
Nuna memasak dengan riang, suasana hatinya sedang sangat bagus saat ini. Kenapa? Karena Steve mau datang tidak lama lagi. Dia memasak banyak makanan, tentu saja bukan hanya untuk mereka berdua saja, tapi juga untuk Nania dan Aruna.
Jatuh cinta bukan berarti melupakan sahabat.
Jatuh cinta?
Nuna tersentak dengan pikirannya sendiri. Apa benar dia jatuh cinta pada Steve? Yang dia rasakan hanya ... hatinya lebih berbunga saat bersama Steve. Ingin selalu dekat dengan Kris itu, mendengar suaranya, melihat wajahnya, dan tahu keadaan pria itu.
Senang saat mendengar pujian, meskipun itu hanya basa-basi atau mungkin gombalan saja.
Wajah Nuna merona, ya ampun, dia seperti remaja labil saja.
"Lihat tuh si Nuna, senyum-senyum sendiri dari tadi," bisik Nania pada Aruna.
"Pasti lagi berbunga-bunga tuh."
"Karena Steve?"
"Ya siapa lagi? Ikmal?"
"Ya, semoga saja sekarang lancar sampai pelaminan."
"Enggak cuma sampai pelaminan saja, Taki juga sampai maut memisahkan."
"Iya. Terus kita kapan?"
"Yuk ke mall, kali saja dapet kenalan cowok cakep."
"Dih, malas. Mendingan sama dokter di rumah sakit, yang sudah jelas."
__ADS_1
"Hehehe. Marcell dan Agam, dong?"
"Tahu, ah!"
"Kalian ngapain bisik-bisik di sana?" tanya Nuna mengagetkan Aruna dan Nania.
"Enggak apa."
Bel apartemen berbunyi, Nuna langsung membukakan pintu. Wajahnya langsung cemberut saat melihat siapa yang datang.
"Sudah masak, kan? Kami mau numpang makan."
Marcell, Vian, Ikmal dan Mico masuk begitu saja.
"Enggak sekalian tuh, kalian bawa Arby, Agam dan Marva?"
"Emang boleh?"
Nuna semakin manyun. Apa nanti kata Steve kalau melihat banyak pria di apartemen ini?
Tapi kan, Steve memang Sidah kenal dengan mereka, dan sudah biasa juga melihat kami bersama.
Nuna seperti perempuan yang tidak mau kekasihnya salah paham dan cemburu saja, padahal status hubungannya dengan Steve masih abu-abu.
Bel sekali lagi berbunyi.
Wajah Nuna langsung cerah, saat melihat pria yang dia tunggu ada di hadapannya.
"Aku bawakan sop iga buat kalian."
__ADS_1
"Makasih. Ayo masuk."
"Kalian juga di sini? Yang lain ke mana?"
Nuna mengeluarkan kue-kue yang sudah dia buat. Aroma kue itu menguar di ruang tengah. Ikmal melirik kedekatan Nuna dan Steve, merasakan aura orang yang sedang jatuh cinta.
Setelah mengintip beberapa hal, Nuna mengajak mereka makan siang.
"Ayo kita pergi!" Nania mendorong para pria itu, kecuali Steve.
"Tapi itu Nuna sama Steve ...."
"Ih, Ikmal ... kamu enggak pengertian amat, sih. Biarkan saja mereka berdua. Siapa tahu saja kan mereka mau pendekatan. Gini nih cowok yang enggak peka."
"Tapi nanti, kalau ada apa-apa sama mereka, gimana?"
"Apa-apa, apanya? Dah, jangan ganggu mereka. Mendingan kita ke mall."
Nuna dan Steve yang ditinggalkan berdua saja, akhirnya juga memilih jalan-jalan ke mall. Jika dulu saat bersama Dika, dia seperti jalan bersama perpustakaan, maka bersama Steve, dia seperti jalan bersama petualang, memberikan Nuna hal-hal baru yang menyenangkan.
"Loh, kalian juga di sini ternyata."
Akhir ya tetap saja mereka jalan bersama. Steve juga bersikap santai dengan yang lainnya, mungkin karena pada dasarnya mereka sudah saling mengenal sejak sekolah, jadi tidak sulit untuk berbaur.
"Steve!" panggil seseorang.
Perempuan cantik datang menghampiri mereka.
"Kamu di sini juga?"
__ADS_1
Steve melirik Nuna, merasa grogi saat perempuan asing itu terlihat akrab dengannya.