Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
68 Tiga Hati Yang Bersedih


__ADS_3

Nuna tersentak dari tidur ayamnya, saat ponselnya berbunyi. Dia melihat ada beberapa panggilan masuk dari Arby dan Ikmal.


"Ya?"


"Freya sudah pulang?"


"Pulang ke mana?"


"Ck, aku nanya Nun, bukannya lagi menyampaikan informasi."


"Oh, hmmm ... belum."


Nuna mengucek matanya. Melihat kalau dia ada di kamar Freya saat ini, dan perempuan itu tidak ada.


"Coba aku lihat di kamar Rei dulu."


Saat Nuna membuka pintu kamar Rei, tidak ada Freya selain Rei yang saat ini sedang tidur namun terlihat tidak nyenyak.


"Enggak ada, Freya belum pulang."


"Ya sudah, kalau Freya sudah pulang, langsung kasih tahu aku."

__ADS_1


Setelah itu Nuna tidak bisa lagi memejamkan matanya. Dia berusaha menghubungi Freya berkali-kali, tapi tidak ada tanggapan. Kerena tidak ingin merasa cemas, Nuna akhirnya membangunkan Nania, Aruna dan Rei.


"Coba cari tahu tentang Freya!"


Rei segera menghubungi Agam, sedangkan yang lain juga mengunjungi teman seprofesi mereka. Tidak ada yang tahu saat ini Freya di mana, bahkan dokter dan perawat yang berjaga di klinik, tidak melihat Freya.


Mereka merasa gelisah, tidak biasanya Freya sulit dihubungi sejak tadi. Arby kembali menghubungi Nuna, gadis itu bisa mendengar suara Chiro yang menangis memanggil Freya.


Hingga waktu berlalu, ponsel Nuna kembali berdering.


"Apa?"


Ponsel uang ada dalam genggamannya terlepas begitu saja. Tubuhnya luruh ke lantai, disertai tangis histeris.


"Freya kecelakaan. Ayo kita ke rumah sakit."


Tanpa mengganti baju lagi, mereka langsung ke laut dari apartemen. Tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan, hanya suara tangis dari mereka saja yang terdengar. Jalanan masih macet karena mereka yang merayakan malam tahun baru belum juga kembali ke rumah masing-masing, meski matahari akan segera terbit.


Mereka akhirnya tiba di rumah sakit, di sana sudah ada Arby dan yang lain, dan tidak lama kem keluarga Freya dan Arby juga datang. Mereka menunggu di depan ruang UGD dengan cemas.


Sekujur tubuh Nuna gemetaran. Kepalanya juga terasa sakit, ingin memuntahkan sesuatu dalam perutnya tapi berusaha dia tahan.

__ADS_1


Ikmal berusaha mengendong Chiro, karena Arby sepertinya juga sudah sangat lemah. Ikmal menggenggam tangan Nuna, berusaha menenangkan gadis itu, meski hatinya juga sangat khawatir bahkan takut.


Mereka bertiga berdiri bersisian. Air mata Ikmal menetes, tapi berusaha dia tutupi. Doa tidak ingin terlihat rapih, karena tugasnya saat ini adalah menenangkan Arby dan Nuna, juga menjaga Chiro dengan baik.


Yang lain hanya bisa menatap tiga orang dewasa itu. Bagi yang tahu kisah mereka berempat, pasti juga tahu bagaimana perasaan mereka saat ini.


Ketiganya terlihat rapuh, tali berusaha saling menguatkan. Ikmal merangkul Nuna, memberikan pundaknya untuk gadis itu menangis.


Polisi sudah menerangkan apa yang terjadi. Melihat foto mobil Freya yang tak berbentuk lagi, membaut rasa takut Nuna semakin membesar.


Tidak, dia tidak sanggup kalau Haris kehilangan Freya.


"Tubuhnya masih utuh saja, sudah merupakan keajaiban."


Ingin sekali Nuna menutup telinganya, tidak ingin mendengar kata-kata buruk tentang Freya.


Peri kecilnya itu akan selamat!


Mereka akan tetap bersama.


Ingin sekali Nuna memakai dokter yang saat ini memeriksa keadaan Freya, kenapa dia lama sekali? Dia lupa kalau dirinya juga seorang dokter, yang juga pasti memerlukan waktu untuk memeriksa pasiennya.

__ADS_1


Hati Nuna semakin tak menentu.


Si peri kecil berkuncir kuda itu, tidak boleh pergi meninggalkannya sendirian!


__ADS_2