Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
43 Pantai


__ADS_3

Marva tahu, sahabat-sahabatnya Rei tidak menyukai dirinya. Ikmal sendiri juga tidak berani banyak komentar, dia tidak ingin melukai pertengkaran.


Tentu saja mereka tahu, kenapa Nuna sangat tidak suka pada Marva. Kalau saja Rei itu bukan sahabatnya, pasti juga sudah sangat dibenci oleh Nuna.


Nuna terus menatap benci pada Marva. Ketidak setiaan hal yang paling dibenci oleh Nuna.


Ikmal lalu menarik tangan Nuna, mengajak gadis itu pergi, sebelum suasana menjadi panas.


Di sepanjang pantai, mereka tertawa geli melihat tingkah Arby pada Freya. Mereka berdua seperti pengawal bagi Arby dan Freya.


Nu jadi teringat Steve lagi, pria itu akan berselancar atau melakukan olah raga lainnya jika main ke pantai.


Selalu menjaga mereka berlima jika ada pria yang menggoda mereka dengan tidak sopan. Senyum terukir di wajah Nuna.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Aku teringat Steve."


"Steve?"

__ADS_1


"Iya. Dia ke mana, ya? Enggak ada kabarnya sama sekali, sudah selama ini."


Ikmal terdiam. Berbagai pertanyaan timbul di benaknya. Apa Nuna mulai tertarik dengan seorang pria? Apa pria itu Steve? Pria yang sudah bertahun-tahun ini selalu mengejarnya, tidak peduli dengan jarak dan waktu, juga biaya.


Tapi, cinta yang sesungguhnya kan butuh pengorbanan. Seperti mereka, yang setiap liburan juga selalu keliling berbagai negara, mencari keberadaan para perempuan itu.


Tapi nasib mereka berbeda. Jika Steve dengan mudahnya bertemu dengan para perempuan itu, maka mereka sangat sulit.


"Kamu jatuh cinta padanya?" Pertanyaan spontan yang diajukan oleh Ikmal, membuat Nuna mendongak.


"Enggak lah, aku kan hanya bertanya saja, dia ke mana. Bukan berarti aku jatuh cinta. Memangnya kenapa, sih?"


"Ya nanya doang, Nun. Emang enggak boleh?"


"Arby kan tidak pernah bermaksud begitu, Nun. Kita sangat tahu itu."


Ikmal langsung menarik tangan Nuna, saat seorang anak hampir menabrak dia. Ikmal tetap menggandeng tangan Nuna, yang jika orang-orang melihatnya, terlihat seperti oran yang berpacaran. Tapi bagi dua orang sahabat itu, itu hal yang biasa saja. Dulu mereka berempat sering bergandengan tangan, ya walau saat itu memang masih kecil.


Tapi bagi Nuna sama saja. Ikmal tetap sahabat masa kecilnya, begitu juga dengan Arby, sahabatnya. Sedangkan Freya, bukan hanya sahabat, tapi juga saudara.

__ADS_1


Mereka minum air kelapa. Tetap mengawasi dari jauh para sahabat mereka.


"Aneh juga ya, hubungan kita bisa seperti ini. Kalau seperti ini, rasanya aku ingin kembali ke masa kecil kita dulu. Enggak punya masalah apa-apa, tanpa beban, dan bebas."


"Itu sih kamu! Aku waktu masih kecil sudah punya masalah hidup, banyak beban, dan menderita."


Ikmal memejamkan matanya. Sepertinya mengobati luka hati gadis itu sulit untuk disembuhkan.


Ikmal hanya mengusap rambut panjang Nuna yang tertiup angin. Aroma wangi dari rambut itu bisa Ikmal cium.


Ikmal mendengkus saat melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman.


"Kenapa Mal, pengen ya?"


"Dih, ngapain!"


"Halah, dasar munafik!"


"Jangan-jangan malah kamu yang kepengen?"

__ADS_1


"Dasar!"


Mereka tertawa, terlihat tanpa beban. Tapi hati dan pikiran, sibuk sendiri. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Apakah persahabatan yang sempat retak berkali-kali ini, akan membaik, menjadi berempat kembali, atau tidak sama sekali?


__ADS_2