Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Aetheria #100


__ADS_3

Malam telah tiba, dan Altezza terus berjalan di antara pepohonan hutan wilayah paling Timur dari Negeri Lagarde. Suasana hutan yang begitu sunyi, hanya terdengar suara dari beberapa serangga yang biasa aktif di malam hari. Langkah kaki pengembara tidak terhenti, terus berjalan jauh, hingga pada akhirnya ia menemukan penghujung akhir hutan yang ia lewati.


Kedua iris mata hitam Altezza dapat menyaksikan adanya hamparan rumput hijau dan sebuah bukit kecil ketika sampai di tepi hutan tersebut. Berhenti sejenak untuk menghela napas, laki-laki itu kemudian berbicara sendiri dengan mengatakan, "seharusnya di balik bukit ini."


Langkah kembali ia jalani, dengan sangat antusias dan lebih cepat daripada sebelumnya. Altezza mendaki hamparan rumput yang ada pada bukit kecil yang ada di depannya, tanpa sedikitpun menghentikan langkah kakinya. Ketika sampai di puncak dari bukit itu, angin berhembus cukup kencang dan membuat berambut hitam dan jubah hitam milik Altezza melambai-lambai. Langkahnya seketika terhenti, dengan kedua iris matanya tampak membesar, serta senyuman lebar yang terukir, melihat pemandangan yang sungguh indah dari atas bukit yang saat ini ia pijak.


Jauh di depan sana terlihat gemerlap lampu dengan jumlah yang sangat banyak, persis hampir seperti taburan bintang di langit malam ini, hanya saja ini berada di darat. Sebuah kota yang tampak cukup besar dan luas, dengan pelabuhan besar di pesisirnya terlihat kecil dari kejauhan.


"Tidak salah lagi, ini Aetheria!" ujar Altezza dengan ekspresi senang yang tidak dapat ia bendung. Tidak ingin membuang waktu terlalu lama lagi, Altezza memutuskan untuk segera lanjut melangkah, dengan tujuan menghampiri kota tersebut.


Ketika berjalan menuruni bukit, Altezza menemukan jalanan pasir yang tampak lurus menuju ke Kota Aetheria. Pengembara laki-laki itupun berjalan di jalanan pasir, dan terus melangkah cepat menuju ke kota indah yang ada di depannya. Meski berada di bawah langit malam, jalanan pasir yang saat ini ia lalui tidaklah terlalu sepi. Beberapa kali Altezza berpapasan dengan kereta kuda pedagang yang tampak keluar dari Aetheria.


"Hei, pengembara! Apakah kau akan menuju ke Aetheria?" cetus seorang pria paruh baya, kusir dari sebuah kereta kuda barang yang berjalan tepat di belakang Altezza saat ini.


Altezza sedikit terkejut mendengar dirinya dipanggil. Ia menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan menjawab, "iya, tuan."


"Naiklah! Kebetulan kita memiliki tujuan yang sama," sahut pria berambut hitam itu, dan duduk di depan.


Mendengar tawaran tersebut, tentu ia tidak ingin menolak. Altezza menyempatkan untuk menundukkan sedikit kepalanya dan berkata, "terima kasih," sebelum kemudian dirinya naik ke atas kereta kuda melalui bagian belakang.

__ADS_1


Duduk tepat di belakang sang kusir yang sedang bekerja, Altezza diam di sana bersama dengan kotak-kotak kayu yang kebetulan dimuat di atas kereta kuda tersebut. Seekor kuda berwarna hitam yang dikendalikan oleh sang kusir perlahan mulai jalan, menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir itu, menuju ke Artheria yang sudah terlihat semakin mendekat.


"Waktu aku muda, aku juga seorang pengembara sepertimu," cetus pria paruh baya itu, membuka topik pembicaraan dengan Altezza, tanpa menoleh karena dirinya harus selalu fokus dalam mengendalikan kudanya.


