
Pria berkaca mata tadi terus saja tersenyum. Dia sangat senang bertemu kembali dengan gadis yang dulu dia kenal saat SD.
"Dia siapa, sih?" tanya Freya.
Pertanyaan Freya itu membuat Nuna, Arby, dan Ikmal saling pandang. Freya selama ini tidak pernah banyak bertanya tentang masa lalunya, dan sebaiknya memang tidak boleh, kan.
"Teman SD, tapi bukan orang yang penting. Enggak penting untuk diingat, dan enggak penting untuk didekati," jawab Arby ketus.
Perkataan Arby yang terdengar singit itu membuat Freya mendelik tajam.
"Benar, orang dari masa lalu emang enggak penting. Enggak penting untuk dikenang, apalagi untuk dekat lagi. Pergilah kalian orang-orang dari masa lalu!"
Deg
Jantung mereka berdetak kencang. Freya telah mengeluarkan taring tajamnya, dan itu berlaku untuk mereka yang ada di sana.
Wajah Arby langsung manyun.
"Tapi ada juga kok, orang dari masa lalu yang memang harus selalu diingat, dan diharapkan kembali."
Wajah Freya sudah tidak enak dilihat.
"Iya, misalnya Mico dan aku."
__ADS_1
Mereka menyadari akan ada pertengkaran, Nuna langsung inisiatif mengambil langkah.
"Aku kangen sama Steve," jawabnya asal.
Mereka langsung menoleh pada Nuna, yang dia sendiri juga bingung, kenapa dia malah bicara seperti itu.
"Aku juga kangen sama Steve," jawab Nania, yang diangguki oleh Aruna, Rei, bahkan Freya.
Mico hanya menahan tawa melihat para pria itu yang seperti udang rebus. Arby terus melirik Ikmal, dan itu dilihat oleh Mico.
"Kenapa sih, Ar, curi-curi pandang terus ke Ikmal? Langsung saja sosor!"
Kalau tidak ada Chiro, ingin sekali Arby memukul wajah menyebalkan Mico itu. Para perempuan melihat Arby dan Ikmal dengan pandangan curiga. Nuna lalu melihat lagi Mico, yang kembali dibalas dengan kedipan mata oleh pria itu.
"Perempuan mana yang dimaksud? Laki-laki mana yang dimaksud?" tanya Mico sambil tersenyum.
"Apa Yaya (panggilan kesayangan Mico untuk Freya), apa Rei? Atau Nuna? Apa kamu dan Aruna?"
"Eh, jangan-jangan Vio?"
Mico semakin melebarkan senyumnya, membuat para pria itu kesal adalah hobinya, sejak dulu dan tidak pernah berhenti.
"Sudah, Mic!" Marga yang sangat tahu bagaimana sifat Mico, meminta pria itu berhenti, sebelum Arby kehilangan kendali.
__ADS_1
Mico melirik kesal pada Marva, dan mendengkus.
"Pria paling bodoh sedunia sudah berani bicara, sekarang?"
Mendengar perkataan itu, membuat Freya tertawa kencang. Dia mengacungkan kedua tangannya pada Mico, dan mereka berdua lalu melakukan tos. Entah siapa yang wajahnya paling merah sekarang, Marva atau Arby.
"Ya begitu tuh, kalau jadi pria terlalu bego! Bukannya bikin bahagia diri sendiri, malah ditinggal sama perempuan. Malu-maluin saja, apanya yang bisa dibanggain dari nama keluarga kalau begitu?"
Nuna terus melihat Mico, dan berpikir apa yang dikatakan Mico, ada benarnya juga. Nama keluarga belum tentu membuat dia bangga.
"Kamu benar, Mic," sahut Nuna.
"Iya dong, cantik."
Freya mendengkus mendengar Mico yang memanggil Nuna cantik.
"Jangan cemburu, Sayangku." Mico mencolek dagu Freya.
Mereka, kecuali Rei dan para anak kecil, merasakan alarm berbahaya.
Apa Freya dan Mico benar-benar memiliki hubungan? Apa Freya cemburu? Jangan sampai kesalahan yang terjadi dulu, kini terulang lagi.
Mereka saling curi pandang. Melirik Freya, Nuna, Arby dan Mico.
__ADS_1