Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
22 Bertengkar lagi


__ADS_3

Nuna, atau yang sekarang dipanggil Monica, merasa lebih bahagia. Dia tidak peduli apalagi memikirkan orang tuanya, sama seperti orang tuanya yang tidak pernah peduli apalagi memikirkannya.


Apa sekarang mereka tahu bagaimana rasanya ditinggalkan? Aku rasa tidak. Mereka pasti malah lebih bahagia. Entah sekarang mama sudah memiliki suami ke berapa, dan papa pasti sudah menikah dengan tante Elvira.


Berkat Freya juga, yang tanpa gadis itu ingat dan sadari, kalau sekarang Nuna bisa mengambil jurusan kedokteran berkat Freya. Nuna yang sudah belajar tentang kedokteran sejak masih SD, bisa mendapatkan beasiswa. Namun jika Freya mau mengambil spesialis bedah dan psikiater, maka Nuna ingin menjadi dokter anak.


Tentu saja ini juga akibat pengaruh masa lalunya. Dia yang dulu, saat masih kecil ... saat sakit, tidak ada orang tua yang mendampinginya, selain pengasuh yaitu bi Sinta.


Dia ingin mengobati banyak anak, ingin dekat dengan anak-anak itu dan tidak membuat mereka takut dengan dokter. Padahal dulu dia sendiri selalu takut jika bertemu dengan dokter, apalagi jika disuntik. Tapi, dokter pribadinya, yang selalu menangani dia, sangat baik dan ramah.


Nuna dulu berpikir, kalau dokter itu adalah pahlawannya, apa mungkin juga cinta pertamanya?


Nuna terkekeh sendiri dengan pikiran itu saat ini.


Cinta pertama?

__ADS_1


Aku tidak akan pernah memiliki cinta pertama. Lihat saja bagaimana dengan papaku. Dia selalu saja terpaku dengan cinta masa lalunya. Apa perempuan itu cinta pertamanya? Tidak bisa melupakan cinta pertama, padahal dia sendiri sudah menikah dan memiliki anak!


Cih!


Aku tidak akan menjadi orang bodoh seperti itu. Cinta, bukannya membuat orang bahagia, kalah membuat orang lain menderita.


Di lain tempat


Sepasang makan suami istri sedang bertengkar hebat.


"Dia kan selama ini tinggal bersama kamu, bagaimana bisa dia menghilang di bawah hidung kamu? Dasar laki-laki bodoh."


"Halah, jangan selalu menyalahkan aku. Setidaknya aku tidak munafik seperti kamu. Kamu saja selalu sibuk pedekate dengan sang mantan dan keluarganya. Memangnya masih jaman?" ledeknya.


Mereka yang ada di sana, mendengar tanpa bicara. Seperti inikah kedua orang tua Nuna saat mereka bersama dulu? Pantas saja Nuna tidak betah di rumah.

__ADS_1


Ikmal dan Arby saling padang. Arby sibuk menimang Chiro, sedangkan yang lain tidak berani komentar.


Saat ini mereka sedang melakukan pertemuan. Bukan untuk membahas tentang perusahaan atau pernikahan siapa pun, tapi membahas tentang menghilangnya Nuna.


Semua keluarga besar itu dikumpulkan, untuk membentuk kelompok khusus yang akan mencari keberadaan Nuna dan Freya.


"Aku yakin Nuna pasti pergi bersama Freya. Freya itu seperti magnet bagi Nuna."


"Jangan-jangan mereka kabur dan menikah di negara lain?" celetuk Marcell.


Arby dan Ikmal melirik Marcell dengan ketus.


"Perbaiki kalimat kamu, Marcell. Kalimat kamu itu rancu, seolah mereka itu bukan perempuan normal."


"Ya, kali saja mereka berdua menikah diam-diam."

__ADS_1


Arby dan Ikmal langsung melempar Marcell dengan sendok. Tadinya Arby mau melempar Marcell dengan botol susu Chiro, tapi sayang botolnya, terlalu bagus.


"Aku akan ke Jepang, melanjutkan kuliah di sana," ucap Arby.


__ADS_2