
Arby dan Ikmal duduk sama lama di bawah pohon itu. Terlihat aneh, dua pria dewasa yang salah satunya menggendong bayi laki-laki duduk di sana.
Marcell dan Vian, mereka berdua bergosip tentang Arby dan Ikmal.
"Apa jangan-jangan, yang Ikmal suka itu Freya?"
Semakin kacau saja mereka itu. Mereka berdua memang tidak terlalu tahu bagaimana sejarah Arby, Ikmal, Freya dan Nuna. Kalau mereka tahu, pasti kerasa miris dengan persahabatan yang berakhir perpisahan untuk yang kesekian kalinya.
Ikmal teringat, dulu dia akan selalu duduk di sebelah Nuna. Bukan apa-apa, tapi karena Arby selalu menyerobot lebih dulu sisi sebelah Freya, sedangkan di sebelahnya lagi pasti Nuna yang juga tidak mau berjauhan dengan Freya.
"Aku yakin, Nuna pasti bersama Freya," ucap Ikmal.
"Masalahnya, mereka ada di mana?"
Arby sangat kenal dengan Freya, meskipun beberapa tahun ini hubungan mereka berantakan.
"Negara Asia yang menjadi pilihan utama Freya, Jepang. Selanjutnya ... aku yakin Freya akan memilih Amerika dan Inggris untuk dua negara lainnya," ucap Arby.
"Kapan-kapan kita harus keliling benua Eropa," lanjutnya lagi. Arby tahu Freya sangat suka dengan benua Eropa, dan itu memang benar.
__ADS_1
"Ayo, kasihan Chiro."
☘️☘️☘️
Kelima perempuan muda itu menikmati hari-hari mereka di sana. Di sana, Nuna, Freya dan Rei yang paling bekerja keras untuk memperoleh uang. Nuna memang sudah menguras semua yang yang ada di rekeningnya, untuk kebutuhan dia dan menghilangkan jejak dari rekening itu. Jadi, mereka tidak akan bisa mengecek kapan terakhir kali Nuna menggunakan uangnya.
Freya juga begitu, tidak lagi menggunakan rekening lamanya. Dia memiliki langkah yang lebih unggul, karena memang sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, bahkan bertahun-tahun yang lalu.
Rei yang bukan dari golongan berada, juga bekerja keras. Untung saja Rei sudah terbiasa hidup susah.
Zilda dan Letta, masih menggunakan uang dari keluarga mereka. Sebelumnya mereka masing-masing memang ke Korea dan Australia, namun berubah pikiran saat keluarga mereka sudah pulang. Sama seperti Arby dan Ikmal, tidak mudah menemukan Freya bagi mereka.
"Nuna, Hai kamu Nuna, kan?" teriak seorang laki-laki. Nuna memandang pria yang memanggilnya itu.
"Aku Steve."
Nuna diam saja, siapa itu Steve?
"Ck, aku ini teman SMP kamu." Nuna tetap diam. Steve menghela nafas, melihat reaksi Nuna yang sepertinya memang tidak tahu siapa dia.
__ADS_1
"Kamu dan sahabat-sahabat kamu itu apa kabar?"
"Baik."
Steve memandang Nuna yang tentu saja terlihat lebih cantik. Tidak lama kemudian, Freya, Zilda, Letta dan Rei datang.
"Ya ampun, kalian masih saja bersama."
"Kamu siapa?" tanya Zilda.
Steve mendengkus, apa dia dulu kurang keren, sampai tidak ada yang mengingat dia.
"Kamu kuliah di negara ini?"
"Enggak, aku pindah ke Jepang, tapi sekarang lagi jalan-jalan saja. Gimana, Jangan-jangan keempat cowok itu juga ada di negara ini?"
Steve masih sangat ingat, bagaimana dulu kedua tim itu sering membuat kekacauan. Perempuan-perempuan di hadapan mereka ini, kecuali Rei, sering membocorkan ban mobil jemputan para pria.
"Kira-kira, undangan pernikahan dari siapa nih, yang duluan aku terima dari salah satu kalian dan cowok-cowok itu? Bukan kamu kan, Nuna?"
__ADS_1