Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
58 Bukan Yang Pertama


__ADS_3

"Mereka pacaran?" tanya Nania dengan suara pelan.


Mereka akhir-akhir ini memang sering melihat Dika yang menemui Nuna di rumah sakit. Pria berkacamata dan selalu terlihat rapih itu duduk di hadapan Nuna dengan senyuman yang menurut sebagian perempuan sangat manis.


Freya diam saja, namun jarinya mengetuk di dagunya yang lancip.


"Kalau memang mereka pacaran, bagus deh. Jadi Nuna tidak terus menutup diri dari pria."


"Aku pikir Nuna suka pada Ikmal."


Nania dan Aruna terus saja berkomentar, sedangkan Freya diam saja, begitu juga dengan Rei.


Mereka berempat diam-diam mengamati Nuna dan Dika.


"Kita harus menjaga Nuna baik-baik. Jangan sampai dia disakiti oleh pacar pertamanya," ucap Nania tegas, yang diangguki oleh Aruna.


"Freya, kenapa kamu sejak tadi diam saja?"


"Enggak apa. Aku cuma enggak mau nanti kalau mereka terlalu dekat, Nuna jadi enggak enak hati untuk menolak pria itu."

__ADS_1


"Iya juga, sih."


Memang di antara mereka berlima, hanya Nuna yang paling mengkhawatirkan menyangkut soal pria. Jika Nuna disakiti di awal hubungan dia dengan pria, maka bisa dipastikan semuanya akan berat untuk mengobatinya.


"Si Dika itu bukan playboy, kan?" tanya Rei yang sejak tadi diam saja.


"Aku sudah cari tahu. Dia tidak sedang menjalin hubungan apa pun dengan seorang perempuan atau beberapa perempuan. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Tapi dia banyak didekati oleh para perempuan, terutama para mahasiswinya."


"Kenapa?"


"Punya cowok yang ganteng dan kaya itu banyak makan ati. Kan kita juga tahu itu."


Mereka berempat sama-sama menghela nafas. Benar apa kata Aruna, lebih baik cowok yang biasa-biasa saja tapi bertanggung jawab dan setia, dari pada pria yang banyak plusnya, tapi banyak juga minusnya.


"Ya kali kita nyariin Nuna cowok jelek dan kere? Mana cocoklah sama Nuna yang cantik, dokter lagi!"

__ADS_1


"Itu si Steve ke mana sih? Sudah nyerah dia?"


Sementara para sahabatnya sibuk memikirkan masa depan Nuna, Nuna sendiri malah sibuk ngobrol dengan Dika. Dika terus saja menceritakan tentang masa kecil Nuna. Bagaimana dia selama ini sering memperhatikan Nuna diam-diam. Bukannya dia tidak berani mendekati Nuna, tapi sikap Nuna yang selalu membatasi diri dengan orang-orang di sekitarnya kecuali Freya, Arby dan Ikmal.


"Aku selalu nunggu kamu. Kamu dan yang lain tiba-tiba saja menghilang bersamaan. Hingga sampai lulus sekolah pun, kalian berempat tidak ada yang kembali. Sebenarnya kalian ke mana, sih?"


Nuna terdiam. Tentu saja mereka berempat sama-sama menghilang. Keadaan Freya yang saat itu sedang kritis, membuat Nuna sangat ketakutan akan kehilangan sahabat dan saudara baginya itu. Dia seperti bayang-bayang yang selalu saja mengikuti ke mana Freya berada, sampai harus pindah ke Jerman. Dia tidak memikirkan apa pun saat itu, yang penting baginya dia bisa tetap terus bersama Freya, peri kecilnya.


"Ada, kami hanya pergi ke suatu tempat." Dika melihat ada gurat kesedihan di wajah Nuna.


"Nuna, aku juga mau menjadi orang yang sangat dekat dengan kamu. Mau kah kamu menjadi kekasihku. Aku akan melamar kamu dan secepatnya kita menikah. Bagaimana?"


Nuna mengerjapkan matanya. Ini bukan lamaran pertama untuknya. Maksudnya, sebelumnya Steve memang sudah sering mengajak dia menikah. Tapi tiba-tiba saja pria itu menghilang tanpa jejak. Apa Dika juga akan seperti itu?


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya baru UP lagi. Selamat membaca🤗


__ADS_2