Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
40 Buktikan


__ADS_3

Monic melamun dalam kamarnya. Dia masih saja bertanya dalam hati, ke mana perginya Steve?


Apa mungkin dia sudah menikah dengan orang lain?


Kenapa aku penasaran dengan keberadaan dan keadaanya saat ini?


Mungkin karena dulu Steve akan menghubunginya, setidaknya sekali dalam sehari. Tapi ini, sudah beberapa bukan pria itu tidak menghubunginya.


Ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Kenapa, Mal?"


"Jalan yuk, dari pada kamu ngurung diri di kamar terus."


Monic mengangguk, dan mereka lalu pergi berdua saja.


"Kamu lagi mikirin apa, Nun?"


"Enggak ada."


"Bohong banget. Kamu mikirin orang tua kamu?"


"Jangan tambah bikin bete, deh!"


Ikmal menghela nafas, dia tahu garis di hadapannya ini akan selalu kesal jika membahas kedua orang tuanya.


Mereka jalan-jalan ke taman yang tidak jauh dari apartemen. Di sana, banyak pasangan yang sedang bermesraan. Ada yang berpelukan, ada juga yang bahkan berciuman. Ikmal memalingkan wajahnya, merasa malu dengan adegan yang ada di hadapannya. Bukan hanya satu pasangan saja, tapi banyak.

__ADS_1


Dia melirik Nuna, yang terlihat biasa saja.


Apa Nuna juga sering melakukan itu? Apa yang lain juga begitu? Bagaimana pun juga, mereka kan sudah lama tinggal di luar negeri.


"Kenapa sih, Mal? Jangan-jangan kamu juga jadi kepengen ciuman, ya?" tanya Nuna asal.


Ikmal tersedak salivanya sendiri.


"Sama siapa? Sama kamu?"


"Sialan, ya sama pacar kamu, lah!"


"Masih jomblo, Nun."


"Mau aku carikan, banyak tuh dokter cantik di tempat kami."


"Lagian lihat orang ciuman, jadi salah tingkah gitu. Di sini mah sudah biasa, kali."


Dulu juga, waktu pertama kali Nuna melihat yang seperti ini, dia merasa malu sendiri. Tapi lama-lama, ya dia sudah biasa.


Ikmal tidak berani bertanya apakah Nuna sidah pernah berciuman di depan umum seperti itu. Memang bukan urusannya, tapi dia yakin, jika salah satu dari yang lainnya pernah, pasti saudara-saudaranya itu akan langsung marah.


"Enggak usah cerita ke yang lain, nanti pasti si Arby yang paling sewot." Nuna sepertinya tahu apa yang dipikirkan Ikmal.


Mereka tertawa pelan, sangat tahu bagaimana seorang Arby Erlangga Abraham yang cemburuan.


"Kamu sudah benar-benar bersahabat lagi dengan Freya, kan?"

__ADS_1


"Iya, dong. Aku tidak peduli dulu dia sebenci apa padaku. Dia akan tetap menjadi sahabatku, saudaraku, dan peri kecilku."


Peri kecil? Terdengar aneh bagi Ikmal.


"Kamu normal kan, Nun? Tidak mengalami penyimpangan?"


Plak


Nuna langsung memukul punggung Ikmal dengan kencang, membuat pria itu meringis. Pukulan itu memang sangat kuat dan membuat punggungnya berdenyut-denyut.


"Aku normal tahu, sama seperti yang lainnya."


"Buktikan, dong!"


"Maksudnya?"


Ikmal mendekatkan wajahnya ke arah Nuna. Mata mereka saling bertemu. Ikmal tidak langsung menjawab, dia hanya menelisik wajah cantik Nuna. Mengingat bagaimana wajah itu saat masih SD, lalu wajahnya saat SMP, kemudian wajahnya saat SMA, dan wajahnya yang sekarang.


Itu terjadi cukup lama. Nuna diam saja, menunggu Ikmal menjawab.


"Buktikan kalau kamu itu perempuan normal."


Wajah Nuna memerah, kesal dengan perkataan Ikmal. Apa dia terlihat seperti bukan cewek normal. Wajah Ikmal semakin mendekat.


"Mencari pacar, menikah, dan punya anak. Berbahagialah dengan kehidupan kamu!" Ikmal lalu memundurkan wajahnya, kembali duduk tegak.


Ikmal sialan, kenapa aku harus membuktikan itu.

__ADS_1


__ADS_2