagai mamanya.
Sedangkan ayahnya masih seorang diri.
🍃🍃🍃
Nuna menangis, memasuki ruangan kerja ayahnya.
"Ayah!"
Ayahnya dan seorang perempuan cantik terdiam, melihat kehadiran Nuna yang tiba-tiba.
"Nuna, kamu kenapa datang ke sini tidak bilang-bilang, dan kenapa kamu menangis?"
"Ayah, aku mau Jerman."
__ADS_1
"Jerman?"
"Iya, aku mau menyusul Freya. Dia sakit dan sudah dibawa ke Jerman. Dia meninggalkan aku di sini sendiri. Ayo ayah, Arby dan Ikmal sudah pergi ke sana lebih dulu."
"Arby dan Ikmal?"
Ayahnya dan perempuan itu kembali berpandangan.
"Baiklah, ayah dan tante Elvira akan mengantar kamu ke sana."
Nuna melihat perempuan itu, sangat cantik meski umurnya tidak muda lagi. Dia juga bisa melihat binar bahagia di wajah ayahnya. Apa perempuan ini yang akan menjadi mama tirinya?
Ingin sekali Nuna menolak, marah dan memberontak. Tapi nanti, setelah dia pergi ke Jerman.
"Nuna, kamu sudah sarapan?"
Tante Elvira memegang pundak Nuna, tapi langsung ditepis oleh gadis itu.
"Enggak udah sok peduli!"
"Nuna, jaga sikap kamu!"
"Jangan marah pada Nuna. Wajar karena dia belum terbiasa denganku."
__ADS_1
Nuna memalingkan wajahnya, merasa kesal dengan Elvira yang baginya sedang mencari muka pada ayahnya.
☘️☘️☘️
Nuna melihat keadaan Freya yang selalu memejamkan matanya. Ini sudah beberapa hari dia di sini. Dia memutuskan untuk homeschooling. Karena baginya tidak ada penyemangat saat dia pergi ke sekolah.
Sementara itu di tempat lain, Dika penasaran ke mana perginya empat orang anak itu. Sudah berbulan-bulan, tapi tidak satu pun dari mereka yang masuk sekolah.
Satu tahun sudah berlalu
Freya di bawa ke Indonesia. Dan Nuna, seperti biasa, terus mengikuti gadis itu. Dia masih tetap memutuskan homeschooling. Seharusnya, mereka kini sudah SMP, tapi yang dia dengar, kalau Freya harus mengulang pendidikan dasarnya selama satu tahun.
Satu tahun berikutnya lagi
Nuna kini masuk sekolah, dia memutuskan mundur satu tahun agar bisa satu kelas dengan Freya. Sejak Freya dibawa ke Jakarta, hubungan Nuna dengan Arby dan Ikmal juga terputus.
Nuna melihat Freya, ingin menegur dan memeluk sahabat kecilnya itu. Tapi anehnya, Freya sepertinya tidak mengenalinya. Freya sedang bersama dengan dua anak perempuan.
Nuna menunduk, merasa asing dengan negara ini, juga dengan orang-orangnya.
"Halo, aku Freya!"
Nuna menoleh, ingatan beberapa tahun yang lalu kembali lagi. Di mana saat itu, hanya Freya saja yang mau mengulurkan tangan padanya. Dengan hati berdebar, Nuna menjabat tangan Freya.
__ADS_1
"Aku Nuna!"