
Perkelahian akhirnya tak terelakkan. Acara akad itu menjadi kacau, padahal belum dimulai. Para tamu ada yang membubarkan diri, ada juga yang tetap bertahan untuk melihat. Anya dan Vanya juga ikut berkelahi, membela Freya yang akan ditampar oleh adiknya Dika. Para sepupu Dika juga dilawan oleh Marcell dan kawan-kawan. Arby berusaha melindungi Freya.
"Sayang, sudah kamu jangan ikut-ikutan, deh!"
"Apaan sih, jadi kamu mau membela mereka?"
"Enggak, lah. Tapi nanti kamu kenapa-kenapa. Kamu kan lagi hamil." Tapi Freya yang melihat rambut Rei dijambak dengan kencang langsung menarik orang yang menjambak itu dan menamparnya.
Keadaan sangat kacau. Petugas keamanan juga ikut melerai. Rambut sudah banyak yang rontok, kulit tercakar dan berdarah. Marva dan Agam mengusap ujung bibir mereka, merasa geram saat melihat Rei yang pipinya memar.
Salah satu perempuan yang melihat Freya, mendekati perempuan itu, ingin memukul perut Freya, mumpung tidak ada yang memperhatikan. Perempuan yang merasa iri dengan kehidupan perempuan yang begitu sempurna. Memiliki karir yang bagus, keluarga yang terpandang, juga ada pria seperti Arby di sisinya.
Perempuan itu melirik kanan kiri, merasa yakin kalau yang lain sedang sibuk dengan diri masing-masing. Baru saja mau melangkah, ada yang menabraknya hingga dia terjatuh.
Nuna main jambak-jambakan dengan Evelyn, bukan karena berebutan Dika, tapi karena Evelyn duluan yang menghina dirinya dan mulai bermain kasar. Sahabat Evelyn juga tidak tinggal diam, ada yang berkelahi dengan Nania dan Aruna. Kerabat Evelyn juga begitu, mereka saling membantu.
__ADS_1
Semai barang tidak lagi pada tempatnya. Meja dan kursi Sidah terbalik, makanan dan minum jatuh berserakan membuat lantai licin dan beberapa orang terpeleset dan mengotori tubuh mereka.
Freya yang ikut berkelahi, tapi juga tidak lupa untuk melindungi perutnya. Orang tua Dika dan Evelyn berteriak menyuruh menghentikan perkelahian.
"Nuna, kenapa kamu mengacaukan pernikahan anak saya. Apa kamu tidak terima ditinggalkan oleh Dika?" tanya mamanya.
"Justru aku bahagia dia menikah dengan perempuan lain. Dari pada diselingkuhi setelah menikah!"
"Bagus Nuna, manusia busuk kaya dia tidak perlu ditangisi. Masih gantengan juga Ikmal!" sahut Nania.
Dor
Suasana langsung tenang, mereka kaget karena mendengar suara letusan.
"Apa kamu sebegitu tidak laku ya, hingga mengganggu pernikahan anak saya?" tanya mama Evelyn.
__ADS_1
"Heh, perempuan tua! Nuna itu sangat laris manis. Banyak pria yang mendekati dirinya. Mau itu dokter, artis, atau pengacara. Lihat saja, anakmu saja dijodohkan, bukan karena memang ada pria yang tertarik dengannya, kan?" balas Nania.
Wajah mama Evelyn merah.
"Biarkan saja Nuna, mereka memang tidak pantas ditangisi. Sampah ya cocoknya sama tempat sampah!" ucap Rei.
"Heh, jangan sembarangan kalau bicara. Kamu saja jadi pelakor, kok. Aku tahu bagaimana kamu dan Vio! Kamu itu sudah menyakiti hati Vio, dasar tidak tahu diri. Sampah teriak sampah!" Kini wajah Rei yang merah padam.
Agam yang tidak terima penghinaan itu, ingin menampar orang itu, tapi langsung dicegah oleh Mico. Agam merasa kesal, kenapa sejak tadi pria itu selalu mencegah, tapi giliran ditonjok juga dia balas!
Dasar!
"Heh, kalau enggak tahu apa-apa enggak usah banyak bicara!" balas Aruna.
"Tahu tuh, sudah keriputan saja belagu. Awas entar suaminya cari daun muda!" lanjut Nania.
__ADS_1
Para pria menahan tawa, orang-orang itu tidak tahu saja, kalau mulut para perempuan itu tak semanis wajah mereka.