
Nuna pura-pura tidak mengenal mereka. Bukan hanya Nuna, kelima perempuan itu melakukannya.
Ikmal terus menatap Nuna, juga Freya bergantian. Merasa senang kalau keduanya baik-baik saja.
"Dokter Agam?"
Mereka melihat siapa yang disebut dokter Agam oleh Rei.
Pria itu tampan, dan terlihat berwibawa. Para pria muda itu langsung memasang alarm berbahaya, saingan baru.
Kasihan sekali dokter Agam, yang tidak tahu apa-apa, bahkan dia baru pertama kali bertemu dengan Naya, Monic, Zilda dan Letta, kecuali Rei tentunya.
Kelimanya tersenyum pada dokter Agam, termasuk Monic. Ikmal menelisik dokter Agam, begitu juga dengan yang lain.
Arby mengerucutkan bibirnya, mulutnya komat-kamit tidak jelas.
"Apa tadi aku bilang, kita bisa saja bertemu dengan jodoh kita di sini. Kalian sih, enggak percaya."
Mereka kembali melirik Marcell, yang juga menatap tajam dokter Agam.
"Kira-kira, si dokter Agam itu akan berjodoh dengan siapa, ya? Apa salah satu dari mereka?" tanya Ikmal, yang pertanyaannya itu membangkitkan kekesalan di hati yang lain.
__ADS_1
"Mereka itu jodoh kita, tadi kan aku sudah bilang, kalau kita akan bertemu dengan jodoh kita di sini," ucap Marcell.
"Di sini banyak perempuan, Cell. Bisa saja jodoh kamu salah satu pelayan di sini," goda Ikmal. Tapi dalam hatinya sendiri berpikir, bagaimana kalau dokter Agam benar menjadi salah satu jodoh dari perempuan itu.
Tidak masalah kalau dokter Agam itu berjodoh dengan Nuna, karena Nuna belum di take oleh yang lain. Tapi Ikmal juga jadi teringat dengan Steve.
Ikmal menggelangkan kepalanya.
Terserah lah, siapa saja jodoh untuknya, yang penting baik dan setia.
Sebagai sahabat, Ikmal hanya bisa mendoakan, tidak akan ikut campur lebih dalam, mungkin!
Acara pesta itu menjadi ajang saling lirik. Mereka merasa canggung, ingin menyapa para perempuan itu, tapi kenapa malah takut?
Mata Nuna sekilas melihat Elvira, dan Nuna dengan terang-terangan mendengkus. Begitu juga dengan suami mamanya, dilihat Nuna dengan tatapan sinis. Mereka tahu itu, terlihat sangat jelas sikap Nuna yang terlihat masih sama, bahkan lebih benci pada mereka.
Wajah Nuna menunjukkan kejijikkan yang besar. Tangannya terkepal. Nuna lalu melihat Arby dan Ikmal, lalu mengerucutkan bibirnya.
Ya ampun, keadaan apa ini? Batin mereka kompak.
Apa yan telah terjadi memang sulit, sangat sulit untuk diperbaiki. Mereka sendiri ya g membuat para perempuan itu menjadi seperti ini. Bukan hanya para pria itu, tapi keluarga, yang sudah membuat mereka semakin menjaga jarak.
__ADS_1
Apakah ada penyesalan di hati para orang tua itu?
Masalah yang terjadi di masa lalu, bukan hanya melibatkan kaum muda saja. Freya, yang menjadi pusat dari sahabat-sahabatnya, diam saja. Dia tidak peduli dengan sekitarnya, hanya peduli dengan anak yang ada dalam pangkuannya, juga sesekali membahas dokter Agam yang dia katakan tampan.
Wajah para perempuan itu langsung berbinar.
"Dokter Agam memamg tampan, ya kan, Mon, Rei?" tanya Naya.
Monic dan Rei langsung mengangguk.
"Beruntung tuh siapa yang menjadi jodoh dokter Agam. Kalau kamu saja, gimana Rei?" tanya Freya.
"Kalau kamu, gimana Nay?"
"Eh, tapi itu kan jatahnya Rei."
"Kalau Rei enggak mau, aku mau."
"Aku juga mau."
Kelima perempuan itu langsung tertawa, membuat hati yang lain sangat panas.
__ADS_1
Awas kamu, dokter Agam.
Dokter Agam langsung mengusap tengkuknya, merasa merinding tiba-tiba.