"Yah, lebih tepatnya aku berkelana karena harus mengirimkan barang-barang dagangan ke berbagai tempat, sih," lanjut pria itu, kemudian tertawa kecil dengan sendirinya dan tersenyum. Ia tampak ramah, berdasarkan sikap, gerak-gerik, dan intonasi berbicaranya mencerminkan bahwa dirinya bukanlah orang yang jahat.


"Berarti anda pekerja keras sejak muda, ya ...? Hebat!" ujar Altezza, sembari menikmati tumpangannya di atas kereta kuda sederhana dan terbuat dari kayu itu.


Pria paruh baya itu sempat menoleh untuk melemparkan senyum kepada Altezza, sebelum kemudian pandangannya kembali tertuju ke depan.


"Mau bagaimanapun juga, kita tidak bisa hidup tanpa uang, bukan? Ekonomi adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia," ucap pria tersebut.


Ketika hendak melewati gerbang, tepat di depan gerbang terdapat antrean kereta kuda yang juga akan memasuki. Masing-masing dari mereka diperiksa oleh para penjaga yang ada di sana, memastikan keamanan, dan demi kenyamanan bersama.


"Ini dia, kita akan melewati pemeriksaan," ujar pria tersebut sembari tersenyum. Kereta kuda yang ia kendarai perlahan terus maju, sering antrean kereta kuda di depannya juga berjalan maju.


"Selamat malam, bisakah tujukkan identitas pedagang anda?" tanya seorang penjaga berjalan mendekati kereta kuda yang ditumpangi oleh Altezza dengan sebuah senjata tombak yang terus ia bawa.


Pria paruh baya itu meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya, dan kemudian menunjukkan sebuah kartu kepada penjaga tersebut. Kartu identitas itu diterima oleh si penjaga, dan kemudian diperiksa. Namun perhatian si penjaga lebih tertarik kepada sosok Altezza yang tampak duduk manis di belakang kusir.

__ADS_1


"Apakah pengembara itu bersamamu?" tanya si penjaga, melirik ke arah Altezza.


Pria paruh baya itu mengangguk dengan yakin, "dia bersamaku," jawabnya tanpa basa-basi.


Penjaga itu tampak mengangguk, mengembalikan kartu identitas dagang milik si pria sembari berkata, "baiklah, kalian boleh melintas."


"Terima kasih," ujar pria tersebut, menerima dan menyimpan kembali kartu identitas miliknya, sebelum kemudian kembali memacu kudanya untuk berjalan.


Ketika melintasi penjaga tersebut, pandangan si penjaga masih tidak bisa lepas menatap ke arah Altezza dengan tatapan bingung dan penasaran. Altezza sendiri menyadari hal tersebut, dan hanya menganggukkan kepala, tersenyum serta melambaikan sedikit satu tangannya.


Setelah kereta kuda tersebut melintas, melewati gerbang, dan masuk ke dalam kota. Si penjaga pertama masih berdiri di posisi yang sama, hanyut di dalam lamunannya, tampak seperti sedang berpikir.


"Hei, kau kenapa? Mengapa kau melamun? Apakah ada yang salah?" cetus penjaga lain, menghampiri penjaga pertama dan menyadarkannya dari lamunan.


"Ti-tidak," sahut penjaga pertama sedikit tersentak karena terkejut oleh temannya, dan lanjut berkata, "hanya saja ... aku merasa ... bingung, seperti pernah melihat ... atau mengetahui ... pengembara yang ikut bersama pedagang barusan."


Rekan si penjaga pertama tampak tertawa kecil dalam beberapa detik, sebelum akhirnya berpendapat, "sepertinya kau lelah."


"Lebih baik kembalilah ke pos, sebentar lagi waktu berjagamu habis, bukan? Mungkin karena itulah kau jadi halusinasi melihat orang-orang yang kau rasa pernah melihat atau mengetahuinya," lanjut si penjaga kedua.

__ADS_1


Penjaga pertama menghela napas panjang, "sepertinya kau benar," ucapnya kemudian.


__ADS_2