
Mereka saat ini makan malam di salah satu restoran. Mencoba menikmati waktu santai mereka di tengah aktivitas yang padat.
Brug
Tubuh Freya terhuyung ke belakang saat menabrak seseorang.
Seperti Dejavu.
Mereka jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat mereka masih kelas satu SMA. Hanya saja saat itu tidak ada Rei.
Flashback On
Freya menabrak orang yang ada di hadapannya. Saat ini adalah ulang tahun Nuna, dan mereka merayakannya di salh satu restoran mahal. Tidak aneh bagi mereka bisa merayakannya di sana, karena mereka adalah anak orang kaya, meskipun Freya tidak seperti mereka yang sudah lama bekerja keras, menghemat, dan menabung.
"Eh, calon menantu."
Ucap salah satu dari orang dewasa yang ada di sana.
Freya dsn sahabat-sahabatnya menatap mereka, sebagian tentu saja mereka kenal.
Arby, Ikmal, Marcell dan Vian. Ada lagi anak muda lain yang tidak mereka kenal. Juga banyak orang dewasa, pria dan wanita, di antaranya adalah papa Nuna dan Elvira.
"Siapa yang calon menantu?" bisik Nania, tapi masih bisa di dengar.
"Mana aku tahu. Kamu kali, Nan."
"Amit-amit."
__ADS_1
"Kamu kali, Freya."
"Amit-amit kuadrat."
"Kamu kali, Run?"
"Amit-amit pangkat tiga."
"Kamu kali, Run?"
"Amit-amit pangkat tiga."
"Berarti Nuna," sahut Freya, Nania, dan Aruna kompak.
"Jangan menyumpahi aku seperti itu!"
Freya langsung melangkah maju, menyenggol pundak Arby dengan kencang dan mendengkus. Diikuti ketiga sahabatnya yang juga terlihat malas bertemu dengan mereka.
"Calon menantu? Memangnya mereka pikir, kita mau jadi bagian anggota keluarga mereka? Sok kenal sok dekat banget, sih!" ucap Freya nyaring
Nuna diam saja, apa jadinya kalau yang lain tahu, kalau papanya sendiri memiliki hubungan dengan salah satu perempuan yang ada di sana, dan dia adalah tantenya Ikmal.
Tidak
Nuna tidak mau Freya membencinya.
Nania dan Aruna juga diam saja, sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Hubungan mereka memang rumit, kalau dijabarkan dengan kata-kata, entah menghabiskan berapa banyak judul novel, dengan cerita yang beranak pinak.
Mereka melihat punggung ke empat gadis cantik itu yang berlalu, saling pandang.
"Pada akhirnya, dia tetap akan menjadi bagian dari anggota keluarga kita, kan?" ucap salah satu dari orang dewasa.
Arby, Ikmal, Marcell, Vian dan Marva saling pandang dengan pertanyaan.
Siapa, Dia yang dimaksud?
Tapi sebuah senyum tipis merekah di bibir Arby, tanpa sepengetahuan siapa pun.
Begitu juga dengan Marcell dan Vian, yang dalam hati menyimpan harapan besar.
Bian menggelangkan kepalanya.
Apa yang aku pikirkan, sih? Aku ini kan masih kelas dua SMA. Lagi pula, siapa yang aku harapkan? Aruna?
Ikmal yang terlihat tenang-tenang saja, tapi dalam hati berpikir. Jika seandainya salah satu dari mereka menjadi menantu di keluarga ini, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Hubungan mereka sudah lama tidak baik, bahkan sejak ke empat gadis itu masih kelas satu SMP.
"Jangan dipikirkan, saat ini kalian belajar saja yang benar."
Nuna menghela nafas. Sampai kapan dia akan menyembunyikan semua ini dari sahabat-sahabatnya? Tidak masalah kalau Nania dan Aruna membencinya, tapi tidak dengan Freya. Dia kembali teringat dengan papanya, yang tadi juga diam saja saat melihatnya.
Biarkan saja kami sama-sama pura-pura tidak mengenal. Mungkin dia malu memiliki anak seperti aku. Aku pun kalau, memiliki papa seperti dirinya!
Flashback Off
__ADS_1