
Hari ini Nuna kembali ke rumah sakit untuk menjemput Steve. Saat dia membuka pintu ruang rawat Steve, dilihatnya seorang dokter perempuan sedang bicara dengan pria itu.
Dokter itu adalah perempuan yang Nuna lihat di mall. Mereka terlihat akrab, memberikan sedikit cubitan di hati Nuna. Mungkin saja gadis itu sedang cemburu, melihat Steve dekat dengan perempuan lain, meski itu mungkin saja dokternya. Hubungan dokter dan pasien, bukan berarti tidak bisa menjadi hubungan sepasang kekasih, kan?
Di belakang Nuna, sudah berdiri pengawalnya, siapa lagi kalau bukan Freya, Nania, Aruna dan Rei. Mereka sudah berjanji akan menemani gadis itu ke rumah Steve, sekalian menjadi pelindung gadis itu kalau nanti keluarga Steve mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati Nuna.
Dokter perempuan itu melihat mereka berlima.
"Kalian yang ada di mall itu, kan?"
Freya langsung menoleh, karena perempuan itu memang tidak ada di mall saat itu.
Dokter itu lalu melihat Freya.
"Anda ... Dokter Naya, kan?"
__ADS_1
"Iya, Dokter mengenal saya?"
"Tidak secara langsung, tapi banyak dokter di sini yang mengenal Dokter Naya."
Dokter yang bernama Inggrid itu lalu menatap yang lain.
"Oh, jadi ini kelima dokter cantik yang mendirikan D'LIMA Klinik?"
D'LIMA Klinik memang sudah sangat terkenal di mata para dokter dari berbagai rumah sakit. Klinik yang didirikan untuk masyarakat menengah ke bawah namun dengan fasilitas kelas atas.
"Jadi, bagaimana kondisi Steve?" Bukan Nuna yang bertanya, tapi Freya. Nuna sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ayo kami antar kamu pulang."
Steve menggaruk tengkuknya, merasa aneh karena harus di antara oleh lima orang dokter sekaligus.
__ADS_1
"Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri."
Mereka akhir ya tiba juga di rumah Steve. Di sana, sahabat-sahabat Steve sudah menunggu kedatangan pria itu, bahkan tidak lama kemudian, Arby CS juga datang. Mereka mau datang bukannya Aleena apa, tapi karena ada perempuan-perempuan itu, juga agar mereka tidak lagi kecolongan, berpikir kalau Steve dan keluarganya baik, ternyata seperti musuh dalam selimut.
"Ayo kita ke halaman belakang saja. Semuanya sudah disiapkan di sana."
Nuna sedikit merasa lega karena ada Freya dan yang lain, jadi dia tidak merasa canggung saat berada di sana.
Papa Steve ternyata bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga. Mereka bicara dengan akrab. Freya memandangi keluarga Steve satu persatu. Dulu saat dengan keluarga Dika, dia hampir tidak pernah bertemu. Hanya satu kali saja saat mamanya Dika mengunjungi dirinya begitu sadar dari koma, jadi tidak ada kesempatan untuk menilai secara langsung.
Makanan yang disajikan benar-benar kesukaan mereka. Mama Steve terlihat sangat menyayangi pria itu, membuat Nuna ragu, apa benar Steve itu hanya anak angkat saja? Jangan-jangan dia bohong, hanya untuk menenangkan diri Nuna saja.
Steve melihat Nuna yang canggung saat disapa oleh keluarganya. Dia bisa memaklumi semuanya. Tentu saja tidak mudah bagi gadis itu membuka diri kembali. Kedekatan Nuna dengan keluarganya tentu saja membuat Steve senang, tapi juga galau.
Pria itu menghela nafas berat. Freya yang melihat itu, ikut-ikutan menghela nafas berat.
__ADS_1
Umur memang tidak ada yang tahu, tapi bagaimana kalau mereka dipisahkan oleh kematian? Apa Nuna bisa menahan semuanya, terluka lagi?
Semua ini benar-benar berat!